HeadlineNasionalPalembangPendidikanSUMSEL

OPINI: Dalam Perspektif Feminisme Media, Hari Ibu BAGI IBU HEBAT MASA KINI

OLEH:

 Prof. Hj. Isnawijayani, MSi, Ph.D

Pascasarjana Universitas Bina Darma Palembang dan Dewan Pakar Bakti Persada Masyarakat Sumsel

 Setiap 22 Desember, Hari Ibu diperingati di Indonesia. Namun, peringatan ini kerap terjebak pada narasi sentimental yang menempatkan ibu semata sebagai figur domestik: penuh pengorbanan, sabar, dan mengabdi tanpa syarat. Narasi ini tampak manis, tetapi dalam perspektif feminisme media, justru problematis. Ia mengaburkan sejarah perjuangan perempuan dan memperkuat konstruksi gender yang timpang.

Hari Ibu sejatinya berakar dari Kongres Perempuan pertama tahun 1928 di Yogyakarta. Kongres ini merupakan ruang politik perempuan untuk menyuarakan ketidakadilan struktural yang mereka alami. Perempuan dari berbagai organisasi dan daerah membahas isu-isu strategis seperti keterlibatan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, kesehatan ibu dan anak, penolakan pernikahan usia dini, perdagangan perempuan dan anak, akses pendidikan, lapangan kerja, hingga partisipasi politik dan kepemimpinan perempuan. Fakta bahwa kongres ini berlangsung 27 tahun sebelum Indonesia merdeka menunjukkan betapa maju dan kritisnya pemikiran perempuan Indonesia saat itu. Namun, semangat emansipatoris tersebut kerap direduksi oleh media. Dalam perspektif feminisme media, media tidak pernah netral. Media bekerja melalui relasi kuasa yang sering kali patriarkal, sehingga representasi perempuan—termasuk ibu—dibingkai sesuai kepentingan dominan. Perempuan lebih sering ditampilkan sebagai objek visual, simbol pengabdian, atau pelengkap peran laki-laki, bukan sebagai subjek otonom dengan agensi dan suara politik.

Dalam banyak pemberitaan, iklan, dan tayangan hiburan, ibu digambarkan sebagai sosok yang bertanggung jawab penuh atas urusan domestik dan moral keluarga. Ketika terjadi persoalan sosial—kenakalan anak, kegagalan pendidikan, atau krisis moral—ibu sering dijadikan pihak yang paling disalahkan. Sebaliknya, kontribusi ibu sebagai pekerja, pengambil keputusan, atau aktor sosial sering diabaikan. Inilah yang oleh feminisme media disebut sebagai symbolic annihilation: penghapusan simbolik peran perempuan di ruang publik.

Di era digital, persoalan ini tidak serta-merta hilang. Media sosial memang membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi perempuan untuk bersuara. Namun, pada saat yang sama, tubuh dan identitas perempuan juga semakin rentan dikomodifikasi. Standar kecantikan, mitos ibu ideal, dan tuntutan menjadi “ibu sempurna” terus direproduksi melalui algoritma dan budaya populer digital. Ibu dituntut serba bisa: mengurus keluarga, sukses secara ekonomi, tampil ideal, sekaligus tetap patuh pada norma gender tradisional.

Dalam konteks ini, peran ibu menjadi paradoksal. Di satu sisi, ibu dituntut adaptif dan melek teknologi. Di sisi lain, ia dibebani ekspektasi sosial yang tidak adil. Perspektif feminisme media memandang bahwa ketimpangan ini bukan persoalan individual, melainkan persoalan struktural yang dibentuk dan diperkuat oleh media.

Karena itu, ibu masa kini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menggunakan gawai. Ibu membutuhkan literasi media kritis berbasis gender. Literasi ini memungkinkan ibu memahami bagaimana media membingkai perempuan, bagaimana stereotip diproduksi, serta bagaimana anak-anak—baik laki-laki maupun perempuan—menyerap nilai-nilai gender dari konten media sejak dini.

Dengan literasi media feminis, ibu dapat mendampingi anak-anak untuk membaca media secara membangun kesadaran kesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga, ibu berperan sebagai pendidik media pertama dan utama—bukan sebagai pengontrol otoriter, melainkan sebagai fasilitator dialog yang setara dan reflektif.

Pola komunikasi ini penting, karena feminisme media menekankan relasi yang setara, baik di ruang publik maupun privat. Anak tidak diposisikan sebagai objek aturan, melainkan sebagai subjek yang diajak berpikir kritis. Dengan cara ini, ibu tidak hanya melawan stereotip gender di media, tetapi juga membangun budaya komunikasi yang adil di dalam keluarga.

Memperingati Hari Ibu dari perspektif feminisme media berarti mengembalikan makna politik perjuangan perempuan. Hari Ibu bukan sekadar perayaan peran domestik, melainkan pengingat bahwa perempuan—termasuk ibu—adalah aktor sosial yang berhak atas representasi adil, suara publik, dan pengakuan atas kerja reproduktif maupun produktifnya.

Selamat Hari Ibu. Di tengah dominasi media yang masih bias gender, ibu tetap menjadi kekuatan kultural dan politis—ratu tanpa mahkota, namun bertelapak kaki surga—yang menanamkan nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan bagi generasi masa depan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *