OPINI: Musik dan Lagu Anak, Kunci Menumbuhkan Kemampuan Bahasa Sejak Dini
Penulis : Dika Azzahra
NIM 06141382429068
(Mahasiswa FKIP Universitas Sriwijaya)
“MUSIK dan lagu anak bukan hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga
alat efektif untuk mendukung tumbuh kembang bahasa anak. Dengan
keterlibatan aktif orang tua dan pendidik, serta pemilihan lagu yang
sesuai, stimulasi bahasa lewat musik dapat menjadi fondasi kuat bagi
kecakapan literasi dan komunikasi anak di masa depan”.
Musik dan lagu anak bukan sekadar hiburan, melainkan sarana penting dalam mempercepat perkembangan bahasa anak usia dini. Sejumlah riset internasional membuktikan bahwa irama dan lirik sederhana dalam lagu mampu membantu anak mengenali kata baru, memahami struktur bahasa, bahkan membentuk fondasi keterampilan membaca. American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menekankan, perkembangan bahasa yang optimal sejak dini sangat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir dan berkomunikasi anak di masa depan. Hal ini diperkuat oleh temuan Dr. Patricia Kuhl dari University of Washington, yang melalui penelitiannya di Proceedings of the National Academy of Sciences (2010), membuktikan bahwa anak-anak belajar bahasa lebih cepat ketika disertai paparan suara yang menarik, seperti musik.
Memperkaya Kosakata Melalui Lagu
Dalam jurnal Journal of Research in Music Education (2008), Standley mengungkapkan bahwa lagu yang diulang secara konsisten mempercepat pembelajaran kosakata baru dan meningkatkan
kesadaran fonologis. Di Indonesia, lagu-lagu seperti “Balonku”, “Cicak-cicak di Dinding”, dan “Naik Delman” tidak hanya memperkenalkan konsep warna atau benda, tetapi juga melatih anak
memahami urutan, hubungan sebab-akibat, hingga membangun narasi sederhana.
Menurut Dr. Heni Djuwita, dosen Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Pendidikan Indonesia, “Lagu tradisional Indonesia memainkan peran besar dalam memperkaya bahasa anak. Lewat irama dan pengulangan, anak lebih cepat mengenal pola kalimat tanpa terasa sedang belajar.”
Musik Membentuk Fondasi Fonologis dan Memori Penelitian Schön dan koleganya di Cerebral Cortex (2008) membuktikan bahwa aktivitas bernyanyi memperkuat area otak yang bertanggung jawab terhadap pemrosesan bahasa. Selain itu, The Royal Conservatory of Music di Kanada mencatat bahwa latihan mendengarkan musik dan bernyanyi secara rutin membantu anak mengasah memori auditori, yang esensial dalam membangun keterampilan membaca.
Dampak Sosial dan Emosional
Selain memperkuat aspek linguistik, musik juga berdampak positif pada perkembangan sosial- emosional. Dr. Nina Kraus dari Northwestern University menjelaskan bahwa bernyanyi bersama
teman sebaya atau keluarga membantu anak belajar bergiliran berbicara, mendengarkan orang lain, serta membangun kepercayaan diri. Selain itu, menurut studi di Frontiers in Psychology (2020), aktivitas musikal merangsang produksi hormon oksitosin, yang meningkatkan rasa nyaman dan koneksi sosial.
Keterlibatan Orang Tua dan Pendidik
UNESCO, dalam laporan global tentang Pendidikan Anak Usia Dini, menekankan pentingnya penggunaan musik sebagai bagian integral dari pembelajaran. Lagu dapat digunakan untuk
membuka sesi belajar, mengisi waktu transisi antar kegiatan, atau mendukung tema pembelajaran di kelas. Sementara di rumah, orang tua dapat mengajak anak bernyanyi dalam keseharian mereka untuk mempererat ikatan emosional sekaligus merangsang perkembangan bahasa. (*)



