Ironis, Beras Penyumbang Inflasi di Sumsel
Teks foto: Rahmadi Murwanto, Ak.,MAcc,MBA,PhD, Kakanwil Ditjen Perbendaharaan Sumsel saat menjadi narasumber pada kegiatan Edukasi Seputar Perbendaharaan (Treasury) dalam rangka Treasury Goes to Campur, Kamis 12 September 2024 di Gedung Graha Lantai Dasar Politeknik Sriwijaya Palembang.
PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Sumsel merupakan daerah lumbung pangan. Namun ternyata, beras menjadi penyumbang inflasi di Sumsel. Demikian dipaparkan Rahmadi Murwanto, Ak.,MAcc,MBA,PhD, Kakanwil Ditjen Perbendaharaan Sumsel saat menjadi narasumber pada kegiatan Edukasi Seputar Perbendaharaan (Treasury) dalam rangka Treasury Goes to Campur, Kamis 12 September 2024 di Gedung Graha Lantai Dasar Politeknik Sriwijaya Palembang.
Menurut Rahmadi, Inflasi Sumsel per Juli 2024 tercatat sebesar 1,87% (yoy). Angka tersebut berada di bawah rata-rata inflasi nasional yang sebesar 2,13% (yoy). “Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong terbesar inflasi Sumsel hingga akhir Juli 2024 dengan andil inflasi sebesar 0,60% (yoy). Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi Sumsel secara year on year adalah beras, emas perhiasan, tarif air minum PDAM, gula pasir, cabai rawit. Ironis memang karena Sumsel ini penghasil beras yang tergolong besar. Inilah yang perlu dicermati. “Inflasi turun, orang yang hobii belanja jadi tidak. Sumsel sangat bagus di atas rata-rata. Di sini inflasi namun penyumbang inflasi masih yang itu-itu saja. Seperti kata Pak Gubernur Sumsel adalah ironis, Sumsel penghasil beras tapi justri inflasi dari beras. Inii jadi PR buat kita,” tambah Rahmadi.

Pada kesempatan ini Rahmadi memaparkan secara detail Kinerja Pelaksanaan APBD Wilayah Sumsel. Disebutkannya, kinerja ini menunjukkan tren positif. Realisasi pendapatan dan belanja negara juga tetap tumbuh positif.
Pria yang pada 2007 – 2010 mendapat beasiswa NZAID, Selandia Baru, untuk mengikuti PhD
program pada Victoria University of Wellington ini memaparkan Perkembangan Terkini Ekonomi dan Fiskal Sumsel. Menurutnya, neraca perdagangan Sumsel terus mencatatkan surplus. Ekspor tumbuh positif dengan didominasi komoditas batubara, bahan baku karet, pulp. Sementara impor didominasi komoditas mesin, reactor. “Ekspor akumulatif Januari sampai dengan Juli 2024 sebesar USD 3,58 miliar, terkontraksi -11,24% (yoy). Sementara Impor akumulatif Januari sampai dengan Juli 2024 sebesar USD 1,34 miliar, tumbuh 224,44% (yoy. Ekonomi Sumsel tumbuh positif meskipun mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Faktor utama yang mempengaruhi melambatkan ekonomi Sumsel adalah perlambatan yang terjadi pada sektor lapangan usaha pertambangan yang hanya tumbuh 0,90% (yoy) akibat turunnya produksi batubara sebesar -1,27% (yoy),” tambahnya.
Menurut peraih Master of Accountancy (dengan konsentrasi pada Financial Accounting), Weatherhead School of Management, Case Western Reserve University, Cleveland, Ohio 2001 ini bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumsel berada dalam tren yang terus membaik. Per Februari 2024 TPT Sumsel tercatat sebesar 3,97% atau sebanyak 181 ribu jiwa. “Mayoritas penduduk bekerja Sumsel berada di sektor pertanian yaitu 43,62% dari total pekerja. Sektor Pertanian juga yang paling banyak menyerap tenaga kerja selama periode Februari 2023 – Februari 2024, Mayoritas pekerja Sumsel bekerja di sektor informal yaitu 63,41% dari total pekerja. Dan berpendidikan SD yaitu 41,26% dari total pakerja.,” ujarnya.
Rahmadi juga menjelaskan perkembangan Indikator Kesejahteraan dan Pembangunan Sumsel Hingga 31 Juli 2024. Sejalan dengan kondisi makro, kondisi kesejahteraan Sumsel menunjukkan tren perbaikan. Tingkat Kemiskinan Sumsel berada tren penurunan. “Per Maret 2024, TPT Sumsel berada di angkat 10,97 persen. Beras, rokok kretek filter, perumahan menjadi komoditas yang berpengaruh besar terhadap kemiskinan Sumsel. Ketimpangan Sumsel berada pada kategori moderat yaitu 0,33. Ini ditunjukkan Per Maret 2024, Gini Ratio Sumsel sedikit turun dibandingkan Maret 2023. Bahwa Ketimpangan Kota lebih tinggi dibandingkan desa,” kata mantan Direktur Politeknik Keuangan Negara STAN, BPPK, Kementerian Keuangan ini.
Ia juga memaparkan bahwa IPM Sumsel berada dalam kategori tinggi dan menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan IPM didorong oleh peningkatan semua komponen pembentuk AHH, HLS, RLS dan Pengeluaran per Kapita. NTP Sumsel berada dalam level surplus dan dalam tren peningkatan Per Juli 2024, NTP Sumsel berada di angka 125,18. Di sisi lain, Neraca Perdagangan Sumsel bulan Juli 2024 Surplus USD 387,72 Juta. Secara kumulatif hingga Juli 2024, surplus neraca perdagangan Sumsel mencapai USD 2,24 Miliar. Kinerja realisasi Penerimaan Pajak dan PNBP lebih tinggi dari tahun lalu. Sementara bea dan cukai masih terkontraksi. Kinerja realisasi belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah lebih tinggi dari tahun lalu, Penerimaan Pajak s.d. Juli 2024 mencapai 45,7% dari target APBN, dengan pertumbuhan netto sebesar 5,1%, tumbuh dikarenakan pembayaran PPN DN dan PPh Final atas kegiatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) serta pembayaran PPh 21 di seluruh sektor yang menunjukkan baiknya level penghasilan karyawan. Hal ini terutama terlihat dari pertumbuhan PPh Non Migas tumbuh positif sebesar 6,3% dan pertumbuhan PPN & PPnBM tumbuh positif sebesar 0,9%, yang menunjukkan resiliensi yang baik pada aktivitas ekonomi di Prov. Sumatera Selatan,” katanya.
Terkait kegiatan Edukasi Perbendaharaan (treasury) Goes to Campus, Rahmadi menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan sepenuh hati melalui birokrasi yang bersih tanpa biaya (Rp0). (saf)




