OPINI: Bullying Berisiko Menimbulkan Dampak Negatif
Teks foto: Ilustrasi (ist)
Oleh : Wahyuni Widya dan dan Prof Dr Ir Hj Isnawijayani,M.Si,.Ph.D
Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma Palembang
Kasus bullying atau perundungan saat ini sering kita dengar beritanya lewat berbagai media dan terjadi di mana-mana. Kasus ini membuka mata bahwa bullying ada di sekitar kita terutama pada anak-anak. Perundungan merupakan perilaku atau tindakan agresif yang melibatkan ketidakseimbangan kekuatan sehingga merugikan orang lain. Perilaku agresif ini dapat dilakukan berulang dan menyebabkan masalah yang serius pada orang yang di-bully.
Menurut situs resmi Stop Bullying Amerika Serikat, tindakan yang tergolong bullying adalah tindakan yang bersifat agresif dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan serta pengulangan. Ketidakseimbangan kekuasaan didefinisikan ketika orang menggunakan kekuasaan mereka, seperti kekuatan fisik, akses terhadap informasi yang memalukan atau ketenaran, untuk mengendalikan atau merugikan orang lain.
Perundungan, bullying atau penindasan telah terjadi dalam berbagai bentuk selama berabad-abad. Bullying atau penindasan dapat terjadi lebih sering dalam bentuk fisik atau verbal di lingkungan sekolah, tempat kerja, atau di masyarakat pada umumnya. Dalam beberapa kasus, tindakan ini kurang mendapat perhatian dan korban sering merasa terisolasi. Profesor konsultan pendidikan Richard J. Hazler, yang berspesialisasi dalam penindasan, mendefinisikan penindasan sebagai tindakan yang dengan sengaja merendahkan atau mengejek seseorang atau kelompok di mana terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara penyerang dan korban. Dalam hal ini, dari sudut pandang psikologis, perilaku mengancam sekelompok siswi terhadap siswi di dalam lift merupakan tindakan yang sangat disayangkan. Perilaku seperti ini sering merupakan akibat dari dinamika kelompok dan tekanan sosial di antara mereka.
Pembully mungkin merasa dorongan untuk menunjukkan dominasi atau mendapatkan perhatian sesaat dari rekan-rekannya. Dalam upaya untuk memahami dan menguraikan lebih lanjut, mari kita mempertimbangkan beberapa faktor psikologis yang mungkin terlibat: Keinginan untuk Konformitas: Pembully mungkin merasa tekanan untuk mengikuti teman-temannya dan terlibat dalam tindakan tersebut agar merasa “termasuk” dalam kelompok. Kehendak untuk tidak keluar dari norma kelompok bisa membuat individu melibatkan diri dalam perilaku yang mungkin mereka tahu salah, namun merasa perlu untuk mempertahankan status sosial mereka dalam kelompok.
Keinginan untuk Mendapatkan Perhatian: Beberapa individu mungkin menggunakan perilaku agresif atau melecehkan untuk mendapatkan perhatian, bahkan jika itu negatif. Mereka mungkin merasa bahwa tindakan tersebut akan membuat mereka menjadi pusat perhatian, meskipun dampaknya bisa merugikan korban. Ketidakpedulian terhadap Dampak pada Korban: Pembully mungkin tidak sepenuhnya menyadari atau acuh terhadap dampak emosional dan psikologis yang mungkin dialami oleh korban. Mungkin mereka kurangnya empati atau pemahaman tentang bagaimana tindakan mereka dapat melukai orang lain.
Penting untuk meningkatkan kesadaran dan memahami konsekuensi dari penindasan, serta meningkatkan empati dan pemahaman di kalangan siswa. Upaya pihak sekolah dalam memberikan penyuluhan dan peringatan kepada pelaku merupakan langkah awal yang tepat untuk menghindari kejadian serupa di kemudian hari. Kita harus berperan aktif dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman, inklusif, dan suportif bagi semua siswa, di mana penindasan tidak diperbolehkan dan para pelaku disadarkan akan dampak tindakan mereka. Dengan cara ini, kita dapat mendorong perubahan positif dalam perilaku dan budaya sekolah. Dalam konteks ini, siswa mungkin berpendapat bahwa peningkatan pendidikan dan kesadaran akan komunikasi positif dan dampaknya terhadap individu sangatlah penting. Mereka juga dapat merenungkan peran media sosial dan teknologi dalam pelecehan online dan bagaimana komunikasi digital yang bertanggung jawab dapat membantu mengurangi pelecehan atau perundungan.
Dampak Bullying bagi Pelaku
Tak hanya korbannya, pelecehan/bullying juga berpotensi memberikan dampak negatif bagi pelakunya. Beberapa dampak yang ditimbulkan oleh bullying terhadap pelaku bullying adalah: Gangguan emosi. Ada risiko kecanduan alkohol dan obat-obatan. Sulit untuk mendapatkan pekerjaan saat tumbuh dewasa. Berisiko menjadi pelaku kekerasan di lingkungan sosial dan keluarga (KDRT). mencegah/mengurangi intimidasi dan kekerasan teman sebaya. Pelajari tentang penindasan dan kekerasan teman sebaya dengan membaca dan berbagi konten informatif dengan guru lain. Tetapkan pedoman anti-pelecehan yang jelas dan tegas serta capai kesepakatan dengan siswa tentang konsekuensi dari bullying secara partisipatif dengan mereka (alih-alih memberi hukuman).
Mencegah terjadinya Bullying
Untuk mencegah bulying atau perundungan di lingkungan pendidikan, sebaiknya menciptakan suasana hangat, hubungan saling mendukung, suasana positif, dan partisipasi seluruh siswa di kelas. Memperhatikan anak-anak yang lebih rentan terhadap perundungan; Hal ini mencakup anak-anak yang baru lahir atau sedang berpindah-pindah, anak-anak yang fisiknya lebih lemah, anak-anak penyandang disabilitas, atau anak-anak yang sering mengeluh karena di-bully oleh orang lain. Mendorong anak-anak yang rentan terhadap penindasan untuk berinteraksi secara lebih positif dan mengingatkan teman-temannya untuk membantu mereka sukses. Melibatkan siswa dalam skenario bermain peran terkait intimidasi dan cara mengatasinya. Membuat rencana bersama mereka tentang cara mencegah penindasan dan pelecehan. Meyakinkan siswa bahwa kita bersedia membantu mereka jika mereka ditindas. Memberikan dukungan dan perlindungan yang memadai bagi siswa yang menjadi korban bullying. Pastikan bahwa pelaku bullying tidak mengancam lagi.(*)




