HeadlineNasionalNUSANTARAPalembangSUMSEL

Untuk Merdeka Belajar: Guru SD Xaverius 2 Palembang Kunjungi Sekolah Eksperimental Mangunan di Yogyakarta

PALEMBANG,  MEDIASRIWIJAYA – Merdeka Belajar adalah sebuah program yang digagas oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim sebagai upaya untuk bebas berpikir dan berekspresi. Istilah Merdeka Belajar ini cukup populer setelah Kemendikbud meluncurkan kurikulum pendidikan yang baru, yaitu Kurikulum Merdeka. Untuk itu para guru SD Xaverius 2 Palembang melakukan kunjungan atau studi banding ke sekolah eksperimental Mangunan yang terletak di Jalan Kenanga Cupuwatu II, RT 3, RW 1, Purwo Martani, Kec. Kalasan, Kab. Sleman Prov. D.I. Yogyakarta pada Sabtu (14/10/2023).

 

Ana Yohana Kepala SD Xaverius 2 Palembang mengungkapkan bahwa para guru agar tidak terkungkung di lingkungannya sendiri, maka perlu mempunyai wawasan luar yang luas, tidak hanya melalui literasi buku, internet ataupun informasi lainnya, maka diperlukan langsung melihat apa yang belum diketahuinya sehingga dilakukan studi banding atau kunjungan ke TK-SD-SMP sekolah eksperimental Mangunan Yogyakarta.

 

Yohanes Carol Kurnia Kepala SD Eksperimental Mangunan Kalasan Yogyakarta yang diwakili oleh bapak Bayu, dll saat menerima kunjungan para guru dari SD Xaverius 2 Palembang menjelaskan bahwa sekolah TK-SD-SMP Eksperimental Mangunan berangkat dari kepedulian terhadap kaum miskin dan terpinggirkan, Oleh Romo Mangun disediakan sekolah untuk anak-anak miskin sekaligus melakukan uji coba, meneliti, dan merumuskan praktek-praktek pendidikan dasar lewat Sekolah Mangunan yang berada di Kampung Mangunan.

 

Sekolah ini hampir mati sebelumnya. Kemudian, pada tahun 1994, Romo Mangun menggunakannya untuk melakukan tes tersebut. Sekolah ini didirikan bersama Yayasan Kanisius, namun kemudian mandiri di bawah Yayasan Dinamika Pendidikan Dasar (DED) sebagai Sekolah Eksperimen Mangunan. “Kata tes digunakan sebagai tanda bahwa sekolah terus bereksperimen dan mencari pendidikan dasar yang tepat untuk anak,” kata Bayu.

 

Sekolah percobaan ini dianggap sebagai laboratorium Romo Mangun dan sebagai basis pengujian konsep-konsep dasar pendidikan yang sesuai untuk perkembangan anak secara menyeluruh. Konsep pendidikan Secara umum konsep pendidikan sekolah ini sama dengan sekolah lainnya. Satu-satunya perbedaan adalah ada lima pelajaran tambahan: Kotak soal, musik edukatif, matematika Pluspunt, membaca buku bagus dan menanamkan iman.

 

Pada mulanya perhatian diberikan kepada anak-anak dari kalangan kurang mampu secara ekonomi, namun pengembangan kemudian bergeser pada konsep tumbuh kembang anak dan pendidikan dasar formal. “Kami terus peduli terhadap masyarakat miskin dan membutuhkan. Hanya Romo Mangun yang juga bereksperimen di sekolah formal sehingga kami pun melanjutkan belajar di sekolah formal tersebut. Sekolah Percobaan Mangunan sebagian besar menerima siswa yang tinggal di desa sekitar. Saat ini sekolah tersebut berlokasi di Cupuwatu II, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. “Kalau ada anak desa ini yang melamar, kami tidak bisa menolak. Kami selalu menerima. Inilah yang dimaksud dengan prioritas. “Kalau ada anak yang mendaftar, pihak sekolah tidak bisa menerimanya, apapun alasannya kami terpaksa menerimanya,” kata Bayu soal penerimaan siswa.

 

SD Eksperimental Mangunan menyelenggarakan pembelajaran melalui tiga metode yaitu pembiasaan, pembelajaran berbasis proyek, dan pembelajaran. Pembiasaan tersebut dilaksanakan untuk mewujudkan nilai-nilai luhur dan spiritual anak melalui praktik hidup yang baik dan pembelajaran khas Mangunan (komunikasi keagamaan, membaca buku yang baik dan kotak soal). Pembelajaran berbasis proyek dirancang agar siswa terlibat aktif dalam pengambilan keputusan, merancang solusi, mengambil tanggung jawab terhadap penelitian dan pengelolaan informasi, serta memikirkan apa yang mereka lakukan.

 

Dalam pembelajaran berbasis proyek, proyek menjadi pusat atau inti program, bukan pelengkap program. Proyek mendorong siswa untuk bereksplorasi, berkreasi dan berintegrasi (dapat diterapkan pada kehidupan di lingkungannya). Pembelajarannya berupa materi konvensional dan membaca, menulis, dan berhitung merupakan keterampilan dasar anak dalam pengelolaan pengetahuan. Berdasarkan pohon kurikulum, pendidikan berkelanjutan meliputi seni bahasa, IPS, matematika, dan sains. Praktik pembelajaran seringkali mengacu pada berbagai teori perkembangan anak dan dikontekstualisasikan sesuai dengan lingkungan tempat anak belajar.(darisawalistyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *