SMB IV: Revitalisasi BKB Dapat  Dilakukan Secara Bertahap

Keterangan foto: Suasana Dialog interaktif RRI Palembang, Rabu (13/10) dengan topik Revitalisasi  Benteng Kuto Besak (BKB)

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Benteng Kuto Besak (BKB) memiliki nilai defense heritage (warisan budaya bernilai pertanahan)  yang harusnya dilakukan revitalisasi agar masyarakat mengenal secara luas sejarah BKB.

Hal tersebut dikemukakan Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin IV Jaya Wikrama RM. Fauwaz Diradja, S.H., M.Kn, dalam dialog interaktif  RRI Palembang, Rabu (13/10) dengan topik Revitalisasi  Benteng Kuto Besak (BKB).

SMB IV  mengemukan dibukanya Benteng Kuto Besak itu merupakan keinginan masyarakat Palembang, untuk menikmati cita rasa budaya dan sejarah patriotisme yang pernah terjadi di BKB. Bahkan menurut SMB IV , revitalisasi tidak harus dibuka untuk umum semuanya bagiannya, namun dapat dilakukan secara bertahap tidak usah seluruhnya. “Biarkan mengalir apa yang kita bisa dilakukan kita lakukan terlebih dahulu, bahkan masyarakat juga tidak keberatan diterapkan restribusi untuk pemeliharaan nilai warisan budaya itu,” tegasnya.

Peneliti Ahli Muda Balitbang Kementrian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia (RI) Gerald Theodorus L Toruan melalui sambungan telepon mengatakan, pihak Kodam II Sriwijaya yang saat ini memiliki wewenang terkait Benteng itu, sudah memberikan persetujuan  dilakukan revitalisasi.

Namun   butuh kejelasan dan ketegasan dari pihak terkait seperti Pemerintah Kota Palembang rancangan revitalisasi Benteng Kuto Besak yang direncanakan dibuka untuk masyarakat umum. “Seperti yang pernah saya utarakan sebelumnya, Revitalisasi BKB jangan cuma wacana, pemkot Palembang harus punya blue print gambaran dan deskripsi yang jelas dan mau seperti apa. Dan juga membuat blue print harus melibatkan banyak pihak termasuk dari kalangan legistatif agar tidak dijadikan kawasan komersial,” ujar Gerlad.

Sementara itu,  budayawan Palembang,Vebri Al Lintani menceritakan Benteng Kuto Besak merupakan memori kolektif masa lalu anak bangsa Kesultanan Palembang Darusallam yang tidak ada di tempat lain. “Di dalam Kuto itu ada istana , ada tempat pertemuan, semuanya ada dalam catatan sejarah dari SMB 1, bahkan Inggris mengatakan Sultan Palembang merupakan Sultan terkata pada masanya. Jika kita buka akan menanamkan rasa kecintaan kita terhadap sejarah, tidak hanya mengungkap identitas namun dampak potensi pariwisata di kota ini,” katanya. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *