HeadlineNasionalPalembangPendidikanSUMSEL

Pesparani Katolik II Sumsel Resmi Dibuka

* Semangat Persaudaraan Lintas Agama

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA — Suasana kehangatan, sukacita iman, dan semangat kebersamaan mewarnai pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik II Provinsi Sumatera Selatan yang digelar di Kompleks Sekolah Kusuma Bangsa, Palembang, pada Jumat (23/10/2026) malam. Perhelatan akbar keagamaan dan seni rohani yang berlangsung hingga 25 Oktober 2026 ini menjadi momentum bersejarah dalam memperkokoh kerukunan antarumat beragama di Bumi Sriwijaya.

Mengangkat tema “Berjalan Bersama dalam Harmoni, Bersaksi dalam Kasih di Tengah Keberagaman, Mewujudkan Sumsel Maju melalui Persaudaraan Sejati”, pembukaan Pesparani II Sumsel menyuguhkan keindahan toleransi melalui pertunjukan seni lintas agama. Para tamu undangan disuguhi penampilan Tari Kreasi yang dibawakan oleh santri Pondok Pesantren Aulia Cendikia Palembang, pesona Tari Bali, hingga keharmonisan alunan vokal dari Vivace Choir Sekolah Kusuma Bangsa.

Acara ini dihadiri jajaran tokoh lintas sektor dan lintas agama, di antaranya Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang Romo Yohanes Kristianto, Sekretaris LP3KN Salman Habeahan, Plt. Ketua LP3KD Sumsel Alphonsus Supardi, Wakil Ketua PWNU Sumsel Isniaini Madani, serta Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Panji Tjahjanto yang hadir mewakili Gubernur Sumatera Selatan.

Secara resmi, pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Panji Tjahjanto didampingi para pimpinan lembaga dan tokoh keagamaan. Dalam sambutannya, Panji menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya acara ini sebagai wujud nyata menjaga komitmen Sumatera Selatan sebagai daerah yang aman dan kondusif. “Sumatera Selatan hingga saat ini terus dikenal sebagai provinsi yang zero conflict. Mari kita jadikan Pesparani II ini sebagai pendorong untuk memperkuat persaudaraan sejati, memelihara toleransi, dan menghidupkan semangat gotong royong,” tegas Panji.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua PWNU Sumsel, Isniaini Madani menegaskan bahwa keberagaman adalah anugerah terbesar bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, seni dan musik rohani memiliki kekuatan besar dalam merekatkan hubungan kemanusiaan. “Musik dan nyanyian dalam Pesparani bukan sekadar kompetisi atau alunan nada, melainkan media suci untuk mengagungkan nama Tuhan, memperhalus budi pekerti, serta memancarkan nilai-nilai kasih dan kedamaian,” ungkap Isniaini.

Sementara itu, Sekretaris LP3KN, Salman Habeahan, menekankan dimensi pembinaan karakter di balik ajang ini. Ia mengibaratkan paduan suara sebagai refleksi kehidupan berbangsa dan bernegara.”Keindahan paduan suara tidak lahir karena semua orang menyanyikan nada yang sama, melainkan karena perbedaan suara berpadu secara harmonis. Ini pelajaran berharga bagi kehidupan berbangsa: belajar menyampaikan pendapat tanpa merendahkan, menegakkan keyakinan tanpa memusuhi, serta memperjuangkan kepentingan bersama tanpa mengabaikan perbedaan,” jelas Salman.

Ketua LP3KD Provinsi Sumatera Selatan, Alphonsus Supardi, mengingatkan para kontingen agar mengutamakan ketulusan dalam bernyanyi dibandingkan sekadar mengejar piala. Ia menekankan pesan persatuan khas daerah: “Wong kito galo”. “Pesparani adalah wadah memuliakan Tuhan melalui talenta seni yang dipercayakan kepada kita. Bernyanyilah dari hati. Walaupun datang dari kabupaten/kota yang berbeda, kita tetap satu kesatuan,” ujar Supardi. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemprov Sumsel, Kanwil Kemenag Sumsel, Keuskupan Agung Palembang, dan Yayasan Sekolah Kusuma Bangsa atas dukungan penuh mereka.

Ketua Panitia Pesparani II Sumsel, Harmadi, menjelaskan alasan historis pemilihan bulan Oktober sebagai waktu pelaksanaan. Penyelenggaraan ajang ini diselaraskan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda untuk mengobarkan kembali semangat “100% Katolik, 100% Indonesia”.

Ajang dua tahunan ini diikuti oleh 727 peserta dan official dari 9 LP3KD kabupaten/kota se-Sumatera Selatan, termasuk Palembang, Prabumulih, hingga Lubuk Linggau. Jika digabungkan dengan jajaran panitia dan tamu undangan, total peserta yang memeriahkan acara mencapai lebih dari 1.000 orang.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta bersaing secara sportif dalam 13 cabang lomba, yang mencakup berbagai kategori paduan suara, pembacaan mazmur, bertutur Kitab Suci, hingga cerdas cermat rohani. Melalui Pesparani II Sumsel, seluruh peserta diharapkan membawa pulang pengalaman spiritual yang mendalam serta mempererat persekutuan di tengah masyarakat yang majemuk.(daris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *