HeadlineOPINIPalembangPendidikanSUMSEL

OPINI: Semangat Sumpah Pemuda  Era Digital dalam Lanskap Baru

Oleh Isnawijayani

(Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas BinaDarma)

Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 menjadi tonggak sejarah kebangkitan nasional, ketika generasi muda mempersatukan diri melampaui sekat suku, bahasa, dan daerah. Tiga ikrar monumental yaitu bertanah air satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia dan berbahasa satu, Bahasa Indonesia. Tentu saja hal ini  menunjukkan kematangan kesadaran kolektif bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kekuatan pemuda. Semangat historis inilah yang relevansinya justru semakin menguat dalam era digital hari ini.

Era digital telah mengubah wajah perjuangan. Jika dahulu pergerakan pemuda hadir melalui kongres, pers, dan aksi lapangan, kini ruang perjuangan berpindah ke platform digital  dalam media sosial, komunitas daring, gerakan digital, hingga proyek inovasi berbasis teknologi. Kebangkitan pemuda bukan lagi hanya soal nasionalisme, tetapi juga tentang penguasaan narrative power, teknologi, dan kapasitas kolaborasi global.

Narrative power adalah kekuatan untuk membentuk cara orang memahami realitas melalui cerita atau narasi. Ia bukan hanya soal bercerita akan tetapi soal siapa yang punya kuasa menciptakan cerita, menyebarkannya, dan membuat orang lain mempercayainya. Narasi bisa membentuk cara berpikir, emosi, identitas, bahkan tindakan sosial dan politik.

Kapasitas kolaborasi global adalah kemampuan individu, organisasi, atau negara untuk bekerja sama secara efektif melintasi batas geografis, budaya, bahasa, dan teknologi dalam rangka mencapai tujuan bersama di tingkat global. Konsep ini bukan hanya soal “bisa kerja sama dengan pihak luar negeri”, tetapi mencakup 4 komponen : (1).  Literasi digital  yaitu Memahami isu global (ekonomi, politik, lingkungan, budaya), serta sadar bahwa suatu masalah berdampak lintas negara. (2). Kompetensi Antarbudaya yaitu Mampu berkomunikasi dan bernegosiasi dengan orang dari latar budaya berbeda tanpa menimbulkan konflik. (3) Pemanfaatan Teknologi Kolaboratif yaitu menggunakan platform digital (Zoom, Slack, Miro, AI, dsb.) untuk kerja jarak jauh secara efektif. (4) Kemampuan Berjejaring Internasiobal yaitu Membangun dan menjaga relasi profesional lintas negara, termasuk diplomasi, kepercayaan, dan sinergi kepentingan

Hal ini menyebabkan Mengapa Kapasitas Kolaborasi Global Penting. Kita dapat  menghadapi masalah global yang tak bisa diselesaikan sendiri, misalkan masalah iklim,  masalah pandemi, dan masalah  ekonomi digital. Disisi lain agar kompetitif di era industri 4.0 dan 5.0. Begitu juga kolaborasi global dapat dipakai dalam diplomasi, bisnis internasional, penelitian, pendidikan global, dan teknologi. Dan yang tidak kalah penting kita dapat membuka akses pada sumber daya, inovasi, dan pasar global.

Dari keadaan ini dapat dilihat apa saja Ciri kebangkitan pemuda di era digital:

  1. Digital Activism, dimana  Pemuda mampu menciptakan kesadaran publik dan tekanan sosial melalui tagar, konten edukatif, dan kampanye viral. Ruang demokrasi digital dimanfaatkan sebagai arena advokasi.
  2. Kewirausahaan Digital (Digitalpreneur), disini banyak lahir inovator muda yang mendirikan startup, platform edukasi, ekonomi kreatif, hingga ekosistem UMKM digital.
  3. Penciptaan Narasi dan Identitas  terlihat  Pemuda tidak lagi hanya menjadi konsumen digital, tetapi produsen makna: dari content creator, podcaster, hingga digital cultural guardian yang menjaga nilai dan budaya bangsa di tengah arus globalisasi.
  4. Kolaborasi Lintas Batas  kegiatannya Pemuda bergerak tidak lagi secara lokal, tetapi membangun jejaring ASEAN, global volunteerism, hingga gerakan solidaritas lintas negara.

Namun, kebangkitan ini tidak bebas dari tantangan: disinformasi, polarisasi digital, krisis etika bermedia, mentalitas instan, hingga hilangnya kepekaan ideologis terhadap nilai kebangsaan. Karena itu, kebangkitan pemuda era digital tidak boleh hanya berbasis viral, tetapi berpijak pada kesadaran etis, literasi digital yang matang, dan komitmen peradaban.

Penutup

Jika generasi 1928 mempersatukan bangsa lewat ikrar bersama dalam Sumpah Pemuda maka generasi digital hari ini punya mandat baru: menyatukan narasi, menggenggam teknologi, dan menjaga martabat bangsa di panggung global. Kebangkitan pemuda bukan lagi sekadar semangat, tetapi kecerdasan strategis dalam menguasai masa depan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *