HeadlineNasional

Webinar LIterasi Digital: Peran Komunikasi Akademik dalam Pendidikan di Era Digital

PALEMBANG,  MEDIASRIWIJAYA  – Dalam Webinar Literasi Digital kelima wilayah Palembang, Sumatera Selatan  (Sumsel), Sabtu (12/6), seperti biasa dibuka dengan menayangkan video keynote speech dari Semuel Abrijani Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo RI).

Setelah disapa pemandu acara Avicenna, Key Opinion Leader yaitu Tomy Ristanto, presenter stasiun televisi swasta nasional yang pernah didapuk menjadi Moderator Debat Presiden Indonesia 2019 kelima menyampaikan sedikit pengantar mengulas secara ringkas maksud dari webinar kemarin yang mengambil topik “Peran Komunitas Akademik Dalam Pendidikan di Era Digital”.

Menurut pria kelahiran Tanggamus, Lampung 6 Maret 1982 ini, dunia tidak pernah lepas dengan sosial media. Hanya bagaimana kita memanfaatkan sosial media dengan baik.

“Selain itu, kita dapat memanfaatkan media digital untuk menuntut ilmu lebih banyak karena jarak bukan halangan lagi di era seperti saat ini,” ujarnya.

Sesi berikutnya, sambutan dari Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Sumsel yang diwakili oleh  Parmin SPd MM selaku Kepala Seksi (Kasi) Kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA). Pertama sekali, dia menyampaikan permohonan maaf karena Kepala Disdik Provinsi Sumsel, Riza Pahlevi tidak dapat bergabung karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. “Kami menyampaikan apresiasi kepada narasumber yang telah hadir. Agar kegiatan ini dapat memberi dampak pada guru dan siswa kita. Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut tidak hanya pada seri webinar namun melangkah ke seri workshop agar literasi digital dapat menjadi kebiasaan dalam setiap langkah kehidupan kita,” harapnya.

Lebih lanjut pada sesi pemaparan materi dari narasumber pertama yaitu Dr (cand) Fakhrur Rozi SIKom MIKom. Akademisi, Peneliti Literasi Media dan Budaya Digital ini menyampaikan materi cukup santai dan mudah diterima dengan tema “Literasi Digital Komunitas Akademik”.

Pandemi virus corona atau coronavirus disease 2019 (covid-19) menurut Fakhrur Rozi, dapat mempercepat transformasi digital. Tantangan pada dunia akademik adalah bagaimana kita bersinergi dengan transformasi digital. “Banyak aplikasi pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dalam kondisi pandemi seperti saat ini misalnya Zoom Meeting, Google Meet, Classroom. Terkait bahan ajar, para guru atau dosen dapat pula memanfaatkan beberapa website penyedia seperti google cendekia dengan memasukan kata-kata terkait,” ucapnya.

Pada sesi tanya jawab, seorang peserta bernama Edo Feri Irawan meminta pendapat pemateri Fakhrur Rozi mengenai apakah Kurikulum 2013 ada penyesuaian dengan transformasi digital lantaran tujuan pendidikan nasional membentuk karakter peserta didik menjadi lebih baik tidak dapat dilakukan dengan adanya transformasi digital.

Sembari tersenyum, Fakhur Rozi mengaku pertanyaan yang dilontarkan Edo cukup berat karena dia bukanlah seorang guru. “Memang pembelajaran digital dianggap menghilangkan peran guru kemudian menggantinya dengan mesin atau teknologi yang sejatinya memang tidak bisa menjadi seperti guru,” ujar dia.

Penggunaan teknologi di kurikulum 2013 menurut Fakhur Rozi, sebelumnya sudah didorong ke depan menjadi bagian dari proses pembelajaran. Tapi dengan adanya pandemi covid-19 seperti saat ini, teknologi tersebut semakin cepat dipaksa yang kemudian kita sebut dengan transformasi digital.

“Ada kekhawatiran di kalangan pendidik, bahwa karakter peserta didik tidak bakal bisa terbentuk seperti yang tadi disinggung saudara penanya, namun menurut saya apa yang kita lakukan saat ini (webinar literasi digital) adalah salah satu proses untuk mengatasi segala persoalan tersebut dengan harapan kita dapat memberikan yang terbaik dalam proses belajar mengajar,” pungkasnya.

Pemateri kedua, Tengku Adri Muslim, seorang Praktisi Komunikasi Digital mengangkat pembahasan selama 20 menit dengan tema “Pengaruh Transformasi Digital Bagi Komunitas Akademik”.

Proses transformasi digital ulas Tengku, sejatinya sudah masuk mulai awal 1990 ketika pencatatan berubah dari pencatatan secara manual menjadi pencatatan secara digital ketika komputer mulai masuk. Namun memang tidak semua dapat langsung menerima proses transfomasi digital ini.

“Sebelum pandemi, kampus belum dapat melakukan kegiatan pembelajaran secara online, namun pasca pandemi justru didorong untuk melakukan pembelajaran secara online,” urainya.

Prof Ir H Muhammad Said MSc PhD, Wakil Rektor IV Universitas Sriwijaya (Unsri) sebagai pemateri ketiga membeberkan topik yang diangkat dalam webinar tersebut dengan tema “Pendidikan di Era Digital”.

Sair berpendapat, era digital memudahkan proses pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kerjasama. Penggunaan sistem digital lebih efisien bila dibandingkan dengan sistem konvensional.

“Kegiatan seminar atau konferensi dapat dilakukan  secara daring tanpa terkendala dengan jarak, lokasi atau biaya. Literasi dikampus yang dilakukan adalah terkait data akademik, data perkantoran dan data perpustakaan,” tandasnya.

Tak kalah menarik paparan dari ketiga narasumber sebelumnya, lanjut pemateri keempat yaitu Ryllian Chandra Eka Viana MA, dosen Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, dengan paparan bertema “Media Sosial dan Demokrasi”.

Dalam dunia digital beber Ryllian, mempunyai perspektif tunggal sangat dihindari. Karena kita perlu mencari sudut pandang lain agar dapat menemukan kebenaran informasi.

“Kegiatan literasi digital ini dengan empat pilarnya telah memberi tambahan pengetahuan agar mahasiswa, dosen serta komunitas akademik lainnya dapat lebih cerdas dan cermat dalam memilah dan memilih infomasi di dunia digital,” tutupnya.

Dibincangi usai webinar, Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel menyebutkan, webinar yang keempat kemarin diikuti 367 orang peserta dari kalangan tenaga pendidik, guru dan dosen. Selanjutnya untuk webinar keenam bakal diselenggarakan Kamis, 17 Juni 2021 dengan tema “Peran Orang Tua dalam Memberikan Ajaran Keamanan Menggunakan Internet bagi Anak”.  (saf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *