HeadlineHukum&KriminalPalembangSUMSEL

Angkut Batubara tanpa Surat Resmi, 8 Truk Diamankan Polda Sumsel

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – 8 orang sopir, 1 orang pemilik kendaraan, 8 unit mobil truk dan 120 ton batubara, berhasil diamankan Polda Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal ini Penyidik Unit 1 Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus, karena kedapatan membawa mengangkut batubara ilegal tanpa dilengkapi dokumen sah.

Mereka ditangkap berawal dari informasi masyarakat ke pihak polisi melalui Aplikasi Bantuan Polisi (Banpol). Yang sempat viral jika jalanan desa mereka rusak dan macet karena banyaknya kendaraan bertonase besar yang melintas. “Penangkapan ini berdasarkan informasi yang masuk ke Banpol, berawal kemacetan yang panjang yang berkapasitas 20 ton truk berkapasitas 10 ton, di TKP kita mengamankan 8 kendaraan terdiri dari kontainer 20 ton sebanyak 4 unit, dan truk kapasitas 10 ton sebanyak 4 unit,” ungkap Kombes Pol Agung M, didampingi Kasubdit IV Tipidter, AKBP Tito Dani dan Kasubbit Pemas, AKBP Yenni, Senin (8/5).

8 sopir yang diamankan yaitu AS (32), BS (36), MA (29), UE (29), ID (31), YP (31), SP (39), AA (27) dan pemilik kendaraan berinisial BB (45). Mereka ditangkap di kawasan Jalan Lintas Sumatera Desa Batu Kuning Kecamatan Baturaja Barat Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Provinsi Sumsel, Kamis (4/5) pukul 02.15 Wib. “8 kendaraan ini tidak dilengkapi IUP atau Izin Usaha Pertambangan, kita dalami ada 9 tersangka terdiri 8 orang sopir dan 1 orang pemilik kendaraan,” ujarnya.

Dari hasil penyelidikan petugas di lapangan pada kendaraan bermuatan besar yang melintas ternyata truk atau fuso yang melintas mengangkut batubara ilegal. Dimana diketahui ke delapan truk mengangkut batubara dari tambang  rakyat atau tambang Ilegal tanpa memiliki IUP atau izin. 8 truk ini rata- rata mengangkut 10 hingga 20 ton. Selain mengamankan 9 orang dan 8 truk, petugas juga menyita 120 ton batubara. “Modusnya jelas para pelaku mengangkut batubara yang diduga kuat tidak memiliki izin IUP,” jelas Kombes Pol Agung.

8 truk ini diamankan karena tidak ada izin. Bahkan surat jalan yang mereka miliki dari 3 perusahaan ternyata bodong tidak ada izinnya. Yaitu, Surat Jalan dari Mantap 88. Surat Jalan dari CV Gumilang Sakti Perkasa dan Surat Jalan AJ, yang kini masih pengalaman pihak kepolisian.

Selanjutnya, Dirreskrimsus mengatakan jika pihaknya juga telah melakukan pendalaman terhadap stokfile tempat pengambilan batubara tersebut dan perusahaan -perusahaan itu adalah milik atau masuk dalam IUP milik PTBA dan Manambang di Muara Enim. Dan rencananya batubara ini akan dibawa keluar Sumsel yaitu, Lampung dan daerah Cilegon. “Mereka melakukan penambangan ini tanpa izin dari pemilik IUP (PTBA dan Manambang – red), rencananya batubara ini akan dikirim ke beberapa tempat salah satunya lampung dan Cilegon,” terangnya.

Lain lagi pengakuan tersangka Ade, mengaku dirinya tidak tahu mengetahui jika surat jalan tersebut bodong termasuk asal muasa Surat Jalan tersebut. “Surat Jalan itu sudah ada di mobil dan saya tidak tau siapa yang menaruh di situ karena saya sopir cadangan dan saya tidak mengambil surat itu di rumah makan, sekali jalan saya dapat Rp 700 ribu.,” aku tersangka.

Ade mengaku sekali jalan dia diberikan upah jalan sebanyak Rp 700 ribu.

Dikatakannya bahwa keuntungan perton saat mengakut didapati untung sebesar Rp 450 ribu dan jika ditotal bisa mencapai Rp 9 juta. “Barang bukti yang diamankan ini sebanyak 120 ton jadi kerugian negara per satu kali jalan ini mencapai Rp 500 juta,” tutupnya.

Akibat pembuatan para tersangka dijerat dengan Pasal 161 UU RI No 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU No 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp 100 miliar. (Ly).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *