OPINI: Spirit RA Kartini Dalam Revoluasi Digital dan Komunikasi Global
Oleh : Andreas Daris Awalistyo, S.Pd.,M.I.Kom
Dosen Unika Musi Charitas Palembang, pengurus ISKA, KGPP KAPal, DPP St Yoseph Palembang
Setiap tanggal 21 April, ingatan kolektif bangsa ini selalu terpaku pada sosok Raden Ajeng Kartini. Namun, sayangnya, peringatan hari besar ini sering kali terjebak dalam sekat-sekat seremonial yang dangkal. Perayaan Hari Kartini kerap hanya dimanifestasikan melalui parade kebaya, sanggul, dan lomba memasak. Padahal, Kartini bukan sekadar tentang estetika busana Jawa abad ke-19. Kartini adalah sebuah “spirit”, sebuah api pemberontakan intelektual yang melampaui zamannya.
Di era komunikasi global yang serba digital saat ini, urgensi untuk merefleksikan kembali perjuangan Kartini menjadi semakin relevan. Kita tidak lagi berbicara tentang pingitan fisik dalam tembok kadipaten, melainkan tentang bagaimana perempuan modern menembus batas-batas digital, struktural, dan kultural yang masih membelenggu.
Paradoks Kemajuan dan Beban Ganda
Jika kita menilik data Badan Pusat Statistik (BPS) pertengahan tahun lalu, terlihat sebuah kontras yang tajam. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di Indonesia masih berada di angka 53,13%, tertinggal jauh dibandingkan laki-laki yang mencapai 82,41%. Angka ini adalah alarm bagi kita semua. Mengapa di era di mana informasi begitu terbuka, partisipasi perempuan masih tertahan?
Jawabannya klasik namun kompleks: beban ganda. Kartini masa kini masih bergelut dengan ekspektasi sosial untuk menjadi “superwoman” yang sempurna di ranah domestik sekaligus produktif di ranah karier. Banyak perempuan hebat terpaksa mengundurkan diri (burnout) karena konsentrasi yang terbelah antara mengasuh anak dan tanggung jawab profesional. Belum lagi urusan kesenjangan upah yang nyata; perempuan tercatat berpenghasilan sekitar 23% lebih rendah dari pria untuk jenis pekerjaan yang setara.
Padahal, riset McKinsey (2018) memberikan gambaran optimistis: jika partisipasi kerja perempuan naik hingga 56% pada tahun 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dapat bertambah hingga USD 135 miliar. Kesetaraan bukan sekadar isu moral atau hak asasi, melainkan pilar ekonomi nasional.
Ideologi Gender dan Perspektif Teologi Moral
Dalam konteks sosial Indonesia yang religius, tantangan perempuan juga bersinggungan dengan nilai-nilai spiritual. Sering kali, diskursus gender kontemporer dinilai bertentangan dengan pandangan agama, termasuk dalam perspektif Teologi Moral Gereja Katolik. Masyarakat modern terkadang menilai pandangan Gereja sebagai sesuatu yang konservatif atau bahkan tidak relevan dengan Hak Asasi Manusia (HAM).
Namun, jika ditelisik lebih dalam, spiritualitas sebenarnya memberikan fondasi tentang martabat manusia yang setara di hadapan Sang Pencipta. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai seksualitas dan gender dipahami secara harmonis tanpa menegasikan kodrat, namun juga tanpa menjadikan kodrat sebagai alat penindasan. Kartini masa kini dituntut untuk mampu menyeimbangkan kemandirian intelektual dengan nilai-nilai etika dan moralitas agar pergerakannya tidak kehilangan arah di tengah arus liberalisme yang ekstrem maupun konservatisme yang mengekang.
Karakteristik Kartini Masa Kini di Dunia Digital
Siapakah Kartini Masa Kini? Ia adalah sosok yang bergerak dan berdampak dengan beberapa karakteristik kunci:
- Pemimpin Tangguh: Mereka yang berani menduduki posisi strategis di sektor bisnis, politik, dan terutama teknologi (STEM) yang selama ini didominasi pria.
- Agen Perubahan (Agent of Change): Perempuan yang memanfaatkan algoritma media sosial bukan untuk narsisme semata, melainkan untuk menyebarkan pesan positif, mengedukasi masyarakat, dan menggalang solidaritas sosial.
- Pendidikan Tinggi & Mandiri: Mereka yang memahami bahwa pendidikan adalah senjata paling mematikan untuk memutus rantai kemiskinan dan ketergantungan finansial.
- Penyembuh Luka Sosial: Perempuan yang berani bersuara melawan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan pelecehan seksual yang marak terjadi, baik di dunia nyata maupun di ruang siber.
Dunia Digital: Antara Peluang dan Ancaman
Semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang” mendapatkan maknanya yang paling mutakhir di dunia digital. Internet telah meruntuhkan tembok pingitan geografis. Seorang perempuan di pelosok desa kini memiliki akses pengetahuan yang sama dengan mereka yang berada di kota besar melalui platform seperti YouTube, Instagram, atau kursus daring.
Namun, “terang” digital ini juga membawa bayangan gelap. Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), disinformasi, dan intimidasi digital menjadi tantangan baru. Selain itu, kesenjangan akses teknologi (digital divide) masih nyata. Banyak perempuan di daerah terpencil belum memiliki gawai yang memadai atau koneksi internet stabil. Perjuangan kita saat ini adalah memastikan bahwa teknologi bersifat inklusif—bahwa “terang” itu menyinari semua orang, tanpa terkecuali.
Ibu sebagai Filter di Era Post-Truth
Di tengah banjir informasi, peran perempuan sebagai ibu mendapatkan tantangan yang luar biasa berat. Dunia digital menyediakan segala hal, mulai dari konten edukatif hingga konten negatif yang destruktif bagi karakter anak. Ancaman narkoba, pergaulan bebas, hingga paparan radikalisme kini masuk melalui layar ponsel di genggaman anak-anak kita.
Di sinilah Kartini Masa Kini harus menjadi “literasi berjalan”. Seorang ibu dituntut menjadi pendamping yang cerdas, mampu memfilter informasi, dan membangun benteng moral bagi keluarganya. Pendampingan yang bermakna bukan lagi soal melarang penggunaan teknologi, melainkan mengajarkan cara menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Menembus Batas: Harapan ke Depan
Refleksi Hari Kartini tahun ini harus menjadi momentum bagi kita untuk melangkah lebih jauh. Perjuangan saat ini bukan lagi sekadar menuntut hak dasar seperti sekolah, melainkan memastikan kesetaraan kesempatan dalam berkarya dan mendapatkan apresiasi yang layak tanpa harus menanggalkan identitas diri.
Kita harus menantang stigma patriarki yang masih mengakar. Kita harus mendukung kebijakan yang pro-perempuan, seperti penyediaan fasilitas penitipan anak yang layak di tempat kerja, kebijakan cuti ayah agar beban domestik terbagi, serta perlindungan hukum yang tegas bagi korban kekerasan.
Dunia digital adalah alat yang sangat kuat. Jika digunakan dengan bijak, ia akan menjadi eskalator bagi pemberdayaan perempuan. Kartini lebih dari seabad yang lalu berjuang lewat surat-surat yang dikirim melalui pos. Hari ini, kita memiliki “surat-surat” digital berupa konten, petisi daring, dan kampanye media sosial yang bisa menjangkau dunia dalam hitungan detik.
RA Kartini menginginkan perubahan struktur sosial yang menindas. Semangat itu tidak boleh padam di tangan generasi yang hanya sibuk berswafoto dengan kebaya setahun sekali. Kartini Masa Kini adalah mereka yang berani mendobrak batas, yang tangannya sibuk mengetik perubahan, yang suaranya lantang membela kebenaran di ruang publik digital, dan yang hatinya tetap teguh menjaga nilai-nilai moral keluarga.
Mari kita pastikan bahwa “terang” yang dimaksud oleh Kartini benar-benar sampai ke sudut-sudut paling gelap di negeri ini. Dengan memanfaatkan teknologi secara inklusif dan tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, kita dapat mewujudkan dunia yang lebih adil dan setara. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa dapat diukur dari sejauh mana perempuannya diberikan ruang untuk bertumbuh, bergerak, dan berdampak.
Habis gelap, terbitlah terang. Kini, mari kita nyalakan cahaya itu lebih terang lagi di layar-layar digital kita dan di dalam sanubari perjuangan kita.



