OPINI

Merajut Asa Tertunda, Kolaborasi Perempuan Hebat Indonesia (Nobar & Diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes)

Teks foto: Para narasumber.

MOMEN, obsesi dan kolaborasi. Tiga kata inilah yang terlihat pada acara yang digelar, Jumat (6 Februari 2026) bertempat di Gedung IDN Times Lantai 3 Jalan Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta.

Selintas, seperti tak ada yang istimewa dengan acara ini. Namun saat waktu menunjukkan detik-detik acara dimulai, maka mulai tampak bahwa acara bukan sekadar seremonial. Momen Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2026 menjadi salah satu alasan digelar acara ini. Namun di balik itu, ada ASA (harapan) dan obsesi besar yang menjadi benang merah kegiatan ini. Upaya berkolaborasi merajut harapan yang tertunda dari seorang Roehana Koeddoes.

Perwujudan kolaborasi para perempuan hebat Indonesia terefleksi dalam kegiatan nonton bareng (Nobar) dan Diskusi dengan tema “3 Wajah Roehana Koeddoes”. Kerja bareng Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dan IDN Times, tak hanya menghadirkan para parasumber diskusi ini, tokoh perempuan yang bisa menjadi inspirasi para perempuan Indonesia masa kini yaitu Menteri Komunikasi dan Digital  (Komdigi) RI, Meutya Hafid, dan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar juga dihadirkan. Bahkan mantan presenter yang namanya cukup dikenal dengan penampilannya yang eksentrik, Najwa Shihab menjadi bagian penting dari gelaran acara ini. Namun yang paling berperan dalam mengendalikan situasi “hangat namun berkelas”ini adalah sang moderator, Uni Lubis. Wanita dengan penampilan sederhana namun ketika berbicara dengan suara menggema seolah menyeret hadirin untuk larut dengan apa yang akan digapai setelah acara ini.

Teks foto:Uni Lubis

Teks foto: Menteri Komdigi RI, Muetya Hafid saat memberikan pernyataan.

Meski tidak secara gamblang menyebutkan, namun Uni Lubis melalui pernyataannya mencoba mengkilas balik seperti apa sosok tokoh sentral dalam kegiatan ini. “Kenapa kita ambil topik ini, Roehana adalah penulis perempuan pertama di Indonesia, hidup di era Raden Ajeng Kartini bahkan sering bertukar surat menyurat namun kalah ngetop dengan RA Kartini.  Ibu Roehana adalah pendidik yang mengajar perempuan-perempuan di Sumatera Barat tepatnya di Koto Gadang. Selanjutnya, beliau mendirikan koran perempuan pertama di Indonesia “Soenting Melajoe”. Awalnya menulis kolom lalu mendirikan koran sendiri. Ini luar biasa. 1911 Roehana sudah melakukan pion perempuan pada saat itu. Sekadar perbandingan dengan masa sekarang, ya kalau sekarang multitasking dan multiskilling juga sudah biasa.,” ujar Uni Lubis, Pimpinan Redaksi (Pimred) IDN Times, saat prolog pada pembukaan acara nobar dan diskusi ini.

Sekadar ilustrasi, bahwa sosok sentral Roehana Koeddoes yang tidak saja dilirik oleh penggagas acara sebagai seorang penulis, yang disinkronkan dengan menghadirkan tokoh perempuan jurnalis yang kini menduduki posisi sebagai  Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, namun keberadaan Yayasan Amai Setia juga menjadi bagian dari gagasan panitia acara dengan menghadirkan  Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar. “Ide cerdas dengan mengkolaborasikan peran Menteri Komdigi, sosok perempuan inspiratif saat ini dan Wamen Ekonomi Kreatif  yang juga sosok perempuan usia belia namun sudah menduduki posisi strategis di pemerintahan RI. Dua sisi keberadaan Roehana Koeddoes sebagai jurnalis dan pendiri Yayasan Amai Setia, direfleksikan dengan dua narasumber Menteri dan Wamen ini,” ujar salah seorang peserta, Dwitri Kartini, yang datang dari Sumatera Selatan (Palembang) khusus untuk menghadiri acara Nobar dan Diskusi ini.

Teks foto: Wamen Ekonomi Kreatif, Irene Umar saat memberikan pernyataan. 

Selanjutnya, Trini Tambu (Ketua Yayasan Amai Setia) yang merupakan perwakilan keluarga besar dari Roehana Koeddoes pun secara tersirat namun sudah tersurat membacakan apa yang menjadi obsesi leluhurnya (Roehana Koeddoes) “Kaum wanita harus dimajukan, mengikuti aliran zaman. Bangsa kita masih terbelakang dalam kemajuan hidup. Untuk itu, tidak dapat tidak, kaum Wanita pun harus memasuki sekolah seperti kaum pria. Karena dengan sekolahlah ilmu pengetahuan di peroleh”. Roehana Koeddoes, 1911.

“Ini bukan sebuah opini tapi sebuah manifes atau perubahan pemikiran bahwa wanita juga perlu diedukasi untuk membangun bangsa. Ini pemikiran Roehana. Ia dididik dalam keluarga yang memahami betapa pentingnya edukasi buat anak perempuan. Beliau sangat fasih dengan bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Visi yang dikukuhkan beliau bermula dari halaman rumahnya dengan mendirikan Yayasan Amai Setia. 1911 tidak hanya membaca dan menulis tapi dengan membuat kerajinan dengan membantu perempuan mencari penghasilan. Jual hasil kerajinan untuk membantu keluarga,” kata Trini Tambu, wanita yang menjadi bagian dari sejarah keberadaan Roehana Koeddoes.

Teks foto: Trini Tambu sekilas memaparkan keberadaan Roehana Koeddoes.

Menteri Muetya Hafid yang hadir dengan prolog bahwa dirinya dengan berbagai pengalaman jurnalis  seperti meliput di Aceh dan di Timur Tengah (Irak, daerah konflik ketika itu, red). “Saya sebagai pasukan tempur, yakni sebagai wartawan, saya tidak membayangkan kenapa seorang perempuan dikirim ke daerah konflik Irak. Ketika disandera, dicemooh tuh kan perempuan!, tapi kalau laki-laki tak terlalu heboh sepertinya. Faktor disandera saja sudah jadi perdebatan karena wartawan yang dikirim ke daerah konflik adalah perempuan dan itu adalah pengalaman saya,” kata Meutya yang juga pada kesempatan ini menyebut bahwa dalam dunia media massa dan jurnalis, bahwa posisi pimpinan tertinggi di redaksi yaitu Pimpred (Pimpinan Redaksi). “Bahwa itu posisi menjadi pimpred adalah impian kita semua. Itu luar biasa dan kenapa jadi impian karena jarang perempuan jadi pimpred bahkan sampai saat ini. Meski titik balik kita di 1911 namun  kalau lihat catatan sekarang angka perempuan baru 25 persen yang berprofesi sebagai jurnalis. Meski perjalanan sudah panjang namun menurut saya masih harus bekerja keras untuk mengerakkan dan mewujudkan lebih dari itu. Dan itu PR kita yang masih belum pada fase cukup membuat kita agak santai sedikit. Kita masih perlu kerja keras untuk mewujudkan itu,” katanya.

Wanita dengan penampilan bersahaja ini pun mengemukakan harapannya.  “Harapan saya dengan situasi informasi Komdigi dengan digitalisasi yang memberi ruang banyak termasuk perempuan dibanding ketika Ibu Roehana membuat koran Soenting Melajoe yang begitu sulit prosesnya. Sekarang semua perempuan bisa menuangkan idenya. Namun dengan kondisi sekarang bahwa new media saat ini dengan keberadaan medsos yang mendapat ruang bagi masyarakat banyak dengan karya yang tidak mendidik dan merusak mental masyarakat, ini menjadi sebuah tantangan tersendiri,” tambahnya dengan nada prihatin.

Teks foto: Foto bersama peserta diskusi dan nobar “3 Wajah Roehana Koeddoes.

Adalah Najwa Shihab, presenter perempuan yang cukup menyita perhatian publik Indonesia bahkan dunia dengan kiprahnya yang sudah mewawancarai dan bertemu dengan tokoh-tokoh dunia seperti Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad dan yang lainnya. Kehadirannya juga menjadi bagian penting dari obsesi para penggagas acara. “Setiap zaman  selalu punya cara untuk membuka perempuan dan setiap zaman ada juga perempuan yang menemukan cara untuk bersuara. Contohnya Roehana Koeddoes, 100 tahun lalu Roehana menulis dan menarik dia membuka ruang sendiri dan tidak menunggu ruang publik itu datang. Ia menuntut dan hadir di sana. Pernyataan ini sungguh sangat menginspiratif bagi para perempuan,” kata Najwa.

Pernyataan pendek dari Moderator (Uni Lubis) di awal acara, bahwa “Roehana Koeddoes kalah ngetop dengan RA Kartini, tokoh emansipasi wanita Indonesia yang dikenang tiap tanggal 21 April” bukan sekadar pernyataan  sebagai bagian dari mengisi acara. Namun ini menjadi bagian dari pernyataan Ketua Dewan Pers Indonesia yang juga dihadirkan pada acara ini. Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers menyinggung sekilas, menggambarkan bagaimana posisi Roehana dengan dibandingkan dengan RA Kartini. ”Peran pemerintahan  Belanda (yang waktu itu menjajah Indonesia, red), Hirarkies feodalistik di Jawa dengan dibandingkan dengan di Sumatera juga bisa jadi  penyebab adanya kesenjangan penerimaan keberadaan Roehana Koeddoes dibanding dengan RA Kartini,” ujarnya.

Para narasumber, selain  Najwa Shihab Jurnalis dan Pendiri Narasi, Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers, Wahyu Dyatmika (Ketua Umum AMSI), Trini Tambu (Ketua Yayasan Amai Setia, serta Khairiah Lubis Ketua Umum FJPI, yang masing-masing diberikan ruang untuk memberikan pernyataan mengenak sosok Roehana Koeddoes.

Uni Lubis tak luput memperkaya suasana hangat dengan menghadirkan para tokoh perempuan  pimpinan redaksi dan industri media massa online di Indonesia. Seperti Ninuk Mardiana Pambudy, mantan Pimpred Perempuan di Harian Kompas, Redaksi (Editor-in-Chief) dan salah satu pendiri Magdalene.co., serta berbagai perwakilan organisasi dan media massa di Indonesia, serta organisasi perempuan seperti FJPI. Kehadiran Dra. Halida Nuriah Hatta, M.A. anak bungsu dari tiga putri Proklamator Kemerdekaan RI dan Wakil Presiden Indonesia pertama, Mohammad Hatta dan istrinya Rahmi Hatta juga menjadi momen bersejarah gelaran acara ini yang merupakan cikal bakal perwujudan obsesi merajut harapan yang tertunda dari seorang Roehana Koeddoes.

Fim Dokumenter 1 jam durasi dan sudah diedit  menjadi 30 menit, yang dibuat TVRI Sumatera Barat (Sumbar) menjadi tontonan para peserta diskusi. Film yang sengaja disuguhkan pada kesempatan ini adalah bagian dari upaya penggagas acara bahwa rangkaian mewujudkan keinginan menghimpun buku, tulisan, literatur atau apa pun tentang sosok Roehana Koeddoes adalah sebuah harapan.

Mengutip apa yang disampaikan Roehana, “Kita hikmatkan Soenting Melajoe”, suatu benih tanaman yang kelak di kemudian hari akan menjadi benih tanaman yang membuahkan tanaman yang lezat yang akan dinikmati anak cucu kita,” ini adalah sebuah harapan (asa).

Berangkat dari harapan seorang Roehana Koeddoes yang sempat tertunda, kolaborasi penggagas acara Nobar dan Diskusi adalah awal dari sebuah obsesi besar. Mensejajarkan perjuangan Roehana Koeddoes dengan tokoh perempuan lain di Indonesia, menempatkan posisi almarhumah Roehana Koeddoes di sebaik-baiknya tempat sebagai salah satu tokoh nasional perempuan Indonesia yang layak dikenang terutama oleh seluruh kaum perempuan Indonesia.

Semangat, bravo buat penggagas acara, semoga niat baik ini adalah bagian dari perwujudan kecintaan kalian terhadap dunia jurnalis dan bagian dari cara menghargai jasa para pahlawan terkhusus pahlawan perempuan Indonesia. (saftarina)

 

Sekilas tentang Roehana Koeddoes

Roehana Koeddoes (1884–1972) adalah wartawati pertama Indonesia, pendidik, dan tokoh emansipasi perempuan asal Koto Gadang, Sumatera Barat. Pada 1911, ia mendirikan sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia. Ia memelopori pers perempuan melalui surat kabar Soenting Melajoe (1912) untuk menyuarakan kesetaraan dan melawan kolonialisme

Berikut adalah kilas balik sejarah perjuangan Roehana Koeddoes:

  • Latar Belakang: Lahir pada 20 Desember 1884, Roehana adalah sosok cerdas yang sezaman dengan Kartini. Ia merupakan kakak tiri dari Perdana Menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir.
  • Pendidikan & Keterampilan: Roehana mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang (1911) untuk mendidik perempuan pribumi membaca, menulis, keterampilan rumah tangga, dan kerajinan tangan.
  • Jurnalisme & Media: Sebagai wartawati pertama, ia mendirikan surat kabar perempuan pertama di Minangkabau, Soenting Melajoe. Ia memimpin redaksi dan menulis artikel yang mendorong perempuan untuk mandiri, berpendidikan, dan melawan ketidakadilan Belanda.
  • Perjuangan Politik: Roehana juga terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dengan menyembunyikan senjata dalam sayuran dan buah untuk para gerilyawan.
  • Penghargaan: Pemerintah Indonesia menganugerahi Roehana Koeddoes gelar Pahlawan Nasional pada 8 November 2019 atas dedikasinya dalam pendidikan dan pers.

Roehana Koeddoes berfokus pada emansipasi melalui pendidikan, percaya bahwa perempuan harus mandiri dan berilmu untuk berperan aktif dalam kehidupan social. (dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *