OPINI: Kasih Paskah Semakin Mengasihi, Peduli dan Bersaksi
Oleh : Andreas Daris Awalistyo, S.Pd
Paskah merupakan puncak peringatan liturgi gereja dan hari raya dari segala hari raya. Paskah merupakan hari istimewa bagi umat Kristiani karena Yesus telah bangkit dari kematian. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut dengan kebangkitan-Nya hal ini menunjukkan bahwa Yesus susngguh-sungguh Putera Allah dan memberi harapan pada umat manusia tentang adanya kerajaan surga
Umat Kristiani memperingati wafat Yesus Kristus pada hari raya Jumat Agung tidak dapat dipisahkan dengan sengsara, wafat dan kebangkitan yang memaknai arti penebusan Kristus bagi umat manusia. Persiapan Paskah sudah diawali sejak Rabu Abu, Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan puncaknya Paskah yang dirayakan pada Minggu, (17/4/2022). Kasih Allah membawa kita pada misteri paskah wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Seperti tertulis dalam Injil “ …. ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga…, tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah juga pembetitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah ( 1 kor 15 : 3-4, 14-15 ). Peringatan Paskah bukan sekedar ritual agama, tetapi merupakan momentum bagi manusia untuk menyadari bahwa hidup manusia itu harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah pada saat mereka meninggal atau belum meninggal saat kedatangan-Nya kedua kali kelak. Tiga tahun ini perayaan Paskah yang masih diliputi Pandemi covid-19 telah membawa dampak luar biasa dalam berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu perlu sekali adanya pemulihan segera, terpadu, global dan inklusif. Namun tentu ada beberapa tantangan yang perlu diatasi saat ini tetapi juga untuk masa mendatang. Tantangan pertama, adalah pandemi covid-19 yang berdampak langsung pada seluruh segi kehidupan manusia, baik di bidang kesehatan, sosial, ekonomi, pendidikan dan lingkungan. Melalui bencana dan covid -19 ini, alam mengingatkan kepada kita bahwa terlalu banyak tekanan dan beban yang ditimpakan kepadanya (bdk.ibid ). Paus Fransiskus dalam ensikliknya Laudato Si (LS) berbicara tentang keadaan dunia kita saat ini dalam konteks krisis iklim, degradasi lingkungan,perilaku konsumeristik, dan ketidakadilan sosial. Dia juga menyerukan semua orang untuk mengambil tindakan karena waktu yang sudah sangat mendesak dan bersatu mencari solusi untuk mengatasi masalah kerusakan bumi ini baik global maupun lokal. Karena hubungan kita dengan Pencipta Ilahi telah diabaikan maka hubungan manusia menjadi goyah, dan dunia kita menjadi semakin panas, kurang stabil, dan semakin tak bernyawa. Akibatnya, kita semua menderita, dan mereka yang paling miskin dan paling rentan menderita di atas segalanya. Kita menghadapi “ krisis kompleks yang bersifat sosial, ekonomi dan lingkungan.” (LS 139). Kita juga mesti memperluas cakupan kepedulian ini pada rumah kita bersama yakni bumi dan setiap ciptaan. Semua bentuk kehidupan saling terkait satu sama lain (LS 91 ), dan kesehatan kita tergantung pada ekosistem yang telah Allah ciptakan dan percayakan kepada kita untuk dipelihara (lih Ke 2 : 15) Yesus meminta setiap orang beriman supaya tidak takut (Mrk 4: 35–41). Iman dimulai ketika kita menyadari bahwa kita membutuhkan keselamatan.
Paskah Semakin Mengasihi Menuju Keselamatan
Gereja mengenangkan sengsara dan wafat Yesus, menghormati salib, dan mengenang kembali kelahiran gereja dari lambung Yesus yang tertikam saat tergantung di kayu salib. Paskah adalah perayaan kebangkitan Kristus mengalahkan kematian dan semua bentuk kesia-siaan yang sering membelenggu kehidupan manusia. Inilah dasar iman kristiani yang memberi pengharapan bagi pengikut Kristus untuk mengalahkan berbagai tanda-tanda kematian yang dapat menghancurkan kehidupan. Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan Injil dan iman kristiani (I Kor.15:14). Maka kebangkitan Kristus menunjukkan kuasa Sang Pencipta yang membuka jalan baru menuju kehidupan sejati. Inti Paskah adalah pertarungan melawan kekuatan-kekuatan jahat yang menyeret manusia kepada maut dan kesia-siaan, suatu pertarungan yang dimenangkan Allah, sumber kebenaran dan kehidupan (bdk Rm 8:31-39). Penyaliban Yesus dari Nazaret adalah sebuah contoh nyata kalahnya nurani, gugurnya kebenaran dan tersingkirnya keadilan (Luk 23:4; Yoh 19:4-16.) Kematian merupakan maut, itulah hukuman Tuhan akibat dosa manusia. Namun kematian Tuhan Yesus bukan merupakan dosanya, namun Ia menanggung segala dosa kita. Yesus telah dipilih sebelum dunia dijadikan, untuk menggantikan kita dihukum. (bnd 1 Petrus 1:18-20 ) Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan. Yesus mati karena dosa kita dan bukan hanya itu Ia juga mati bagi dosa kita. Janji Allah akan keselamatan terwujud dalam diri Yesus, yang meskipun Anak Allah telah “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8). Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan maka kehendak-NYA menjadi kehendak kita kehendak Tuhan terutama adalah untuk keselamatan dunia. Kita diundang Tuhan untuk ikut ambil bagian dalam karya penyelamatan dunia melalui berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Semoga kita mampu menghasilkan buah-buah yang baik melalui pembaharuan diri, pertobatan perubahan sikap hidup , doa yang penuh ketulusan, senantiasa hidup dalam kasih selalu rendah hati, dan kerelaan beramal berbagi dengan sesama serta semakin mendekatkan diri pada Allah dan mengasihi menuju Keselamatan.
Peduli dan Bersaksi
Melalui kerendahan hati dan pengorbanan diri, Yesus melaksanakan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Begitulah martabat Allah yang berbeda dengan martabat dunia. Itulah sebabnya Paulus menyebut Yesus sebagai martabat Allah bagi kita ( 1Kor 1: 24-30 ). Semoga kita pun menjadi lebih sadar melihat kehadiran Allah di tengah kita, jangan sampai kehadiran-NYA kita abaikan bahkan kita usir karena ingin kehendak kita terkabul. Kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani kebutuhan orang lain merupakan perwujudan kebesaran dan kemuliaan kasih sejati. Berkuasa bukan berarti memerintah, melainkan melayani sehingga menjadi pemimpin yang bermartabat. “ Popule meus quit feci tibi ? Aut in qou contrin tavi te ? Responde mihi ! Ego te exaltavimagna virtue ; et tu me suspendisti in patibulo crucis “ “ Wahai bangsa-Ku, Kuapakan dikau ? Dengan apa kususahkan ? Jawablah Aku ! Aku mengangkat engkau dengan kemuliaan besar ; dan engkau menggantung Aku pada tiang salib.” Gereja mengenangkan sengsara dan wafat Yesus, menghormati salib, dan mengenang kembali kelahiran gereja dari lambung Yesus yang tertikam saat tergantung di kayu salib. Kebangkitan membuka hidup baru bagi umat manusia dan hubungan dengan Allah dipulihkan dan diperbaharui. kita menempatkan perjalanan pemulihan ini dibawah perlindungan perawan Maria, Bunda kesehatan kita. Semoga dia, yang mengandung Yesus dalam rahimnya dan mengikuti Kristus dengan amat setia membantu kita menjadi layak dipercaya untuk ikut memulihkan kehidupan bersama. Dalam bimbingan Roh Kudus, kita dapat bekerja bersama bagi Kerajaan Allah yang telah dihadirkan Kristus di dunia ini dengan kedatangan-Nya di antara kita. Marilah kita bangkit peduli dan bersaksi, memperbaiki yang telah rusak ini menjadi seperti ketika diciptakan oleh Allah, yakni “sungguh amat baik adanya” (Kej 1: 31). “Semoga cahaya Kristus yang bangkit dalam kemuliaan menghalau kegelapan hati dan pikiran kita,” dan memampukan kita semua untuk menghayati kembali pengalaman para murid di jalan menuju Emaus. Dengan mendengarkan sabda Allah dan mengambil bagian dalam santapan dari meja Ekaristi, semoga hati kita semakin bersemangat dalam iman, harapan dan kasih. Selamat Paskah 2022.




