EkonomiHeadlineNasionalNUSANTARAPalembangPendidikan

OPINI: Energi Kreatifitas, Oleh  Br. Ign. Heri Satrya Wangsa SCJ

*) Dosen Manajemen Kreatif – Program Studi Manajemen – Fakultas Bisnis & Akuntansi – Universitas Katolik Musi Charitas

KREATIFITAS tidak saja berurusan dengan pasar, yaitu terus menerus merespon dinamika pasar, namun juga manifestasi kepentingan dan kegelisahan sang penciptanya(creator). Energi dari kreatifitas yang berorientasi pasar (market-oriented creativity) adalah dinamika pasar. Pasar yang dinamis dengan kepentingan murni ekonomisnya. Roh pasar yang dinamis dipenuhi esensi kebutuhan dan kelangkaan (scarcity). Pasar sebagai pemenang karena disitulah terbentuk equilibrium – hukum keseimbangan penawaran-permintaan, oleh karenanya kepentingan-kepentingan pasar selalu (harus) diikuti, diperhatikan, dan diadopsi.Kreatifitas ini menghasilkan produk dan mindset inovatif. Sebaliknya, kreatifitas yang miskin pasar dan sarat bermuatan totalitas ekspresif penciptanya adalah kreatifitas yang diinspirasi oleh kesepian, jauh dari keramaian pasar. Kreatifitas semacam ini menghasilkan karya dan bukannya produk. Karya dalam kreatifitas ini tidak memiliki nilai ekonomis, tetapi dipahami dalam ruang yang kaya makna (meaningful), interpretatif dan subyektif. Energinya berasal dari kapasitas reflektif internal sang creator, yaitu kelebihan kapasitas untuk mencipta (excess capacity to create) atau kelebihan energi kreatif (excess of creative energy).

Dua arah kreatifitas tersebut sangat kontradiktif. Kreatifitas berorientasi pasar (market-oriented creativity)berhubungan dengan realitas eksternal (external reality). Nilai ekonomisnya relatif mudah diukur dari tingkat keseimbangan penawaran (supply) dan permintaan (demand) pasar. Dalam titik keseimbangan disitulah terbentuk harga pasar (market price). Harga kreatifitas ditentukan oleh pasar. Sang creator tidak akan pernah mampu mengintervensi kepentingan pasar. Dia akan terus berkreasi dan mencipta sesuai pesanan. Tak jarang karena tekanan dinamika pasar, maka kreatifitas yang mengambil bentuk ini menjadi semacam pseudo-creativity, yakni kreatifitas semu dan tidak murni, dipenuhi oleh kompleksitas, kerumitan, keruwetan kepentingan pasar. Produk yang dihasilkan melalui kreatifitas ini akan selalu diproduksi dalam jumlah banyak karena cepat terserap pasar, selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Produk menjadi laris karena pasar yang reaktif terutama ketika kreatifitasnya mampu membuat produk-produk yang mampu didefinisikan sendiri oleh penggunanya(user-defined). Bahkan, pada produk-produk yang mengintegrasikan fungsi konsumen-produsen, konsumen mampu menyediakan sendiri produk-produk bagi kebutuhannya. Produk yang laris dan mampu direspon secara reaktif oleh pasar merupakan kepentingan sang pencipta kreatifitas. Energi kreatifitas ada disitu.

Berbeda pada kreatifitas yang berhubungan dengan realitas kegelisahan internal (internal reality) penciptanya. Karena tidak disibukkan oleh urusan pasar, maka kreatifitas bentuk ini mampu menghasilkan karya-karya yang hanya bisa dimaknai secara subyektif. Dia akan menjadi sangat subyektif, terikat dengan dirinya sendiri, dan tidak mampu dihasilkan dalam jumlah banyak. Dalam porsi kuantitas memang sangat sedikit, jarang ditemui, dan tidak akan pernah mampu ditiru. Dia juga merupakan manifestasi aktualitas sekaligus otentik karena melalui sejumlah proses kreatifitas yang berasal dari pengalaman reflektif.

Kreatifitas berorientasi pasar

Era pasar adalah realitas kemenangan pasar. Mekanisme pasar menjadi ideologi dasar. Terminologi pasar menjadi begitu populer. Setiap saat selalu disebut, diucapkan. Menjadi semakin penasaran untuk mengetahui, melihat wajah pasar. Sebagaimana seorang selebritis yang nama dan wajahnya sering muncul, mengundang pesona dan daya tarik untuk mengetahui secara lebih detil.  Komodifikasi informasi terlihat dari berbagai macam produk revolusioner dengan atribut kepraktisan, kecepatan dan kemudahan. Berbagai produk menawarkan sejumlah feature dan versi karena memang diinginkan dan dibutuhkan. Itulah wajah pasar yang berisi egoisme dan kepentingan manusia terhadap berbagai macam barang maupun jasa. Wajah pasar adalah potret keberagaman keinginan (wants) dan kebutuhan (needs) yang tak pernah tuntas dan selesai. Kreatifitas itu begitu cepat harus berurusan dengan berbagai keinginan dan kebutuhan yang tak pernah tuntas dan selesai tersebut. Oleh karenanya wajah pasar adalah juga wajah kreatifitas. Itulah kreatifitas berorientasi pasar.

Dalam konteks kreatifitas berorientasi pasar, maka karya dari sang creator harus diberi label dan elemen-elemen yang seringkali dimanipulasi untuk dapat ditempatkan sebagai produk. Karya itu akhirnya menjadi produk. Dia harus mampu menyediakan wilayah, ruang dan mekanisme bagi terjadinya pembaharuan (innovativeness) yang dapat dijual dan mendapat tempat di benak pasar dan mampu dipertukarkan karena dengan demikian akan menjadi energi bagi daur hidup kreatifitas itu sendiri.Bentuknya semacam kreatifitas mekanistis karena kreatifitas dapat dengan cepat dan mudah dilakukan (oleh siapapun), selalu me-review (to review), merevisi(to revise), melengkapi (to complete)feature dan versi sebelumnya. Kreatifitas hanya sanggup bermain-main dalam persoalan memecah dan merangkai, merusak danmemperbaiki. Tidak heran jika muncul pesimisme kreatifitas pasar karena selalu memproduksi nilai-nilai yang merusak (destructive values). Oleh karena itu yang dikerjakan oleh kreatifitas model ini adalah memperbaiki nilai-nilai yang merusak tersebut. Energi kreatifitasyang berorientasi pasar adalah pasar itu sendiri. Selama ada pasar maka disitu ada energi bagi kreatifitas. Kreatifitas akan mati karena kehabisan energi apabila ditinggalkan oleh pasar.

Dinamika pasar berpengaruh pada dinamika kreatifitas. Kreatifitas pasar satu arah (one-way market-oriented creativity) yaitu kreatifitas yang hanya mampu berkonsentrasi pada kepentingan pasar.Dia memihak dan mengikuti pasar. Intensitas tinggi kreatifitas semacam ini adalah karena tuntutan pasar dengan esensi ekonomisnya yang kemudian selalu menyeleksi dan membuat preferensi. Kreatifitas yang tidak memenuhi kriteria preferensi pasar akan segera ditinggalkan. Tingkat ketergantungan yang tinggi (terhadap pasar) membuat ruang gerak kreatifitas juga terbatas. Eksplorasi kreatifitas hanya sebatas melengkapi atau pelengkap (complementary), dan tidak akan pernah menggantikan (substitute). Kreatifitas yang “menggantikan” hanya bisa dilakukan bila ruang geraknya bebas, tidak dibatasi, dan tidak didefinisikan oleh kepentingan pemakainya.

Kreatifitas berorientasi non-pasar

Kalau kreatifitas berurusan dengan pasar, maka konsekuensinya adalah bahwa wajah kreatifitas itu berasal dari realitas pasar. Wajah kreatifitas adalah pasar itu sendiri. Kreatifitas yang dinamis karena esensi pasar yang juga dinamis, terus ada gerakan dan bergerak. Pasar tidak lain adalah kumpulan manusia dengan karakter bawaannya yang membedakan manusia satu dengan manusia yang lain. Sebaliknya, kreatifitas berorientasi sang creator adalah kreatifitas satu arah (one-way creativity) yaitu kreatifitas yang nilai ekonomisnya sangat relatif, personal, emosional dan (kadang) irasional. Kreatifitas yang seringkali tak bernalar ataupun sulit dijelaskan oleh common sense. Dia sangat malas untuk berurusan dengan pasar. Kreatifitas ini dihasilkan melalui daya pikir brilian sekaligus kegilaan sang creator yang merasa sangat berani, independen dan bebas melakukan eksplorasi melampaui wilayah ketidakmungkinan. Karya yang dihasilkan seringkali monumental, revolusioner, dan sangat berkaraktersebagai refleksi aktualisasi sang creator. Karya-karya itu sangat egoistis, dan (awalnya) sama sekali jauh dari minat pasar. Dia dijauhi pasar karena tidak laku, (seolah) berwajah konvensional, dan tua walaupun sebetulnya dia adalah karya yang jujur, lengkap(complete), penuh(finished), dan berakar (rooted).

Kreatifitas berorientasi non-pasar akan selalu menciptakan kebaruan (newness). Dengan kebaruan akan menghasilkan dinamika. Disitulah ruang gerak sang creator menjadi lebih bebas dan total. Jadi, kebaruan itu tidak pernah dijual dan ditawarkan kepada orang lain. Kebaruan itu eksklusifitas, menjadi wilayah eksklusif kepentingan sang creator untuk terus berkreasi menyalurkan energi kreatifnya (creative energy). Dia tidak pernah berkompromi dengan pasar. Resiko kematian kreatifitas seperti ini adalah kematiansang creator yang kehabisan energi kebaruan, kehilangan inspirasi dan idealisme.

Berkompromi dengan pasar

Tren yang terjadi adalah adanya dugaan dimana  kreatifitas yang berasal dari kelebihan energi kreatif (excess of creative energy) atau kreatifitas berorientasi pada penciptanya (creator-defined creativity)dalam tingkatan tertentu terpaksa berkompromi dengan pasar. Siapa yang salah? Pertanyaan ini mencoba melihat jalan tengah di antara dua arah kreatifitas. Kemungkinan terjadinya rekonsiliasi yang dapat menggambarkan dinamika kreatifitas di antara dua kekuatan yang masing-masing membawa popularitasnya sendiri.

Pertama, apabila kreatifitas dipahami sebagai kreatifitas yang terarah pada kepentingan penciptanya, maka dapat diduga kesalahan itu adalah intervensi pasar yang (semakin) kreatif. Kreatifitas berorientasi pasar ternyata mempromosikan nilai-nilai kreatifitas yang membuat pasar semakin rajin belajar. Terbentuk hubungan resiprokal (reciprocal relationship)antara kreatifitas dengan pasarnya. Pasar yang semakin kreatif dan kritis inilah akhirnya memilih barang atau jasa (bagi pemenuhan keinginan dan kebutuhannya) yang hanya dihasilkan oleh totalitas ekspresif sang pencipta.Karya yang jujur, orisinal, otentik dan berkarakter tegas.Atau karya-karya reflektif sang creator yang memang jauh dari keramaian pasar, tidak pernah berurusan dengan pasar, tidak pernah mau untuk dijual ataupun dipertukarkan. Itulah karya-karya yang awalnya tidak laku, berwajah tua walaupun sebetulnya dia adalah karya-karya yang tidak pernah membohongi. Kedua, naluri pasar yang semakin jenuh dan kompetitif untuk terus mencari celah yang akhirnya mengintervensi karya-karya yang dihasilkan oleh kreatifitas totalitas ekspresif. Akhirnya pasar tunduk pada kepentingan kreatifitas yang creator-defined.

Bagaimana dengan persoalan nilai otentitas?Otentitas dimaknai sebagai keaslian yang mempermudah bagi sebuah karya untuk dikenali identitas dan karakternya. Kreatifitas yang creator-defined adalah sepenuhnya dibawah otoritas sang creator. Ketika diintervensi oleh pasar yang juga semakin kreatif, maka nilai otentitas ini justru dicari. Dalam konteks ini otentitas tidak pernah dapat diintervensi oleh pasar melainkan membentuk pasar bagi dirinya sendiri. Dia justru akan selalu dicari oleh pasar.

Pasar yang agresif adalah juga wajah manusia modern yang saat ini semakin kritis-ekonomis. Apa saja dijadikan aset bernilai ekonomis. (Harus) dapat dijual dan dipertukarkan.Pasar agresif semacam ini memiliki mobilitas tinggi dalam keserakahan mencari  karya-karya kreatifitas non-pasar yang reflektif dan ekspresif. Karya-karya itu akhirnya menyerah kepada pasar menjadi produk. Transformasi dari konsepsi karya menjadi produk diikuti oleh hilangnya substantif nilai otentitas, identitas dan karakter.Dalam logika ini pasar memang akhirnya menjadi pemenang. Bila wajah pasar tercermin dari wajah produk-produk yang ada di dalamnya. Maka, produk yang kehilangan otentitas, identitas dan karakter sebenarnya juga merupakan wajah pasar yang dipenuhi oleh realitas imitatif atau tiruan, kepalsuan, tak memiliki identitas maupun karakter. Rekonsiliasi dua arah kreatifitas itu memperjelas wajah pasar yang secara tidak langsung menawarkan kesempatan sebagai sumber energi alternatif (bagi kreatifitas). Konsepsi pasar dan non-pasar menjadi semakin dikaburkan (blurred) karena dibutuhkan oleh energi kreatifitas.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *