Generasi Z Hati-hati Doom Scrolling
Opini oleh Galih Priambodo, S.Pd.,M.I.Kom (Dosen Ilmu Komunikasi Unsri) dan Zika Zabila (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsri)
Media sosial telah menjadi bagian dari gaya hidup mahluk sosial, secara langsung maupun tidak langsung media sosial dapat mengubah cara manusia berinteraksi dan mengekspresikan diri. Generasi Z yang lahir pada rentang tahun 1997– 2012, merupakan generasi yang akrab dengan internet dan perangkat digital. Ketersediaan informasi yang masif dan aksesibilitas yang tinggi menyebabkan generasi ini terbiasa hidup dalam dunia yang terkoneksi secara real-time. Melihat seluruh informasi dalam genggaman menjadikan kemudahan dalam mendapat semua informasi. Kemudahan ini juga menghadirkan tantangan baru berupa fenomena perilaku yang mengarah pada masalah psikologi, terutama dalam hal pengelolaan emosi dan kesehatan mental akibat paparan konten berlebihan.
Salah satu fenomena yang muncul dari penggunaan media sosial secara intens adalah Doom Scrolling, yaitu kebiasaan menggeser konten-konten negatif secara terus-menerus, khususnya dalam waktu luang atau sebelum tidur. Doom scrolling menjadi perhatian dalam berbagai studi karena diduga memberikan dampak buruk terhadap kesehatan mental, seperti peningkatan stres, kecemasan, bahkan kelelahan psikologis (Riehm et al., 2020; Sharma et al., 2022). Generasi Z sangat rentan terhadap perilaku ini karena generasi ini cenderung memiliki FOMO (fear of missing out), serta kebutuhan untuk tetap terhubung dan mengetahui perkembangan terbaru, termasuk berita-berita yang mengandung unsur negatif. Dalam masa krisis seperti pandemi COVID-19, paparan informasi negatif menjadi sangat masif dan intensif, sehingga memperkuat kecenderungan doom scrolling. Studi Huang dan Liu (2021), serta Keles, McCrae, dan Grealish (2020), menggambarkan bahwa konsumsi informasi negatif secara berlebihan dapat memicu perasaan cemas, panik, bahkan gejala depresi ringan hingga berat di kalangan remaja dan dewasa muda. Dhir et al. (2021) juga menyatakan bahwa penggunaan media sosial secara kompulsif memiliki hubungan signifikan dengan penurunan kesejahteraan psikologis.
Hasil penyebaran kuesioner daring oleh mahasiswa ilkom unsri, yang telah diisi 32 responden dari kalangan Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial, menunjukkan bahwa lebih dari 75% responden mengaku melakukan doom scrolling hampir setiap hari, dan sebagian besar dari mereka melakukannya selama 15–35 menit, satu kali mereka membuka media sosial. Sebagian besar responden menyatakan bahwa kebiasaan ini terkadang tidak direncanakan dan spontan saat membuka media sosial. Seolah terbawa untuk selalu menggeser informasi yang ditampilkan dan mulai menikmati informasi yang memiliki kecenderungan negatif. Sebagian diantara mereka mengakui muncul rasa cemas, stres, atau kehilangan semangat setelah doom scrolling, tetapi mereka tetap melanjutkan kebiasaan doom scrolling. Alasan yang paling dominan adalah untuk mengusir rasa bosan dan mencari informasi. Menariknya, sebagian besar responden mengaku pernah mencoba untuk mengurangi doom scrolling tetapi gagal. Sebagian besar responden menyadari dampak negatif dari perilaku tersebut, namun belum mampu mengontrolnya secara efektif. Beberapa diantaranya mencoba melakukan strategi pengalihan, namun banyak pula yang tetap melanjutkan doom scrolling meski merasa tidak nyaman. Hal ini menandakan bahwa perilaku doom scrolling bukan hanya persoalan penggunaan media, tetapi juga menyangkut aspek emosional, kognitif, dan sosial.
Doom scrolling merupakan bagian dari dinamika psikologi komunikasi di era digital. Paparan konten negatif yang terus-menerus dapat memicu efek psikologis yang berulang dan memperkuat pola perilaku yang maladaptif. Dalam konteks teori Uses and Gratifications dan emotional contagion, pandangan ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menyediakan informasi, tetapi juga membentuk dan memperkuat kondisi emosional penggunanya. Implikasi dari pandangan ini adalah perlunya peningkatan literasi digital emosional di kalangan Generasi Z. Pengguna media sosial perlu diberi pemahaman tentang cara mengenali dan mengelola paparan konten negatif. Pendidik, konselor, dan pembuat kebijakan juga dapat mengambil peran dalam membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya kesehatan mental dalam menggunakan media digital terutama pengguna media sosial.




