Ketua PWI Banyuasin dan Ketua DPD LAI BPAN Sumsel Sayangkan Pemberitaan  “Amplop Kosong”

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA  − Ketua DPD Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) Badan Penelitian Aset Negara (BPAN) Sumatera Selatan (Sumsel) Syamsudin Djoesman memberikan pernyataan mengenai pemberitaan “amplop kosong” di Banyuasin beberapa hari lalu. “Berita yang tayang di media online tersebut dengan penulis inisial An seharusnya tidak perlu dipublikasikan, berita ini justru menjadi bumerang dan mempermalukan wartawan yang bersangkutan, bagaimana tidak dari pemberitaan yang saya cerna, hampir seluruh wartawan menerima amplop kosong, masak satu wartawan pun tidak bisa membedakan amplop kosong dengan yang berisi. Dan lagi ini tidak perlu diributkan. Cukup koordinasi secara langsung, bahkan saya dengar sebelum diberikan amplop tersebut sempat diterawang dan diraba, yang memberi yakin bahwa semua amplop ada isinya,” tegas Syamsudin Djoesman.

“Ini kan namanya tandamata atau cinderamata kebaikan orang lain yang semata-mata sebagai satu tanda kenangan, untuk menyambung tali silaturahmi, jangan sampai kebaikan seseorang dibalas  dengan mengecewakan orang tersebut, lagian kalau persoalan ini mau dibawa ke Dewan Pers, sungguh sangat ironis dan lucu bahkan berita ini akan menurunkan wibawa wartawan yang itu sendiri,” tandas orang nomor satu LAI BPAN Sumsel.

Secara terpisah, Ketua PWI Diding Banyuasin juga  sangat menyayangkan terbitnya pemberitaan ini. karena sesungguhnya acara tersebut bukan untuk konsumsi publik, karena acara tersebut acara silaturahmi keluarga. “Padahal pak Bupati sudah berpesan berkali-kali bahwa acara tersebut tidak untuk konsumsi publik artinya berita itu sudah menyalahi kesepakatan. Karena dalam acara adanya protokol kesehatan dan pembatasan orang. Saya sangat menyayangkan seolah-seolah berita ini menyudutkan kita, padahal saat itu saya bareng anak saya, walaupun narasi berita tidak menyebutkan nama kita, namun foto tersebut sudah mewakili, sebenarnya foto tersebut untuk dokumen pribadi. Acara tersebut adalah silaturahmi, toh kami ini dengan pak Askolani masih keluarga sendiri. Dalam tuturan keluarga saya, pak Askolani merupakan pamanda dari isteri saya,” terang Diding.

Menurut Diding, terhadap wartawan yang bersangkutan sudah diadakan pendekatan secara kekeluargaan. “Dalam berita tersebut saya sangat kecewa, lebih lagi terhadap foto yang ditampilkan, seolah-olah kita ini mau minta, namun sudahlah saya lihat fotonya sudah diubah, padahal foto tersebut tanpa seizin kita sudah diambil dari group PWI,” pungkas Diding.

Berita “amplop kosong” bermula dari salah satu media online yang memuat prihal pemberitaan amplop kosong di kediaman Bupati Banyuasin saat diadakan acara keluarga, perpisahan menjelang Idul Fitri antara keluarga Bupati Askolani dengan kerabat dekat. Pada kesempatan ini Bupati menyiapkan cenderamata berupa uang yang dibagikan dalam amplop namun diduga karena kelalaian petugas dalam memasukan uang ke dalam amplop sehingga ada di antara amplop yang dibagikan tidak berisi uang. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *