HeadlineNasionalNUSANTARAPalembangPendidikanSUMSEL

UIN Raden Fatah Palembang Bekerja Sama dengan LPDP Gelar Pelatihan melalui Beasiswa non-Degree dalam Bentuk TOT

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA  — Kementerian Agama RI  terus mengupayakan pengarusutamaan moderasi beragama, untuk membangun harmonisasi di Indonesia dengan beragam latar belakang agama dan budaya yang dimiliki. Salah satu aktor yang dianggap memiliki peran sangat berpengaruh untuk menanamkan nilai-nilai moderasi kepada masyarakat adalah para akademisi karena dinilai sebagai gerbang utama dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan memiliki kredibilitas yang tinggi.

Kali ini Kementerian Agama melalui perguruan tinggi UIN Raden Fatah Palembang bekerja sama dengan LPDP mencoba memberikan pelatihan melalui beasiswa non degree dalam bentuk TOT dengan tema “program penguatan moderasi beragama melalui pendanaan LPDP Tahun 2022. Program ini dibuat untuk membentuk SDM Indonesia yang berpegang teguh dengan nilai dan esensi ajaran agama, berorientasi kemaslahatan umum dan menjunjung tinggi komitmen kebangsaan.

Prof. Dr. Suyitno, M.Ag Kepala Litbang dan Diklat Kementerian Agama yang juga merupakan salah satu fasilitator dalam kegiatan tersebut memberikan pemahaman bahwa nilai moderasi beragama harus dipahami secara benar, karena saat ini banyak sekali pemahaman yang salah dan menganggap bahwa program moderasi beragama akan merusak akidah dan menimbulkan ekstream liberal atau justru menimbulkan ektrimist baru yang seharusnya dapat diperangi.

Dalam paparannya, Suyitno mengatakan bahwa saat ini kita hidup dalam era digital, sehingga dalam melakukan pendekatan mengenai program moderasi beragama tidak cukup dengan metode konvensional seperti workshop, pelatihan, zoom dan sebagainya, diperlukan media baru untuk membawa pesan moderasi beragama kepada masyarakat. media sosial akan menjadi media yang dianggap efektif untuk melakukan pengarusutamaan moderasi beragama,

Ada catatan menarik dari Prof Suyitno, dimana yang dianggap memberi pengaruh besar untuk mensukseskan penanaman nilai moderasi beragama adalah generasi Z karena generasi Z saat inilah yang akan terus membawa nilai-nilai moderasi agama di masa depan, tetapi hal utama yang harus dipahami bahwa generasi Z merupakan generasi yang tidak lepas dari dunia digital sehingga dengan demikian peserta pelatihan, dituntut untuk mampu mengisi ruang digital dengan konten-konten moderasi beragama sebagai penyeimbang sekaligus pengarusutamaan informasi mengenai moderasi beragama di ruang media sosial, baik youtube, fanspage Facebook, twitter, Instagram, tiktok, pembuatan meme, dan lainnya,”.

Terakhir beliau mengatakan bahwa sebagai warga Indonesia, kita terlahir bukan sebagai pendiri melainkan Indonesia sudah dilahirkan oleh pendirinya di masa lampau, sehingga kita memiliki tugas untuk menjaga dan merawat serta mensyukuri apa yang sudah diwariskan. Indonesia adalah milik kita sehingga kita harus menjaga nama baik Indonesia dan salah satu upaya tersebut adalah menanamkan nilai-nilai moderasi beragama untuk menjaga keharmonisan bangsa. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *