Value Chain Komoditas Holtikultural Muara Enim Dapat Perhatian Ekstra dari Tim Agribisnis Unsri

MUARAENIM,MEDIASRIWIJAYA – Kekayaan berbagai komoditas hortikultural Kabupaten Muara Enim, baik yang dihasikan dari daerah pegunungan di Semende dan dataran rendahnya, menjadi salah satu pasokan sayur mayur penting di Sumatera Selatan (Sumsel).

Kabupaten Muara Enim penghasil terbesar untuk cabe, bawang merah dan kentang. Namun sebagai pemasok besar hampir tiada rantai nilai yng ditambahkan dalam produk hasil pertaniannya. Kendala utama adalah minimnya pengetahuan para pelaku rantai pasok hortikutural di Muara Enim tentang pentingnya value chain atau rantai nilai dalam komditas tersebut. Universitas Sriwijaya (Unsri), melalui Program Studi Agribisnis yang langsung diketuai oleh Dr. Maryadi, M.Si dan Dr. Yulius, M.M. membantu Pemkab Muara Enim mengatasi persoalan tersebut.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultal Kabupaten Muara Enim memfasilitasi pihak Unsri dalam memberi induksi pengetahuan value chain hortikultural di Semende sejak 16 sampai 18 September 2021. Pembicara utama dan pakar value chain hortikultal Universitas Sriwijaya, Dr. Agustina Bidarti, S.P., M.Si. menjelaskan rencana aksi value chain hortikultural ini penting bagi aktor rantai pasok di Muara Enim agar ada nilai tambah dalam produk pertanian yang dihasilkan.

Tahap awal tindakan dengan melakukan pelathan pemetaan value chain. “Tindakan ini penting agar ada penyatuan pengetahuan para pelaku utama rantai nilai, terutama di tingkat produsen, petani maupun usahatani tentang produksi, pemrosesan pascapanen dan pemikiran rantai nilai”, ujar Dr. Agustina Bidarti,” Jumat (17/9).

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultural Muara Enim, Ir. Ulil Amri atas nama Bupati Muara Enim menyatakan terima kasih besar atas materi dan bimbingan yang diberikan tim pelatihan Unsri pada petani dan pelaku rantai pasok hortikultural di Muara Enim. “Saya melihat fokus utama pada aktivitas yang diberikan oleh para dosen Unsri terhadap sejumlah 50 orang para petani dan pelaku rantai pasok di Muara Enim sangat luar biasa,” katanya.

Menurutnya, para dosen Unsri berusaha agar para petani selaku produsen dan aktor rantai pasok selaku penyalur tanaman hortikultural, seperti cabe, bawang merah dan kentang dapat membedakan diri dari para pesaing dalam melayani peluang pasar yang ada. “Jadi petani dan pelaku rantai pasok hortikultural ini dapat menambah nilai lebih tinggi pada tanaman hortikultural yang dihasilkan. Selama ini mungkin pihak Pemkab Muara Enim melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultural belum terpikirkan untuk menambah nilai tambah tamanam sayur mayur yang diproduksi petani dan dipasarkan aktor rantai pasok lainnya,” katanya. “Melalui kesempatan ini pihaknya berusaha menanamkan pentingnya value chain ini terhadap sayur mayur hortikultural yang dihasilkan petani Muara Enim”, tambah narasumber lain Dr. Nurillah Elsya Putri.

Menurut Dr. Agustina Bidarti, “inti aktivitas kegiatan induksi yang didanai oleh IFAD (International Fund for Agricultural Development) adalah memperkuat value chain petani dan aktor lain produksi sayur mayur di Muara Enim. Dalam memperkuat value chain ini perlu ada kerja bersama para pelaku mulai petani selaku produsen maupun penyalur sebagai pembisnis sayur mayur di Muara Enim”.

Melalui kegiatan pelatihan ini, mereka harus ditingkat keterampilan bisnis serta informasi tepat dan kualitas baik tentang semua fase di rantai nilai value chain hortikultural tersebut. “Jadi kami memcoba memperkuat pemahaman dan pengetahuan para pelaku rantai pasok ini mengenai pasar, akses pasar dan value chain komoditas sayur mayur Muara Enim yang bernilai tinggi. Sekaligus petani dan para pelaku rantai pasok hortikultural di Muara Enim mulai dari hulu sampai hilir dapat membangun komitmen berkelanjutan tentang bekerja bersama dalam membangun value chain di Muara Enim”, katanya Dr. Agustina Bidarti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *