PGK Sekolah Katolik Gelar Seminar Implementasi Kurikulum Merdeka

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Perkembangan dunia pendidikan terlihat kompleks dalam realita pelayanan jasa pendidikan, terutama dalam kondisi pandemi belakangan ini. Di sisi lain, di dalam kancah perkembangan dunia teknologi informasi yang semakin mengglobal, dunia yang demikian luas terkesan demikian sempit tanpa jarak. Terlebih mulai Tahun Pelajaran 2022/2023 , kurikulum nasional memiliki tiga opsi kurikulum yang bisa dipilih satuan pendidikan untuk pemulihan pembelajaran di masa pandemi Covid-19, yaitu Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat (Kurikulum 2013 yang disederhanakan) dan Kurikulum Merdeka. Perlu diketahui bahwa keberadaan kurikulum merdeka ini tidak akan diwajibkan oleh pemerintah kepada sekolah, melainkan ditawarkan sebagai opsi atau pilihan. Fakta fenomenal ini memerlukan kesigapan bertindak sehingga Paguyuban Guru-Karyawan Sekolah Katolik Kota Palembang memandang perlu mengadakan seminar guna melakukan pengkajian antisipatif, prediktif, dan reflektif multidimensional misi katolisitas guna membentuk layanan keunggulan yang khas sekolah Katolik.
Paguyuban Guru-Guru Karyawan Sekolah Katolik (PGK) Palembang sebagai wadah organisasi pendidik menyikapi perubahan tersebut mengadakan seminar dengan tema “ MEMANTAPKAN LAYANAN PENDIDIKAN KARAKTER SEKOLAH KATOLIK DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM MERDEKA” pada Jumat ( 20/5/2022) bertempat di gedung Xaverius Centrum Studiorom Komplek Yayasan Xaverius Jalan Bangau Palembang yang diikuti oleh pendidik dari TK-SD-SMP-SMA/K Sekolah Katolik di bawah naungan Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Palembang seperti Yayasan Xaverius, Yayasan Mardi Wiyata, Yayasan Santo Louis, Yayasan lembaga Miryam dan Yayasan Dharma Ibu. Nara sumber yang dihadirkan adalah Mgr Yohanes Harun Yuwono, Uskup Keuskupan Agung Palembang, Dr Singgih Setiawan Rektor UKMC, dan Ibu Yustinawati Pengawas Dinas Pendidikan Kota Palembang.
Drs N Suseno ketua PGK Palembang mengungkapkan bahwa kondisi pendidikan saat ini memberikan kesulitan tersendiri bagi orang tua dan sekolah untuk membentuk kartakter pribadi peserta didik. Oleh karena itu, para pendidik, orang tua, dan siswa maupun masyarakat perlu diberi kejelasan figur pribadi yang baik untuk pembentukan dan pengembangan karakter peserta didik. Perlu dilakukan kegiatan yang terarah, terpadu, terkoordinasi dari berbagai pihak tersebut demi bentuk layanan pendidikan yang baik. Konstituen pendidikan perlu merefleksi, mengevaluasi, memprediksi, dan mengantisipasi ke arah pengembangan karakter yang memiliki keunggulan yang lebih baik.
Rd Stepanus Supardi, M.Pd Komisi Pendidikan ( Komdik) Keuskupan Agung Palembang dan juga Moderator PGK serta Ketua Yayasan Xaverius Palembang membuka resmi acara seminar , dalam sambutannya mengatakan bahwa agar para pendidik tak perlu takut dengan perubahan zaman, saling berinovasi, berkolaborasi dan terus mengikuti perkembangan.
Singgih Setiawan Rektor UKMC mengungkapkan bahwa dalam konteks masyarakat luas, khususnya Palembang, dewasa ini sering terdengar selentingan atau semacam keluhan dari kalangan awam dan khususnya umat Katolik, bahwa seolah pendidikan di sekolah Katolik tidaklah seperti dahulu. Dalam suatu generasi sebelum era ini, bahkan generasi-generasi sebelumnya, boleh dikatakan hampir semua sekolah Katolik terkenal amat baik mutunya dan banyak diminati oleh orang tua, masyarakat, dan peserta didik. Kini fenomena lain yang muncul seolah predikat di atas tidak melekat secara otomatis di sebagian besar sekolah-sekolah Katolik sehingga memberikan banyak dampak, terutama dalam jumlah peserta didik.
Mgr Harun berharap hasil seminar diharapkan agar insan pendidik sekolah Katolik menerapkan layanan pendidikan dalam kehidupan belajar dan mengajar sekaligus mengubah kerangka berpikir, perkataan, perbuatan, dan sikap dalam layanan kurikulum merdeka, juga, perubahan dalam layanan pembelajaran yang lebih mengedepankan kemerdekaan siswa sebagai peserta didik untuk memilah dan memilih masa depannya sesuai dengan perkembangan dan kompetensi yang dimilikinya. Sedangkan materi ibu Yustinawati lebih memfokuskan materi esensial dalam Kurikulum Merdeka. (daris)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.