OPINI: Jurnalis, Pahlawan Tanpa Jubah

Oleh Isna Wijayani,
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas BinaDarma
PALEMBANG,MEDIASRIWIJAYA – Ketika bangsa ini memperingati Hari Pahlawan, awalnya adalah Tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, untuk: Menghormati jasa para pahlawan dan pejuang kemerdekaan. Menumbuhkan semangat nasionalisme dan patriotisme. Mengingatkan generasi muda agar meneruskan perjuangan dalam bentuk pengabdian sesuai zaman, kita sering mengenang mereka yang gugur di medan tempur, berjuang dengan bambu runcing atau senjata di tangan. Namun di era kemerdekaan informasi, ada bentuk perjuangan lain yang tak kalah penting perjuangan lewat tulisan. Di situlah jurnalis berdiri: menulis bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk kebenaran.
Pada masa awal pers Indonesia, menjadi wartawan bukanlah pilihan yang menjanjikan secara ekonomi. Mereka menulis dengan idealisme, bukan demi gaji. Dalam sejarahnya, banyak wartawan menanggung risiko besar dengan kehilangan pekerjaan, dikriminalisasi, bahkan nyawa taruhannya demi menyuarakan suara rakyat. Upah, honor, dan jaminan sosial nyaris tak terpikirkan. Bagi mereka, pena lebih bermakna dari uang, sebab di balik tinta itu ada tanggung jawab moral kepada publik.
Baru setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, dunia jurnalistik memasuki fase baru: pers sebagai industri. Sejak itu, muncul pula istilah profesionalisme, sertifikasi wartawan, dan kode etik yang harus dijunjung tinggi. Namun, di tengah tuntutan profesional itu, kesejahteraan jurnalis masih menjadi ironi. Sertifikasi wartawan memang penting, tetapi siapa yang menjamin tunjangan dan keberlanjutan hidup mereka? Negara belum sepenuhnya hadir, sementara industri media menempatkan wartawan di antara idealisme dan tekanan pasar.
Padahal, jurnalis sejatinya adalah pahlawan sipil. Mereka memperjuangkan hak warga negara untuk tahu, untuk berpikir, dan untuk menuntut keadilan. Melalui berita dan tulisan, jurnalis menjadi mata bagi yang buta informasi, telinga bagi yang tak terdengar, dan suara bagi yang dibungkam. Mereka menjaga agar demokrasi tetap bernapas.
Napoleon Bonaparte pernah berkata, “Aku tidak takut pada seribu prajurit, tapi aku takut pada satu pena wartawan.” Ungkapan ini menunjukkan betapa dahsyat kekuatan kata dari jurnalis. Kini, di era digital, ujung pena itu telah berganti menjadi ujung jari yang mengetik di atas papan keyboard, tetapi daya pengaruhnya tetap sama berkekuatan pengaruhnya bahkan mungkin lebih besar. Satu tulisan yang jujur bisa menggugah kesadaran publik, membongkar ketidakadilan, atau mengubah arah kebijakan.
Pahlawan yang berprofesi sebagai jurnalis adalah 1. Tirto Adhi Soerjo menerbitkan beberapa surat kabar seperti Soenda Berita (1903), Medan Prijaji (1907), dan Putri Hindia (1908). 2. Ki Hajar Dewantarai mengawali karier sebagai wartawan. Tulisan terkenalnya Als ik een Nederlander was membuat pemerintah kolonial mengasingkannya. 3. Tan Malaka revolusioner yang aktif menulis dan menyebarkan ide-ide kemerdekaan serta sosialisme. Bukunya Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) menjadi bacaan penting yang mengajak masyarakat berpikir ilmiah dan logis. Tan Malaka menulis di berbagai media, baik nasional maupun internasional.4. Buya HamkaSelain sebagai ulama, dikenal sebagai sastrawan dan jurnalis. novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Kiprahnya di dunia jurnalistik dan keagamaan membentuk opini publik muslim progresif di masa kemerdekaan.5. Cipto Mangunkusumo pendiri Indische Partij, aktif menulis untuk pribumi. , ia diasingkan ke Belanda. Tulisannya mencerminkan semangat perubahan dan perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial. 6. Sutan Sjahrir Perdana menteri pertama Indonesia dikenal i intelektual dan penulis ulung. Karyanya Renungan Indonesia contoh pahlawan berprofesi sebagai jurnalis dan penulis lebih mengandalkan kekuatan ide daripada kekuatan senjata. 7. Agus Salim tokoh penting sejarah diplomasi Indonesia, salah satu tulisannya Wajib Bergerak (1923). tulisan yang membahas peran Islam, perempuan, dan perjuangan kemerdekaan. 8. Rasuna Said tokoh pejuang hak perempuan dan kemerdekaan. pemimpin redaksi majalah Raya dan menerbitkan koran mingguan Menara Poeteri. Gagasannya tentang kesetaraan dan reformasi sosial secara berani melalui media. 9. Ruhana Kudus jurnalis perempuan pertama Indonesia, mendirikan surat kabar Sunting Melayu pada 1912. media sebagai alat pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Perjuangannya di bidang pers dan pendidikan membuatnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. 10. Mohammad Hatta dikenal sebagai proklamator dan Wakil Presiden pertama, ia juga seorang penulis produktif. Saat diasingkan ke Boven Digoel dan Banda Neira, ia tetap menulis artikel untuk koran dan majalah. Tulisan-tulisannya mendidik dan menawarkan analisis mendalam, bukan propaganda.
Ternyata Jurnalis dapat berperang bukan dengan peluru, melainkan dengan keberanian dan integritas. Mereka menulis di tengah tekanan, menyuarakan kebenaran di antara kebisingan informasi, dan tetap teguh meski sering tanpa jaminan kesejahteraan. Mereka adalah pahlawan yang tidak memakai seragam, tetapi berjuang demi kepentingan publik. Hal ini sesuai dengan nilai luhur yang diwariskan diantaranya adalah menghormati jasa para pahlawan dan pejuang kemerdekaan. Menumbuhkan semangat nasionalisme dan patriotisme.Mengingatkan generasi muda agar meneruskan perjuangan dalam bentuk pengabdian sesuai zaman.
Di Hari Pahlawan ini, mari kita perluas makna “pahlawan”. Sebab menjadi pahlawan tak selalu harus menumpahkan darah di medan perang. Kadang, cukup dengan menumpahkan tinta diujung pena atau mengetikkan kebenaran di tengah gelapnya kepalsuan. Itulah perjuangan para jurnalis, pahlawan tanpa jubah di era media. Selamat Hari Pahlawan.



