HeadlineNasionalPalembangSUMSEL

Perempuan Palembang Deklarasikan Komitmen Dukung Transisi Energi Berkeadilan

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA  – Yayasan Mitra Hijau (YMH) menyelenggarakan Diskusi Penguatan Kelompok Perempuan dan Pembentukan Forum Perempuan Energi Berkeadilan Sumatera Selatan di Hotel Swarna Dwipa, Palembang, Selasa (3/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari Proyek IKI–JET (The innovation Regions for Just Energy Transition) yang didukung Pemerintah Jerman, dengan tujuan memperkuat peran perempuan dalam agenda transisi energi berkeadilan di Sumatera Selatan.

Kegiatan di Kota Palembang ini dihadiri oleh perwakilan organisasi perempuan lintas agama dan komunitas, antara lain Aisyiyah Sumatera Selatan, IPEMI Sumatera Selatan, Wanita Budhis Indonesia, Wanita Katolik Republik Indonesia, Muslimat Nahdlatul Ulama, perwakilan perempuan Protestan, Wanita Hindu Dharma Indonesia, serta komunitas Bank Sampah Kenanga dan Bank Sampah Sakura.

Dalam sesi pertama, Coordinator Sumatera Selatan YMH, Ressy Tri Mulyani, S.H., M.H, memaparkan situasi terkini mengenai pentingnya perspektif gender dalam transisi energi. Ia menegaskan bahwa Sumatera Selatan yang selama ini bertumpu pada sektor batu bara menghadapi tantangan besar dalam proses peralihan menuju energi bersih.

“Perempuan adalah pengguna energi utama di rumah tangga dan pelaku aktif UMKM. Namun, dalam banyak kebijakan energi, suara mereka belum terakomodasi secara memadai. Transisi energi yang tidak responsif gender berisiko memperkuat ketimpangan sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Diskusi ini menyoroti bahwa meskipun Kota Palembang merupakan wilayah perkotaan, tantangan akses informasi, partisipasi substantif, dan peluang ekonomi di sektor energi terbarukan masih belum merata bagi perempuan.

Empat Pilar Keadilan dalam Transisi Energi

Melalui diskusi kelompok terarah (FGD), peserta membahas empat dimensi penting dalam mewujudkan transisi energi berkeadilan:

  • Keadilan Rekognisi: Mengakui peran, kebutuhan, dan pengetahuan lokal perempuan dalam inisiatif energi;
  • Keadilan Prosedural: Memastikan akses informasi, partisipasi, dan manfaat energi terbarukan yang setara;
  • Partisipasi Bermakna: Mendorong keterlibatan perempuan yang substantif dalam perencanaan dan pengawasan kebijakan energi;
  • Keadilan Remedial: Merumuskan solusi atas potensi dampak sosial-ekonomi akibat transisi energi.

Advisor YMH, Prof. Ir. Erna Yuliwati, M.T., Ph.D., IPU, ASEAN-Eng., menekankan pentingnya integrasi analisis gender dalam kebijakan energi daerah. “Kebijakan yang terlihat netral belum tentu berdampak netral. Tanpa data terpilah gender dan ruang dialog yang aman, perempuan akan terus berada di pinggiran proses pengambilan keputusan,” jelasnya.

Dari hasil diskusi, peserta menyusun sejumlah rekomendasi, antara lain pentingnya penyediaan informasi energi terbarukan yang mudah diakses perempuan, pelatihan teknis dan kewirausahaan di sektor energi hijau, penguatan UMKM perempuan, serta pembentukan ruang dialog yang aman dan inklusif.

Sebagai tindak lanjut, kegiatan ini menghasilkan komitmen awal pembentukan Forum Perempuan Energi Berkeadilan Sumatera Selatan (PEBE–SS) di Kota Palembang. Forum ini diharapkan menjadi ruang kolektif bagi perempuan lintas organisasi untuk belajar, berjejaring, dan mengadvokasi kebijakan energi yang lebih inklusif di tingkat daerah.

Melalui forum ini, perempuan di Palembang khususnya dan Sumatera Selatan umumnya, tidak hanya diposisikan sebagai penerima dampak transisi energi, tetapi sebagai agen perubahan yang berperan aktif dalam perencanaan, pengambilan keputusan, serta pengembangan ekonomi hijau berbasis komunitas.

Yayasan Mitra Hijau menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi dan memperkuat kapasitas organisasi perempuan agar transisi energi di Sumatera Selatan berjalan secara adil, transparan, dan berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *