Reses Dua Hari, Aspirasi Mengalir dari SMA YIS hingga SMKS Bina Amarta
OKUTIMUR, MEDIASRIWIJAYA – Kegiatan reses Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan Fraksi PAN, Fenus Antonius, digelar di dua sekolah swasta berbeda. Di SMA YIS Martapura pada Jumat (13/2/2026) dan di SMKS Kesehatan Bina Amarta Martapura pada Sabtu (14/2/2026). Dalam dua agenda tersebut, suasana terasa seperti paket komplet, ada wejangan politik, peringatan bahaya narkoba, hingga pembahasan fasilitas sarana sekolah yang dinilai masih perlu perhatian.
Di hadapan para pelajar, Fenus mengingatkan agar generasi muda tidak alergi terhadap politik.

Menurutnya, kebijakan yang mengatur hidup orang banyak lahir dari keputusan politik, baik di ranah legislatif maupun eksekutif. Jika ingin masa depan berubah, siswa tidak bisa hanya menjadi penonton.
Pesan itu mungkin terdengar klise. Namun di tengah citra politik yang kerap membuat orang mengernyit, ajakan agar siswa tidak apatis setidaknya membuka ruang diskusi. Pendidikan, anggaran sekolah, hingga pembangunan daerah bukan proses instan. Semua melewati mekanisme panjang dan sering kali alot.
Tak hanya soal politik, Fenus juga menyinggung bahaya narkoba yang mengintai usia sekolah. Ia meminta para pelajar menjauhi penyalahgunaan narkotika agar cita-cita tetap terjaga. Pesan klasik, tetapi tetap relevan di tengah ancaman yang nyata.


Ia pun menitipkan pesan agar siswa menghormati dan mencintai guru. Guru disebutnya sebagai orang tua di sekolah. Ilmu yang diberikan dengan ikhlas diharapkan menjadi bekal berharga untuk masa depan. Pendidikan, dalam narasi ini, bukan sekadar angka di rapor, melainkan pembentukan karakter dan keberkahan ilmu.
Menariknya, reses kali ini tidak berhenti pada petuah. Soal fasilitas di SMA YIS Martapura dan SMKS Kesehatan Bina Amarta Martapura, Fenus menyatakan akan membawa aspirasi kedua sekolah tersebut untuk diperjuangkan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan agar bisa direalisasikan secepatnya.

Sebab berbicara tentang generasi melek politik dan siap bersaing di era digital akan terasa janggal jika ruang guru masih butuh renovasi dan laboratorium komputer masih sebatas wacana. Di titik itulah reses diuji, bukan hanya pada kata-kata, tetapi pada seberapa jauh aspirasi benar-benar berujung pada perubahan nyata. (sup)





