OPINIPalembangPendidikanSUMSEL

OPINI: Ketika Sekolah Hanya Merayakan yang Lolos PTN

Oleh:

Petrus Murwanto

(Dosen Fakultas Humaniora dan Ilmu Pendidikan, Universitas Katolik Musi Charitas)

 

HARI – hari ini, kita melihat banyak wajah – wajah siswa yang “berhasil” menghiasi media informasi/media sosial sekolah. Sekolah dengan bangga mempublikasikan mereka karena diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Beberapa waktu sebelumnya, wajah – wajah ‘berhasil’ yang sudah terlebih dahulu diterima di PTN dengan jalur yang berbeda bahkan juga tak sedikit yang diterima di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang dianggap sekolah sebagai kampus bergengsi juga menghiasi media sosial sekolah. Siswa – siswi ini ditampilkan dengan ucapan selamat dan narasi prestasi yang membanggakan. Tentu, kita memang mesti bersyukur, bersuka cita dan mendukung atas pencapaian banyak siswa – siswi tersebut. Mereka memperoleh / mencapai apa yang selama ini diharapkan melalui doa dan upaya – upaya terbaik mereka serta dukungan banyak orang yang mencintai mereka. Bagi sekolah, publikasi itu menjadi bentuk komunikasi sekolah kepada publik bahwa sekolahnya berkualitas. Karenanya mempublikasikan mereka berarti membangun reputasi sebagai sekolah yang berhasil dan itu menciptakan persepsi positif publik tentang sekolah. Namun, di balik itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan, ke mana perginya siswa yang lain, yang tak ditampilkan melalui media?”

Mereka yang tidak lolos PTN nyaris tak pernah dimunculkan dalam ruang publik sekolah. Padahal, mereka juga berjuang. Mereka juga mengambil keputusan penting tentang masa depan. Banyak dari mereka yang mungkin memilih perguruan tinggi swasta lain, dunia kerja, atau bahkan merintis usaha. Sayangnya, pilihan-pilihan ini sering kali tidak dianggap cukup “layak” untuk dirayakan. Ada pula yang menghadapi keterbatasan ekonomi, tekanan keluarga, atau kondisi personal yang tidak sederhana, yang membuat mereka tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi impian mereka. Sekolah sering kali hanya menampilkan satu narasi keberhasilan, masuk PTN atau kampus luar negeri atau PTS yang dianggap bergengsi. Fenomena ini bukan sekadar soal publikasi yang tidak berimbang / merata. Namun, hal itu juga mencerminkan cara pandang yang lebih dalam tentang apa yang disebut sebagai “keberhasilan” atau “kesuksesan”.

Kacamata sosiologi Pierre Bourdieu (1930 – 2002), seorang sosiolog berkebangsaan Perancis, menarik untuk dipakai melihat dan memaknai fenomena itu. Stahl, G & Mu, G.M., (2024) dalam Piere Bourdieu: Revisiting Reproduction, Cultural Capital and Symbolic Violence in Education menunjukkan bahwa Bourdieu memandang sekolah bukan sebagai ruang yang netral, melainkan sebagai tempat berbagai bentuk kekuasan sosial bekerja. Melalui konsep – konsep seperti habitus (habitus), modal (capital), arena (field) dan praktik (practice), sekolah seringkali berperan dalam mempertahankan ketimpangan sosial yang sudah ada di masyarakat. Modal adalah sumber daya yang terakumulasi yang memberikan individu kekuasan dan kedudukan sosial. Modal itu bisa berupa uang (modal ekonomi), pengetahuan, keahlian (modal budaya), pertemanan atau jaringan sosial (modal sosial), dan prestise dan pengakuan (modal simbolik). Arena adalah ruang – ruang sosial yang saling berhubungan, tempat manusia bergerak dalam masyarakat, seperti pendidikan dan pekerjaan. Habitus adalah cara berpikir, sikap dan kebiasaan internal sejak masa kecil melalui praktik – praktik kelas sosial tertentu.

Dalam konteks publikasi ‘keberhasilan’ siswa, konsep-konsep tersebut tampak nyata ketika sekolah menjadikan diterimanya siswa di PTN atau kampus bergengsi sebagai simbol utama keberhasilan dalam mendidik siswa. Prestasi itu dipublikasikan secara luas untuk membangun citra sekolah sebagai institusi unggul sekaligus mengakumulasi modal simbolik berupa prestise dan legitimasi sosial. Namun, dalam proses itu, sekolah juga secara tidak langsung, mungkin juga tanpa disadari, membangun hirarki nilai di antara siswa. Mereka yang lolos PTN ditempatkan sebagai representasi keberhasilan, sementara siswa lain, meskipun telah berjuang keras, terdorong ke pinggiran dan absen dari pengakuan simbolik sekolah. Siswa yang memiliki modal budaya dan ekonomi lebih kuat, seperti akses bimbingan belajar, lingkungan keluarga akademis, dan dukungan finansial, tentu lebih mudah memenangkan persaingan di arena pendidikan dibanding mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Di sinilah bekerja apa yang disebut Bourdieu sebagai kekuasaan simbolik, yakni kemampuan menentukan siapa yang dianggap berhasil dan layak diakui tanpa perlu mengatakannya secara eksplisit. Praktik ini kemudian menjadi bentuk kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik merujuk pada bentuk dominasi yang diterima sebagai sesuatu yang wajar oleh mereka yang didominasi. Kekerasan simbolik tidak berupa kekerasan fisik dan tindakan represif yang terang – terangan. Ia bisa hadir melalui standar kecerdasan, definisi siswa ideal, apresiasi terhadap jenis prestasi tertentu. Dalam konteks publikasi ‘keberhasilan’,  tidak ada hukuman atau kata-kata kasar, tetapi pesan dari kekerasan simbolik yang diterima individu yang tidak terlihat di ruang publikasi sangat jelas, Anda tidak cukup berhasil untuk dirayakan.” Dan pesan itu diterima sebagai sesuatu yang wajar.  Dalam pendidikan, siswa sering didorong untuk menerima standar, nilai dan definisi keberhasilan yang ditentukan oleh kelompok dominan. Akibatnya, kegagalan akademik dipandang sebagai kelemahan individu, bukan sebagai konsekuensi ketimpangan sosial yang lebih luas.

Sekolah Harus Tetap Inklusif

Supaya sekolah tidak terjebak pada praktik kekuasan dan kekerasan simbolik, sekolah perlu merayakan setiap proses dan pencapaian siswa dalam versi terbaik mereka. Sekolah harus tetap mau dan mampu mewujudkan ruang inklusif yang di mana setiap siswa apa pun latar belakang, potensi dan kemampuannya bisa diterima dan dirayakan. Tidak semua siswa memiliki titik berangkat yang sama.  Ada yang didukung kondisi ekonomi dan akses belajar yang baik, tetapi ada pula yang harus berjuang di tengah keterbatasan keluarga, ekonomi, maupun persoalan personal. Karena itu, pilihan untuk masuk PTN, dunia kerja, atau bahkan membantu keluarga tidak bisa dipandang sebagai ukuran tunggal keberhasilan atau kegagalan.

Sekolah juga perlu menyadari bahwa pendidikan bukan sekadar menghasilkan siswa dengan prestasi akademik tertinggi, melainkan memanusiakan manusia dengan segala keragaman jalan hidupnya. Ketika sekolah hanya merayakan dan mempublikasikan siswa yang diterima di kampus yang dianggap bergengsi, sekolah secara tidak langsung sedang membangun hierarki nilai bahwa hanya capaian tertentu yang layak diakui dan dirayakan. Padahal, kehidupan tidak hanya ditentukan oleh nama dan jenis kampus. Banyak orang bertumbuh dan berhasil melalui jalan yang berbeda, tempat pendidikan yang berbeda, termasuk kewirausahaan atau juga kerja profesional yang dijalani dengan tanggung jawab.

Karena itu, sekolah perlu menghadirkan narasi keberhasilan yang lebih inklusif dan manusiawi. Media publikasi sekolah semestinya tidak hanya cukup dipenuhi wajah – wajah yang lolos PTN, tetapi juga kisah siswa yang berjuang dalam keterbatasan, memilih jalur hidup berbeda, dan tetap bertanggung jawab atas masa depannya. Sebab tugas pendidikan yang sejati adalah memastikan bahwa setiap siswa berkembang sesuai dengan kodrat kemanusiaan dengan segala bakat dan potensinya, juga siswa bisa tetap merasa bernilai, dihargai, dan tidak ditinggalkan hanya karena jalannya berbeda. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *