Perkuat Komitmen ESG, Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju bersama Project R&P Sumatera Tanam 7.500 Bibit Pelestarian Mangrove
SUNGSANG, MEDIASRIWIJAYA – Dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia, upaya menjaga kelestarian ekosistem pesisir terus menjadi perhatian berbagai pihak. Di tengah tantangan perubahan iklim, hutan mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung alami pantai dari abrasi, penyerap karbon, sekaligus penopang kehidupan masyarakat pesisir melalui potensi pengembangan ekowisata yang berkelanjutan.
Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian lingkungan, Pertamina Patra Niaga Project R& P Sumatera terus melakukan monitoring penanaman mangrove di kawasan Perhutanan Sosial Hutan Desa Sungsang IV, Banyuasin. Kegiatan ini bertujuan memastikan mangrove yang telah ditanam tumbuh dengan baik sekaligus mendukung pengembangan kawasan menuju destinasi ekowisata berbasis konservasi pada tahun 2026.

Program penanaman mangrove ini telah berjalan sejak tahun 2023. Hingga saat ini, sebanyak 21.000 batang mangrove telah ditanam di kawasan Perhutanan Sosial Hutan Desa Sungsang IV sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian pesisir Banyuasin.
Senior Project Manager RDMP Project Sumatera, Muhammad Rahmad mengatakan bahwa pelestarian mangrove merupakan bagian dari upaya perusahaan menjaga keseimbangan antara operasional industri dan keberlanjutan lingkungan.”Melalui monitoring berkala, kami ingin memastikan mangrove yang telah ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat. Keberlanjutan bukan hanya tentang menjaga alam hari ini, tetapi juga mewariskan lingkungan yang lebih baik untuk masa depan,” ujar Rahmad.

Ia menambahkan, kawasan Hutan Desa Sungsang IV memiliki nilai ekologis yang penting sebagai habitat berbagai flora dan fauna sekaligus benteng alami pesisir dalam menghadapi abrasi dan dampak perubahan iklim. Keberadaan mangrove di kawasan ini juga berkontribusi dalam penyerapan karbon yang mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia 2060.
Ketua LDPHD Sungsang IV, Abdullah Jabtan, menyampaikan bahwa program yang dijalankan bersama Pertamina Patra Niaga merupakan wujud komitmen jangka panjang dalam menjaga keberlanjutan kawasan pesisir dan memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan hutan desa. “Melalui Program Pengelolaan Biodiversity, kami bersama Pertamina Patra Niaga terus melaksanakan rehabilitasi dan pengelolaan kawasan mangrove secara berkelanjutan. Program ini mencakup rehabilitasi kawasan mangrove, hingga pengembangan konsep ekowisata berbasis konservasi. Kami berharap upaya yang dilakukan secara konsisten ini dapat menjaga fungsi ekologis kawasan sekaligus menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir di masa mendatang,” ungkap Abdullah.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Plaju, Siti Fauzia, mengatakan bahwa pengelolaan mangrove tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga mendorong terciptanya nilai tambah bagi masyarakat sekitar. “Kami berharap kawasan ini dapat berkembang menjadi ruang edukasi, konservasi, dan ekowisata yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ketika lingkungan tetap terjaga dan masyarakat ikut merasakan dampak positifnya, maka keberlanjutan akan tumbuh secara alami” kata Siti.
Program ini sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan Pertamina Patra Niaga. Selain memberikan manfaat lingkungan, pengembangan kawasan mangrove juga diharapkan menciptakan nilai sosial dan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Monitoring yang dilakukan secara berkala menjadi bagian penting dalam memastikan keberhasilan program konservasi sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, tujuan ke-14 tentang Ekosistem Lautan, dan tujuan ke-15 tentang Ekosistem Daratan.
Ke depan, Perhutanan Sosial Hutan Desa Sungsang IV diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi ekowisata berbasis konservasi yang tidak hanya menjadi ruang pembelajaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. (*)




