HeadlineNasionalNUSANTARAPalembangPendidikanPolitikSUMSEL

DPRD Sumsel Anggarkan di 2023, Kegiatan Sejarah dan Budaya di Dispora Sumsel

Poto: Suasana Bicang Sejarah “ Perang Lima Hari Lima Malam di Kota Palembang yang di selenggarakan Cakrawala Perjuangan Indonesia (CPI), Minggu (2/1) di Panche Hub Coffe and art Space di Jalan Rambutan, No 20 Palembang.

 

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) Mgs Syaiful Padli mengatakan, pada Januari 2023 nanti ada keterlibatan dari Pemerintah Daerah di anggaran perubahan nanti terkait sejarah dan kebudayaan di Sumsel .
“Akan dimasukkan nanti kegiatan apapun namanya bisa pawai kebangsaan dan berkaitan dengan sejarah dan budaya dengan kegiatan lebih besar lagi dengan melibatkan semua element masyarakat,” kata politisi PKS ini di acara Bicang Sejarah “ Perang Lima Hari Lima Malam di Kota Palembang yang di selenggarakan Cakrawala Perjuangan Indonesia (CPI), Minggu (2/1) di Panche Hub Coffe and art Space di Jalan Rambutan, No 20 Palembang.
Dengan pemateri Pemerhati sejarah Palembang Rd Moh Ikhsan dan Penggiat sejarah Palembang, Robby Sunata.
Turut hadir diantaranya Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R M Fauwaz Diradja SH Mkn , Ketua Panitia Besar Peringatan Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang Vebri Al Lintani, Sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji, Ketua Cakrawala Perjuangan Indonesia (CPI) Kgs M Ilham Akbar berserta pengurus lain, budayawan Sumsel Ali Goik.
Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan peringatan perang lima hari lima malam di Kota Palembang yang diselenggarakan 55 lebih Komunitas yang ada di kota Palembang.
Sebelumnya Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Darussalam dan Sumatera Selatan (Kopzips) , Minggu (2/1) Palembang bersama komunitas lain melakukan ziarah ke Makam Pahlawan Kesatria Ksetra Siguntang di Jalan Jenderal Sudirman, Palembang dan Sahabat Cagar Budaya (SCB) menggelar kegiatan bincang pusaka dan Heritage Walk Palembang di Taman Jeramba Karang di Jalan Merdeka, Palembang dilanjutkan ke Lawang Borotan di Benteng Kuto Besak.
Nanti anggarannya menurut Syaiful akan berada di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumsel.
“ Ini bagian dari saya pribadi khususnya untuk lebih banyak lagi belajar sejarah ini,” katanya
Sekretaris Fraksi PKS DPRD Sumsel ini tidak bisa membayangkan bagaimana impact dari perang lima hari lima malam di Palembang dari tanggal 1 sampai 5 Januari 1947, apakah masyarakat Sumsel terutama Palembang terdampak secara ekonomi saat itu.
“ Sekarang pemerintah mengangkat masyarakat dari kemiskinan butuh waktu yang sangat panjang, mungkin kita perlu belajar dari sejarah dari pemimpin dahulu, bagaimana kemudian mengajak kepedulian seluruh rakyat bahwa kemiskinan ini harus ada gerakan dari semua masyarakat untuk bangkit,” katanya.
Politisi PKS ketika belajar dari sejarah , bagaimana dalam kondisi dibombardir Belanda, masyarakat Palembang bisa bangkit, artinya ada Power dari seorang leader yang luar biasa.
“ Strong leadership saya pikir yang itu kemudian di gali dari cerita sejarah kita, saya senang sekali bisa berdiskusi sejarah seperti ini setidaknya harus membumi,” katanya.
Pemerhati Sejarah Palembang, Rd Muhammad Ikhsan melihat Perang lima hari lima malam mengingatkan kembali kisah perjuangan rakyat Palembang mengusir Belanda dari bumi pertiwi.
Namun saat itu seluruh pasukan pejuang di Kota Palembang memutuskan untuk mundur sejauh 20 km dari pusat kota.
Sebab pasukan Belanda mengancam akan membumi hanguskan pusat kota Palembang dalam pertempuran tersebut.
“Karena masyarakat saat itu banyak yang berada di kota, jadi para pejuang kita memilih untuk mundur. Padahal kekuatan pejuang kita sudah kuat untuk berperang di kota.” Tapi karena khawatir rakyat jadi korban, akhirnya diputuskan untuk mundur sejauh 20 kilometer. Kejadian itu terjadi di bulan Januari tahun 1947,” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *