Webinar Himaprodi Psikologi Unika Musi Charitas: ”Memahami Pentingnya Peran Kecerdasan Emosional dalam Dunia Akademis, Dunia Organisasi dan Dunia Kerja”

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Kecerdasan emosional (emotional quotient) atau sering disingkat dengan EQ, adalah kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri, perasaan orang lain serta mengelola emosi dengan baik. Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi juga dapat membekali individu dengan keterampilan memotivasi diri sendiri, keterampilan berkomunikasi yang baik, terbuka terhadap setiap kritik, dan bahkan memungkinkan individu untuk meningkatkan kemampuan hubungan pribadi dan profesional mereka.

Dalam rangka melakukan edukasi tentang pentingnya kecerdasan emosional, Himpunan Mahasiswa Psikologi Universitas Katolik Musi Charitas Palemban ,menyelenggarakan webinar yang berjudul “Memahami Pentingnya Peran Kecerdasan Emosional dalam Dunia Akademis, Dunia Organisasi dan Dunia Kerja”. Webinar ini dilaksanakan pada Jumat( 10/6) via zoom meeting. Webinar ini diikuti oleh lebih dari 60 orang peserta dari kalangan guru, dosen, karyawan, pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai kota, seperti Palembang, Surabaya, Bekasi, Depok, Serang, Padang, Makassar, Denpasar, Solo, Wonogiri, Bukittinggi, Riau dan Kepulauan Seribu. Materi webinar disampaikan oleh David Hizkia Tobing, S.Psi., M.A., dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, serta dipandu oleh Anselmus Agung Pramudito, S.Psi., M.A.,dosen Program Studi Psikologi Universitas Katolik Musi Charitas, Palembang, sebagai moderator.

Selama acara berlangsung, para peserta tampak aktif dan antusias, yang terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh para peserta selama sesi diskusi dan tanya-jawab.
Webinar ini secara umum membahas tentang kecerdasan emosional dan aspek-aspek apa saja yang ada di dalamnya, serta upaya apa saja yang dapat dilakukan individu guna mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk meraih kesuksesan baik di dalam dunia akademis, dunia organisasi dan di dunia kerja. Sebagai pengantar, narasumber menyampaikan bahwa emotional quotient (EQ) didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi pada diri sendiri dan orang lain. Seseorang yang memiliki EQ tinggi mampu memisahkan berbagai emosi dan menggunakannya sebagai bahan pemikiran juga perilaku diri sendiri. EQ dinilai dapat memberikan keuntungan dalam bersikap, bahkan dalam berkarier. Individu dengan tingkat intelegensi (IQ) yang tinggi, namun dengan tingkat kecerdasan emosional (EQ) yang rendah cenderung mengalami kegagalan yang lebih besar dalam berkarier dibandingkan dengan individu yang memiliki tingkat IQ rata-rata, namun tingkat EQ-nya tinggi. Artinya, implikasi kecerdasan emosional dalam kehidupan sehari-hari menjadi hal yang sangat penting. Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa kesuksesan karier seseorang sebenarnya lebih ditentukan oleh tingkat EQ, yaitu dengan persentase sebesar 85%, sedangkan IQ hanya sebesar 15%.
Lebih lanjut, narasumber menambahkan tentang ciri-ciri umum individu dengan EQ yang baik dengan mengutip dari Journal of Clinical Psychology and Subjective Well-Being, antara lain: (1) adanya kehati-hatian dalam mendengarkan dan berbicara, (2) teliti dan tidak ceroboh, (3) memiliki pengendalian diri yang baik, (4) terbuka terhadap kritik dan umpan balik, (5) bersikap rendah hati, serta (6) memiliki kemampuan memberi perhatian pada orang lain (empati).Kemudian, sebagai upaya untuk meningkatkan kecerdasan emosional, narasumber memberikan 7 (tujuh) langkah yang dapat dilakukan oleh para peserta, yaitu: (1) belajar menentukan manajemen konflik yang produktif, (2) belajar mengelola dan mengekspresikan emosi secara wajar dan tidak berlebihan, (3) belajar memotivasi diri, (4) belajar mengenal emosi diri dan orang lain, (5) belajar membina hubungan, (6) belajar mengambil keputusan, serta (7) belajar mengenal emosi diri. (daris)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.