EkonomiHeadlineNasionalPalembangSUMSEL

Produksi Beras Sumsel 2026 Alami Penurunan

  •  Konsumsi Pangan Penduduk
  • Diperkirakan Capai 2,03 Juta Ton

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA  – Produksi beras pada 2026 untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan mencapai 2,03 juta ton, atau diperkirakan mengalami penurunan sebanyak 53,33 ribu ton atau 2,56 persen dibandingkan produksi beras di 2025 yang sebanyak 2,08 juta ton. Demikian disampaikan resmi oleh Badan Pusak Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan dalam Rilis Bulanan di Kantor BPS Sumsel, Senin (2/11).

Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto menjelaskan produksi padi di Sumsel tahun 2026, berdasarkan angka sementara, Hasil KSA amatan September 2026 pihaknya mencatat luas panen padi pada 2026 diperkirakan mencapai 622,86 ribu hektare, atau diperkirakan mengalami penurunan sebesar 13,46 ribu hektare atau 2,12 persen dibandingkan luas panen padi di 2025 yang sebesar 636,32 ribu hektare. “Sementara produksi padi pada 2026 diperkirakan sebanyak 3,53 juta ton GKG, atau diperkirakan mengalami penurunan sebanyak 92,87 ribu ton atau 2,56 persen dibandingkan produksi padi di 2025 yang sebanyak 3,63 juta ton GKG,” kata Wahyu.

Pada kesempatan ini Wahyu juga merilis NTP Sumsel pada Oktober 2026 yang tercatat sebesar 164,88 atau naik sebesar 5,24 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan NTP Oktober 2026 dipengaruhi oleh naiknya NTP pada hampir semua subsektor, dimana masing-masing naik: Tanaman Pangan 0,11 persen, Hortikultura 3,79 persen, Perkebunan sebesar 6,41 persen, Perikanan 0,65 persen, Perikanan Tangkap 0,89 persen dan Perikanan Budidaya 0,27 persen. Sedangkan NTP subsektor yang mengalami penurunan yaitu subsektor Peternakan 0,33 persen.”Pada Oktober 2026, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Provinsi Sumatera Selatan mengalami kenaikan sebesar 0,40 persen, yaitu dari 132,34 menjadi 132,87. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Sumatera Selatan Oktober 2026 sebesar 164,97 atau naik 5,52 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya,” tambah Wahyu.

Di sisi lain, BPS Sumsel juga merilis inflasi Sumsel pada Oktober 2026. Inflasi year on year Sumsel sebesar 2,87 persen, tertinggi di Kabupaten Muaraenim yaitu sebesar 3,46 persen. “Pada Oktober 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sumatera Selatan sebesar 2,87 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,70. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Muara Enim sebesar 3,46 persen dengan IHK sebesar 114,99 dan terendah terjadi di Kota Palembang sebesar 2,69 persen dengan IHK sebesar 111,95. Tingkat inflasi month to month (m-to-m) Provinsi Sumatera Selatan Bulan Oktober 2026 sebesar 0,44 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) sebesar 2,34 persen,” ujarnya.

Secara umum untuk neraca perdagangan Sumsel periode Januari – September 2026 surplus US$3.662,31 juta berasal dari sektor nonmigas US$3.157,22 juta dan sektor migas sebesar US$505,10 juta. “Ekspor Januari–September 2026 mencapai US$4.683,50 juta. Sementara untuk  Impor Januari–September 2026 senilai US$1.021,18 juta,” kata Wahyu. (saf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *