Penyuluh Agama Sumsel Diajak ‘Ngonten’ Kreatif dan Bijak AI untuk Perkuat Moderasi
PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Lebih dari 100 penyuluh agama lintas iman di Sumatera Selatan berkumpul di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan pada Jumat (12/6/2026). Mereka hadir untuk mengikuti Lokakarya Pengayaan Wacana Agama dan Keragaman yang digelar atas kerja sama Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) dan Kanwil Kemenag Sumsel.
Hadir sebagai narasumber, Dr. Leonard Chrysostomos Epafras dari ICRS-UGM membawa materi segar bertajuk “Literasi Agama & Keberagaman: Moderasi Agama – Suhu, Ngonten & AI Jangan Cupu”. Dalam paparannya, ia mendorong para penyuluh agama untuk tidak kaku dan mulai aktif memanfaatkan ruang digital serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam menyebarkan pesan damai.
Dr. Leonard memaparkan data riset Epafras et al. (2023) mengenai referensi tokoh agama pilihan warganet lintas generasi (dari anak muda hingga Baby Zoomers). Hasilnya menunjukkan bahwa rujukan ketokohan di era digital telah bergeser ke arah sosok yang equalitarian, menggunakan gimmick yang “relate”, serta aktif sebagai micro-ustadz, pastorgram, atau podcaster.
Pilihan di Kalangan Muslim: Menempatkan Husein Ja’far di posisi teratas, disusul oleh Ustadz Abdul Somad (UAS), Adi Hidayat, Hanan Attaki, dan Quraish Shihab.
Pilihan di Kalangan Kristen: Menempatkan Gilbert Lumoindong pada posisi tertinggi, diikuti Philip Mantofa, Henny Kristianus, Christopher Tapiheru, dan Stephen Tong.
Pilihan di Kalangan Katolik: Menempatkan Paus Fransiskus, Quraish Shihab, Rm Hary, Rm Eko Wahyu, dan Bayu Istimore sebagai tokoh favorit.
Melihat tren ini, Dr. Leonard mengingatkan pentingnya penyuluh agama menggunakan bahasa yang positif, berpengharapan, dan melampaui perbedaan. Mengutip Buya Hamka dalam Lembaga Budi, ia menekankan bahwa banyak guru agama gagal karena mendahulukan nadzir (ancaman/penegakan aturan) daripada basyir (bujukan/kabar gembira).
Formula “Ngonten yang Paten & Relefun”
Untuk memikat generasi muda, narasumber membagikan kiat membuat konten keagamaan yang berbobot namun tetap menyenangkan (relefun). Beberapa poin utamanya meliputi:
Dahulukan Basyir: Berikan kabar gembira dan pesan yang merangkul.
The Power of Storytelling: Manfaatkan kekuatan visual dan cerita menggunakan aplikasi ramah pengguna seperti Canva, Snapseed, atau CapCut.
Gunakan Quotes & Punchline: Buat pesan yang asyik, mudah diingat, serta kritik yang menggelitik.
Saring Sebelum Sharing: Selalu verifikasi data, lawan info palsu (fake) dengan fakta (fact), dan gandeng lembaga kredibel seperti MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia).
Para penyuluh juga diingatkan untuk melek hukum digital. Di tengah maraknya kasus judi online yang mencatat transaksi fantastis hingga ratusan triliun rupiah serta jebakan pinjaman online (pinjol) ilegal, penyuluh harus menjadi benteng edukasi bagi masyarakat.
Apalagi, Indonesia kini telah mengaktifkan tiga regulasi besar: UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP No. 27/2022 yang berlaku penuh sejak Oktober 2024), Perubahan Kedua UU ITE (UU No. 1/2024), dan KUHP Nasional (UU No. 1/2023) yang mulai berlaku sejak 2 Januari 2026.
Beberapa kebiasaan di ponsel yang kerap dianggap sepele namun kini memiliki sanksi hukum aktif di antaranya:
Mengunggah foto orang lain atau foto diam-diam di tempat umum tanpa izin (Ancaman: 4 tahun penjara / Denda Rp4 miliar).
Meneruskan (forward) tangkapan layar (screenshot) WhatsApp orang lain (Ancaman: 2 tahun penjara / Denda Rp400 juta).
Membuka HP orang lain tanpa izin (Ancaman: 6-8 tahun penjara / Denda Rp600 juta).
Etika Pemanfaatan AI untuk Penyuluhan

Menutup sesi, Dr. Leonard mengulas fenomena tingginya ketergantungan Gen Z pada AI, di mana sekitar 75 persen dari mereka menganggap AI bisa menggantikan relasi manusia. Meski demikian, penyuluh agama diajak memanfaatkan AI secara bijak sebagai teman eksplorasi topik, produksi ilustrasi, dan curah pendapat menggunakan teknik prompting yang beretika dengan formula C-A-R-E (Context, Action, Result, Example).
“Gunakan AI untuk mendorong kemajemukan jawaban, menjaga privasi, dan merancang program inklusif antaragama. Namun ingat, selalu deklarasikan jika karya atau konten Anda menggunakan bantuan AI demi menjaga transparansi dan akuntabilitas,” pungkasnya.
Melalui lokakarya ini, diharapkan para penyuluh agama lintas iman di Sumatera Selatan tidak lagi “cupu” alias gagap teknologi, melainkan mampu menjadi konten kreator kedamaian yang paten, relevan, dan taat hukum di ruang digital.(*)




