Rektor Unika Musi Charitas  Narsum Talk Show Nasional, Pendidikan Tinggi Katolik: Berinovasi di Tengah Pandemi

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA –  Kanal Katolikana TV, sebuah kanal televisi yang menjadi tempat untuk persemaian orang muda dengan semangat seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia menghadirkan diskusi tentang bagaimana Pendidikan Tinggi Katolik di Indonesia berinovasi menyikapi pandemi covid-19.  Rektor Unika Musi Charitas Palembang Dr Antonius Singgih Setiawan, SE,. M.Si  dan Drs Kuncoro Foe G.Dip.Sc, Ph.D Apt Rektor Unika Widya Mandala Surabaya sebagai nara sumbr acara Live Talkshow #BERBAGIHARAPAN di KatolikanaTV pada Senin (5/7) pkl 20.00 WIB dengan tema “ Pendidikan Tinggi Katolik: Berinovasi di tengah Pandemi “  dan host acara Veronica Kaban.

Diskusi berlangsung menarik diawali dengan menunjukkan masing-masing profil perguruan tinggi. Universitas Katolik Musi Charitas Palembang sebagai universitas yang masih relatif muda memiliki empat fakultas yaitu Fakultas Bisnis dan Akuntansi yang terdiri dari prodi Akuntansi dan Prodi Manajemen, Fakultas Ilmu Kesehatan yang terdiri dari prodi DIII Keperawatan, DIII Kebidanan, S1 Ilmu Keperawatan, DIV Teknologi Laboratorium Medis, Fakultas Sain dan Teknologi terdiri dari prodi Arsitektur, Teknik Industri, Teknik Informatika dan Sistem Informasi, serta Fakultas Humaniora dan Ilmu pendidikan yang terdiri dari prodi PGSD, Pendidikan Bahasa Inggris dan Psikologi. Sementara itu, Universitas Katolik Widya Mandala memiliki 12 fakultas dengan 38 prodi.

Tantangan Perguruan Tinggi dan lembaga pendidikan di masa pandemi saat ini, utamanya di Unika Musi Charitas dan kondisi saat ini menjadi hikmah, bagaimana tata kelola dan bisa bertahan serta tantangan  pendidikan  karena pada sebelumnya dalam menghadapi pembelajaran atau perkuliahan masih menggunakan secara manual biasa dan konvensional. Dengan adanya pandemi Covid-19 saat ini mau tidak mau  semua lini harus segera berbenah dengan segala keterbatasan yang ada baik Sumber Daya Manusia, ataupun Sumber daya aset. Hal – hal yang sebelumnya secara manual di masa pandemi sudah dilakukan secara digital, pemanfatan LMS dalam pembelajaran dalam dua semester telah dilaksanakan dengan baik. Dosen-dosen yang sebelumnya belum terbiasa menggunakan multi media dan  pembelajaran secara elektronik  misalnya platfom lumen, g-meet, zoom,  mau tidak mau semua harus menggunakannya. Pada administrasi yang awalnya menggunakan kertas cetak dengan kondisi ini maka selanjutnya menggunakan paperless , misalnya laporan-laporan PPL,  Penelitian LPPM, yang biasanya laporan dicetak dan dijilid, saat ini cukup menggunakan fail-elektronik saja. Mahasiswa melaksanakan ujian biasanya menggunakan cetak kertas, maka sekarang menggunakan fail-elektronik. Di perkantoran-pun juga demikian, surat keterangan dll tidak lagi dicetak kertas namun cukup dengan fail-elektronik.  Ada banyak tantangan dalam masa situasi pandemi saat ini, namun di situ juga kita banyak belajar dan semua pasti ada solusimya . Setiap masalah  tentu ada solusinya dan solusi itu akan berhubungan dengan upaya kreatif dan inovatif.

Sedangkan pembicara kedua Kuncoro Foe Rektor Unika Widya Mandala Surabaya  juga mengamini apa yang disampaikan oleh Rektor UKMC. Selanjutnya dikatakan bahwa dinamika di Widya Mandala Surabaya juga tak jauh beda dengan situasi di Unika Musi Charitas Palembang  bahwa solusi selalu ada dalam masalah yang dihadapi, tinggal bagaimana  respon kita.  Apakah kita merespon dengan bijaksana atau  percaya diri penuh semangat untuk  terus mau belajar  atau berhenti penuh penyesalan, keputusasaan sehingga  menyalahkan banyak pihak  atau malahan menyalahkan sang Pencipta ataupun menyalahkan dirinya sendiri.

Fenomena – fenomena  bagi generasi tua , generasi X, generasi boomers, mungkin heran melihat tingkah laku generasi-generasi muda, milenial, generasi emas saat ini yang bisa mengakhiri hidupnya. Karena adanya pandemi Covid -19 generasi muda / milenial banyak yang sebelumnya gaptek ( gagal teknologi ) harus mengikuti pembelajaran melalui zoom, g-meet, karena belum terbiasa, belum biasa menggunakan virtual blacground , prinsipnya sesuai dengan keterbatasan . Namun pandemi ini menjadi berkat bagi umat manusia, di mana sebelumnya tidak terfikirkan dan tidak pernah disentuh mengenai teknologi informasi elektronik. Di mana guru, dosen, ataupun masyarakat tidak pernah belajar  ataupun tidak pernah menyentuhnya misalnya aplikasi  digital learning platform, Akhirnya dosen-dosen mau belajar untuk mengimplementasikan digital learning flatform. karena belajar itu hal yang tidak mudah . Kita tidak boleh berputus asa  karena pada akhirnya dunia ini kita belajar untuk kehidupan.  Perguruan Tinggi selalu ditantang melalui penelitian, pengabdian keda masyarakat  menjadikan inovasi dan kreativitas membantu meningkatnya peran Universitas. Tantangan dan kendala pasti  selalu ada namun Tuhan tidak akan memberi cobaan sebesar apa yang ditanggung oleh manusia . Pemahaman “ Habitus Baru “  memberikan pengetahuan pada saat ini berbeda dari biasanya , bagaimana kita menjaga semangat untuk belajar, menjaga semangat untuk berkomunikasi, untuk selalu bersabar  dan juga selalu berusaha untuk dapat berprestasi di masa covid-19 saat ini.

Pada akhir diskusi, Antonius Singgih menekankan bahwa pada keadaan pandemi dimana kuliah masih dilakukan secara daring, setiap dosen harus juga belajar memahami keadaan yang dimiliki oleh mahasiswa dan orang tua mahasiswa. Mereka tidak semua memiliki kemampuan untuk membeli internet yang baik dan sarana pembelajaran yang memadai. Untuk itu, semua dosen Universitas Katolik Musi Charitas harus menggunakan variasi-variasi digital platform untuk menciptakan interasi pembelajaran yang menarik. Yang terpenting adalah tercipta diskusi yang menarik antara dosen dan mahasiswa dalam setiap kegiatan perkulihan secara daring. Sementara untuk permasalahan kesulitan biaya sekolah yang dialami oleh mahasiswa selama pandemi, Universitas Katolik Musi Charitas juga tidak tinggal diam. Universitas Katolik Musi Charitas memberikan kemungkinan mahasiswa untuk mengajukan angsuran pembayaran SPP dalam beberapa kali dan bahkan dimungkinkan bagi mahasiswa untuk mengajukan penundaan pembayaran. “Namun mahasiswa harus terlebih dahulu mengajukan permohonan tertulis kepada pihak universitas,” demikian ditambahkan oleh Antonius Singgih.   (daris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *