HeadlineNasionalPalembangSUMSEL

Tetap Eksis Peduli HIV AIDS, TB dan Penyalahgunaan Napza, YIM dan PKBI DKI Jakarta Gelar Diskusi Bersama

Teks foto: Suasana pembukaan acara dengan pembawa acara, Sari Palupi.

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Yayasan Intan Maharani (YIM),  lembaga swadaya masyarakat di Sumatera Selatan (berbasis di Palembang) yang fokus pada penanggulangan masalah kesehatan masyarakat, sosial, dan Pendidikan dengan Peran utamanya penjangkauan, pendampingan dan penguatan komunitas dan HAM. Selain juga berperan sebagai pendampingan kelompok berisiko HIV/AIDS, pemberdayaan anak jalanan, serta edukasi kesehatan.

Ket foto: Ketua YIM, Drs. Syahri, M.Si saat sambutan.

YIM sebagai penghubung dan perujuk kebutuhan komunitas ke layanan rujukan yang dibutuhkan komunitas, kali ini menggelar kegiatan Community working group coordinator meeting among communities to discuss finding from the reguler monitoring and setting the advocacy strategy (BL 44) dengan melibatkan berbagai stakeholders di kota Palembang untuk duduk Bersama, berdiskusi, berkoordinasi dan kolaborasi. “Membangun koordinasi, sinergy dan jejaring antara NGO dan Stakeholder dalam penguatan jejaring layanan berbasis kebutuhan komunitas,” ujar Ketua YIM, Drs. Syahri, M.Si saat sambutan pada pembukaan acara yang digelar di Hotel The Zuri Palembang, Kamis 21 Mei 2026.

Menurutnya, digelarnya kegiatan ini sebagai kelanjutan dari kegiatan-kegiatan sebelumnya. Pertemuan yang disebutkannya sharing ini untuk menyikapi kondisi yang kini terjadi. ”Para pemangku kepentingan tersebut terdiri dari dinas Kesehatan kabupaten dan provinsi, lembaga penegak hukum, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan terkait lainnya. Pertemuan ini hendaknya dimanfaatkan untuk memfasilitasi pembahasan peraturan, mekanisme, penyelesaian masalah, dan permasalahan makro lainnya di masing-masing bidang dan di kalangan komunitas populasi kunci. Kota Palembang sudah memiliki layanan dan pengobatan HIV AIDS dan TB yang merata di semua wilayah yang ada di kota Palembang, baik puskesmas maupun rumah sakit, Namun implementasi di lapangan masih kita temui adanya keluhan maupun aduan dari penerima manfaat terutama populasi kunci dan Odhiv adanya stigma dan diskriminasi,” tambahnya.

Lebih jauh disebutkan Syahri, issue terkait masih adanya bentuk-bentuk stigma diskriminasi serta pelanggaran HAM yang dialami oleh komunitas populasi kunci baik di layanan Kesehatan maupun layanan publik serta lingkungan. Kegiatan ini mengundang stakeholder dan NGO yang terlibat dalam program untuk menindak lanjuti issue yang menjadi kendala dan menghambat jalannya program penangulangan HIV TB di kota Palembang.

Pada kesempatan ini Syahri juga menyebutkan bahwa pemahaman generasi muda (akademisi) terhadap isue HIV AIDS, IMS, kekerasan berbasis Gender (GBV), pemahaman gender pada populasi kunci  terhadap akses layanan kesehatan dan publik terkait stigma dan Diskriminasi. ”Kami dari YIM sebagai penghubung dan perujuk kebutuhan komunitas ke layanan rujukan yang dibutuhkan komunitas berharap melalui pertemuan ini kita bisa membangun koordinasi, sinergy dan jejaring antara NGO dan Stakeholder dalam penguatan jejaring layanan berbasis kebutuhan komunitas,” katanya.

Teks foto: Drs Suharni, MA saat memaparkan kondisi kota Palembang saat ini dan harapan di tahun 2030.

Di tempat yang sama, Drs Suharni, MA (Wakil Ketua YIM) yang pada kesempatan ini memaparkan kondisi Kota Palembang Tanpa AIDS Tahun 2030. Namun sebelumnya, secara singkat Suharni menjelaskan situasi yang terjadi di kota Palembang terkait dengan HIV AIDS, perkembangan dan stigma yang terjadi. ”Pertemuan ini koordinasi membahas lebih lanjut terkait program penanganan HIV AIDS di kota Palembang. Koordinasi dan kerjasama nanti akan berbagi tanggungjawab, siapa mengerjakan apa. Masing-masing berperan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing,” katanya seraya menambahkan hasil pertemuan hari ini sebagai bahan masukan. Pada kesempatan ini, Suharni juga menyebutkan bahwa sampai akhir Desember 2026 dukungan dari Global Fund akan berakhir maka hal ini juga menjadi perhatian bersama, antisipasi dan partisipasi penanganan ke depan terkait keberlanjutannya.

Teks foto: Para peserta.

Teks foto: Perwakilan peserta dari WCC, PWNU, Perguruan Tinggi dan Dinas Sosial.

Teks foto: Perwakilan Baznas Kota Palembang saat memberikan pernyataan.

Teks foto: Pendeta, perwakilan dari Gereja HKBP.

Teks foto: HKBP AIDS Ministry Distrik XV Sumbagsel.

Paralegal Officer YIM, Anyk Kurniati SE didampingi Koordinator SSR YIM, Leonardo menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar dengan mengundang berbagai pihak di antaranya dari Yayasan Intan Maharani yang meliputi CSS HR (Paralegal, Advokasi, Tehnical Officer), Monev SSR PR IAC, Dinas Kesehatan Kota Palembang, Kementerian Sosial Sentra Budi Perkasa, Baznas Palembang, Dinas Sosial Kota Palembang, Dinas PPPA Kota Palembang, ICMI, PWNU, HKBP AIDS Ministry Distrik XV Sumbagsel, LKC Dompet Dhuafa, PKVHI Sumsel, LBH Limas Keadilan, Wahana Cita Indonesia Kota Palembang, WCC (Womens Crisis Center) Kota Palembang, LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia), serta dari media massa (Media Sriwijaya). (saf)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *