OPINI: Musholla Makam Keramat “Kapitan Bong Suwe” Pulau Kemaro: Sarana Perukun Umat dan Pengungkap Sejarah di Palembang
Oleh: Baba Azim Amin Jaya Laksana (Ketua Yayasan Najahiyah)
Pendahuluan
Upaya pencerahan sejarah Islam berlangsung dan hampir memasuki tiga setengah abad silam, semakin terbukti, meskpun sejak awal abad pertengahan 20 M, sejarah ini hampir tenggelam dengan disusun dan dipublikasikannya legenda oleh seorang wartawan asal luar daerah.
Legenda itu diawali seorang putera China bernama Tan Bun An mati menceburkan diri/ nganjok ke laut sungai Musi, karena telah jatuh cinta dengan seorang putri bangsawan Palembang bernama Siti Fatimah, tetapi merasa dipermalukan oleh ortunya, konon peristiwa ini terjadi masa kerajaan Sriwijaya, hingga kini belum diketahui secara jelas siapa kedua ortu sejoli ini.
Kemudian sang putri inipun ikut terjun pula menyusul calon suaminya tersebut.
Lokasi di tempat keduanya tenggelam tersebut, mucullah sebuah pulau. Belum ada keterangan, apakah jasad kedua insan berlainan jenis ini muncul berbarengan dengan munculnya sebuah pulau yang kemudian disebut Pulau Kemaro.
Terkait dengan adanya makam keramat di Pulau Kemaro, tercatat dalam naskah silsilah kami; keturunan Baba/ Babah – gelar Sufi/ Wali pada abad 11 M di Hamdan, Yaman, pen- dan Nyonya Palembang yg telah berusia 177 tahun, tersalin setiap dua generasi beraksara Arab Melayu, terakhir disalin pula tahun 1920 an, di pulau tersebut dimakamkan Kapitan Bong Su We serta anak buahnya.
Wafat selagi bujang. Hal inilah menjadikan keluarga besar secara turun temurun menziarahinya, saat ke makam keramat leluhur kami bertujuh saudara pada tahun 1971, bagi kakanda kami, terutama saudara kami, Baba Baderel, merupakan hal yang telah beberapa kali pula, karena merantau ke Jawa.
Waktu itu, kami menumpang speed boat/ motor cangkuk. Berangkat dari Kampung kami; muara sungai Saudagar Ku Ching (bhs China; Ku Ching: Seberang Laut, pen). A-2 Nama kampung sungai ini masih tertulis dalam beberapa naskah abad pertengahan ke 19 M., dan naskah lainnya, meskipun sejak awal abad ke 19 M, masa “Darul „Ahdi”; pemerintahan kerajaan dalam perjanjian- diurus bersama, sudah diubah menjadi kampung angka, saat dijabat bangsa Eropah sebagai Residen, dan pribumi sebagai Perdana Menteri.
Dengan nama kampung Tiga Ulu, tahun 1980 an, berubah kelurahan Tiga Empat Ulu Laut; bahkan situs pelabuhan penes kuno Gedong Batu, zaman suhunan; sejak masa ini, ikut berubah juga, sebagai “Lorong Saudagar Yu Ching, “bukan nama saudagar Ku Ching alias Baba Yaw Jian.
Kini lebih dikenal lagi kampung Demang Jaya Laksana; tempat terkonsentrasinya keturunan Babah dan Nyonya Palembang; dan lokasi terbitnya Qur`nul Azim pertama di Asia Tenggara pada pertengahan abad 19 M., serta berdiri kokoh rumah limas Baba yg masih utuh hingga kini.
Selain menjadi adat baik, karena bertabarruk/ meningkatkan semangat jihad/ juang dalam hidup dan kehidupan, seperti telah dilakukan almarhum leluhur Kami tersebut serta para prajuritnya masa itu, juga untuk mengenang dan mendo‟akan arwah beliau dan lainnya, yang telah turut berjasa membantu memenangkan perang jihad fi sabilillah, bersama Pangeran Aria Kusuma, berjuluk Kiyai Mas Hindi, adik raja Palembang; Siding Rejek, dan Daeng Mangika dll.
Meskipun beliau bersama prajuritnya gugur, makamnya menjadi keramat bagi generasi setelahnya. A-4 Gugur dalam merebut kembali kedaulatan keraton Kuto Gawang yg diserbu oleh pasukan bangsa asing dari benua Eropa Netherlands/ Holland/ Belanda via VOC dan pasukan sekutunya; Jambi dan Johor.
Buah dari politik belah bambu yg berhasil diterapkan pada sesama suku rumpun Melayu, meskipun keraton Keraton Kuto Gawang telah hancur dan hangus, merupakan mati syahid; salah satu bentuk amalan utama dan puncak amaliyah tertinggi dalam ajaran Islam.
Setelah speed boat yg kami tumpangi bertujuh tiba, langsung bersandar di pantainya, saat itu, jalan menuju makam keramat melewati, plang setinggi 2 M, bertiang dua, plang papan berwarna putih panjang sekitar 2 M, lebar 25 cm, bertuliskan aksara Arab Melayu berwarna merah “makam keramat pulau kemaro”, menghadap arah pabrik PUSRI, beberapa tahun kemudian, setelah kami ziarahi, plang ini dirubuhkan, dengan alasan kayunya sudah lapuk (Burhan).
Tulisan di Kelentengpun sama, beraksara Arab Melayu, dan Latin, dan di sekelenteng, terdapat beberapa ekor rusa/ manjangan?, A-6 Makam, artinya kuburan orang yg dihormati oleh murid atau prajuritnya.
Keramat, kejadian luar biasa. Dianugerahkan Allah kepada seorang hambaNya yg menyintaiNya dan Dicintainya. Makam keramat terletak disisi barat bangunan kelenteng, terdapat dua prasasti, mengapit makamnya beraksara Cina/ Mandarin, di sisi barat dan timur makam.
adapun posisi jenazah menghadap kiblat, dengan posisi kepala sebelah utara, sedangkan posisi kaki sebelah selatan, searah dengan posisi bangunan kelenteng.
Setelah puluhan tahun tersimpan, barulah minta dibacakan dan diterjemahkan kepada pak Erwan, “makam jenderal serta prajuritnya “ setelah penulis lebih dahulu mengenalkan diri sebagai keponakan Pak Pung Cek Mamat 3 Ulu.
Beliau adalah salah seorang tokoh masyarakat Tionghoa, di kelenteng 10 Ulu. A-7 Pada saat itu, bangunan kelenteng masih asli, belum ada perluasan dan tambahan tempat ibadah umat lain, karena di dalamnya ada tiga patung/ Tuan Ala/ Dewa ukuran kecil; Dewa umat kong Hu Cu, Tao Tse, Lao Tse, dan Kong Fu Tse?.
Ada lilin di altar/ tempat sajian berpa buah-buahan dan cangkir kecil berisi teh, dll.
Di depan bangunan kelenteng terdapat pohon besar, dan terpasang papan bertuliskan tiga aksara; Cina, Arab Melayu dan Latin; tentang larangan membawa sajian tuak/ arak, daging babi, bermain judi, dll. Kelenteng tersebut didirikan warga Tionghoa kaya berdiam di kampung kami, 4 ulu Laut, Sungai Semajid/ lorong Firma H.Akil.
Beliau dan keluarga dikenal juragan kopi, punya kapal roda lambung. Bawah rumahnya sebagai gudang, mampu memuat kopi 400 ton. sangat dekat hubungannya dg kepala kampung Cek Mamat, pelindung warga Tionghoa 10 Ulu saat terjadi kerusuhan th 1967.
Kakanda kami Baba Baderel Munir- lahir 24 Oktober 1945, kini Prof. Dr.Drs Baderel Munir, Aptk, M.A.- seperti disebutkan sebelumnya, merupakan ziarah yg pertama sejak dibangunnya kelenteng, karena lama merantau ke Jogja, Donggala, dan Jakarta, sambil menuturkan pengalamannya yang pernah ikut berzirah beberapa kali sebelum dibangun kelenteng th 1960 an.
“Dulu ada bangunan sangat sederhana, tertutup seng, dan bangunan tempat sekedar berteduh dari hembusan angin dan hujan, ziarah dilakukan ayahanda dan beberapa saudara misannya, mang Dung/ Baba Jakfar, dll pada bulan ruwah/ sya`ban, menjelang tibanya bulan puasa”.
Ketika tiba waktu sembahyang zuhur, kami bertiga melakukannya di atas dermaga terletak sebelah pantai utara pulau; tampak di seberang komplek Plaju dan sungai Gerong; Hingga kini tinggal kami berenam bersaudara yg masih dapat mengenang, betapa kentalnya nuansa Islami masa itu sebagai makam keramat Cina -Melayu atau disebut beberapa ahli sbg “Wanna Tay Lang”.
Dalam tulisan ini, akan memaparkan, sosok kapitan Bong Su We sebagai salah seorang Jenderal Muslim dinasti Ming dan mengapa perlunya didirikan bangunan musholla ukuran 8 X 8 M dekat makam keramatnya.
Tulisan ini dihadiahkan untuk saudara-saudaraku dan anak serta cucunya; terutama ananda Baba Irfan, dosen FK di UNSRI, dan cucunda Baba Amin Azhari yang lagi menuntut ilmu di Akademi Militer AL di pulau Jawa, serta ananda Yanto, dan ananda Herwansyah, Ketua Pengurus Masjid Muhammad Cheng Ho. A-10/6 – hal 03- B.Kapitan Bong Su We sebagai Jenderal Muslim dari Tiongkok Kemusliman Kapitan/ Jenderal Bong Su We ini mewarisi agama leluhurnya; Chu Yuan Chang selaku kaisar Ming T`sai Tau.
Pendiri dan Kaisar pertama Dinasti Ming (1368-1644.M) seruntuhnya dinasti Yuan (bangsa Mongol). Arti Ming itu sendiri bermakna “Bersinar atau Bercahaya”, meniru nama kota Nabi di Madinah (Amir Syakib, Libanon, 1937).
Sebab runtuhnya dinasti Yuan, saat dipimpin oleh dua putera Jengiskhan, lalu terjadi penindasan terhadap suku aslinya: Han dan Hui, kemudian kedua suku ini bersatu-padu melakukan perlawanan yang dipimpin oleh Jenderal Kok Tze Hin, seorang jenderal muslim suku Han yang membelot, lalu beliau menyerahkan tampuk pimpinan perlawanan tersebut kepada menantunya; Chu Yuan Chang (Buklet VI).
Pada masa lalu, Chu Yuan Chang selaku kaisar Ming T`sai Tau dinyatakan oleh sebagian sejarawan China sebagai kaisar pemeluk agama Budha, namun, setelah diteliti kembali oleh sejarawan China; Jing Chee Tang, ternyata, Chu Yuan Chang adalah kaisar Muslim dinasti Ming pertama. (Buklet Pertiwi.VI) B-1/12.
Pada awal abad 15 M, hingga akhir abad ke 16 M, terjalin hubungan baik dengan kerajaan di Nusantara, terutama Palembang, perwakilan kerajaan Majapahit di Palembang memeluk agama Islam. Hubungan persahabatan dan perdagangan Cina tersebut diawali pada masa kaisar III berjuluk yung lo/ yong le ; bergelar resmi dari para rohaniawannya sebagai cheng tsu/ cheng zu; nama asli sejak lahirnya adalah chu ti/ zhu di , ia bertahta tahun 1403-1424.m).
Pada masa ini penguasa Palembang Parameswara, bertahta meliputi tanah Semenanjung, saat kedua kerajan; Siam dan Majapahit menuntut kedaulatan pula atas tanah Semenanjung, tetapi Siam sendiri dapat melaksanakan. Lalu Majapahit menyingkirkan Parameswara dibantu Chen Su-Yi. Karena itu, ketika seorang utusan Cina tahun 1403 berkunjung ke Malaka, yaitu Jin-king (Jin-ha almakhtun/ Cheng Ho bersunat, pen), raja Palembang.
Parameswara menggunakan kesempatan minta pengakuan kaisar dinasti Ming dan bantuan (pasukan) untuk melawan Siam yang telah merebut tanah Malaka.
Sejak masa inilah, lahir komunitas Islam Hanafi pertama di Nusantara, ditandai dg kehadiran tokoh agama Islam; Raden Rahmat alias Sunan Ampel yg mengunjungi sepupunya, ibunda Pangeran Jin Bun, yang kelak dinamai Raden Fatah. Atau Raden Fatah Senopati Jin Bun, Ngadurrahman, Panembahan Palembang.
Merupakan salah seorang anak Putera mahkota kerajaan Majapahit/ Raja Majapahit ke 12, Bhre Kertobhumi yang bergelar Prabu Brawijaya B-2/17.
Karena berkhitan inilah, keturunan Laksamana Cheng Ho dan rombongannya menurunkan penduduk Melayu Palembang.
Adapun peralihan ke mazhab Islam Syafii baru dikenalkan oleh Sunan Giri dan sunan Kudus, setelah beberapa abad kemudian, adapun tarekat Naqsyabandiyah sebagai ajaran tasawwuf, tidak mempengaruhi anutan Islam, segala maszhab dpt mengikutinya, sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah agar menjd insan sejati.
Hingga awal dan pertengahan abad ke 17 M, tetap sebagai pusat salah satu mondok/ belajar agama Islam menahun bagi keluarga para bangsawan dan keluarganya masa itu.
Termasuklah ketiga anak kaisar. Di antaranya Kapitan/ Jenderal Bung Su We, yg pernah mondok yg kemudian kembali lagi ke Palembang dan gugur bersama prajuritnya melawan VOC kafir dan pasukan sekitunya tahun 1659 M di Palembang.B-3/10 C.Peranan Kapitan Bong Su We Gugur dalam Merebut Kembali Kedaulatan Palembang.
Sejarah mencatat, berabad-abad lamanya, hubungan kerajaan di Nusantara dg bangsa Cina/Tiongkok berjalan mulus, karena dalam perdagangan, terbina saling menguntungkan, bahkan berjasa membantu membesarkan kerajaan Sriwijaya serta Majapahot.
Sebab wilayah utara Cina membutuhkan rempah-rempah/ obat guna menghadapi muisin dingin.
Hubungan tersebut mulai terganggu, karena terjadi persaingan yang kurang sehat dengan bangsa Eropa, memuncak sejak dinasti Ming dijabat kaisar berjuluk wan li/ wan li, bergelar shen tsung/ shen zong, nama asli sejak lahirnya adalah chu i-chun/ zhu yi-jun, dan bertahta 1573-1619, M; dan kaisar sesudahnya berjuluk T`ai Ch`ang/ Tai Chong, bergelar Kuang Tsung/ Guang Zong, nama asli sejak lahirnya adalah Chu Chang-Lo/ Zhu Chang Luo, dan bertahta tahun 1620 M.
Kemudian oleh kaisar yg berjuluk Tian Chi/ Tian Qi, bergelar His Tsung/Xi Zong, nama asli sejak lahirnya adalah Chu Yu Chiou/ Zhu You Jiao, dan bertahta tahun 1621-1627.M; (sumber: Ming Dynasty Emperors Perpustakaan Nasional Republik Indonesia; Jl. Salemba; Jakarta; 1997).
Kelancaran hubungan perdagangan yg meningkat menjdi ukhuwwah insaniyah/ berniaga saling menguntungkan, hingga terbina ukhuwwah Islamiyah, saling membantu, bahkan kaisar memberi hadiah putri Cina sebagai juru penerjemah bahasa, saling menjual dan membeli hasil kekayaan sumber daya alam dan kerajinan sumber daya insan masing-masing, karena kerajaan.
Cina butuh memasarkan produknya, dan untuk memenuhi kebutuhan rempah-rempah dll dalam mengatasi musim dingin di wilayah utara Cina. C-2/6 Sejak datang bangsa Eropa, diawali bangsa Portugis dan Sepanyol, meningkat hingga bangsa Inggris dan Netherlands/ Hollands,/ Belanda, hubungan perdagangan saudagar Cina dengan para raja di Nusantara mulai terganggu, boleh jadi bangsa Eropa merasa dan timbul rasa dengki, dan iri hati dengan bangsa Cina/ dinasti Ming.
Karena jauhnya jarak tempuh kapal dagang Eropa lima kali lipat ke Cina. Kondisi ini karena kapal-kapal Eropa melayari samudera India, menyelusuri pantai timur dan barat benua Afrika setelah berputar di tanjung harapan di ujung selatan benua tersebut, dan masih menanti dua musin hembusan angin ke utara, dls, hingga sangat beresiko tinggi, belum diketahui berapa banyak kapal layar Eropa tenggelam di samudera India oleh musim hembusan angin kencang dll.
Untuk mengatasi hal demikian, mereka bangsa Belanda mendirikan serikat dagang bernama “Vereenigde Oost- Indische/ VOC”, demikian pula pihak Inggris Raya, dengan “East India Company/ EIC”, sejak awal abad 17 M. Maka timbullah keserakahan, dengan adu domba sesama rumpun Melayu atau Jawa, Sunda, serta tipu daya dll.C.4/4 Dalam penelitian Tim Sejarah MUI menyebutkan abad ke 17 M, sebagai fase Tiga Kerajaan Besar Islami (Turki Usmani, Safawi Iran dan India), sekaligus merupakan fase Kemunduran Islam di Nusantara, memang dinasti Ming luput dari kajian Tim sejarah MUI, karena masih langkanya sumber bahan kajiannya.
Jikapun ada, penafsirannya masih bias, seperti tokoh Laksamana Cheng Ho sebagai Muslim dijuluki Syakib Amir, 1937, sebagai al makhtun bersunat, dipahami oleh bangsa Barat sebagai al maqthu`, dikebiri, dll., implikasinya, Cheng Ho dan rombongannya yang Muslim tidak punya keturunan.
Sejarah dunia masih didominasi sumber Eropah, anti Islam, ditulis pasca perang dunia II, adanya blok Barat dan Timur serta lahirnya negara-negara non Blok, yang digagas oleh Indonesia yang berpenduduk maroritas Muslimin. Selanjutnya lahir Organisasi Konfrensi Islam.C-5/ 10 Tentu saja, sibuk melawan bangsa Eropah, sejak abad 16 M, fase ini telah melelahkan para raja di Nusantara, pembangunan peradaban Islam terbengkalai, semakin parah, karena bangsa Eropah masa itu membawa misi keagamaan bangsa Eropa masa itu, perlawanan itu juga karena mulai melakukan penetrasi dan agressi. 1627-1629.
Perjanjian dagang itu, diawali tahun 1616 M. Dilakukan pihak VOC dengan raja Palembang masa Pangeran Made Ing Angkoso (1594-1627 M, Abdullah Idi, 2011:48), menyusul tahun 1637 VOC minta izin membangun gudang/ loji dan benteng untuk menempatkan militernya menjaga keamanan komiditi yang akan dibawa ke Eropa, sementara menunggu tibanya musim hembusan angin dari arah timur laut ke arah barat daya, termasuk pesaingnya dari saudagar Cina.
Keuntungan besar dapat menambah kekuatan militer VOC semakin kuat, mampu merekrut pasukan bayaran dari berbagai wilayah sekitar Malaka, dapat membangun istana di negerinya, hingga mampu merebut pelabuhan Malaka dari tangan Portugis pada tahun 1640/ 1641 M.
Lojinya untuk menampung komoditinya terutama rempah2-rempah, semakin lapang dan tak terbatas, bukan mustahil tentu lebih mampu pula menampung ribuan ton rempah-rempah, dll.
VOC memperluas wilayah jajahannya, akan merebut Keraton Kuto Gawang Palembang.
Dengan politik belah bambu sesama rumpun Melayu, berhasil mempengaruhi kerajaan Melayu di Johor dan Jambi.
Sebab Raja Palembang Siding Rejek, lebih dekat hubungannya dengan saudagar Cina.
Kondisi persaingan bisnis bebas ini, yang tak sehat ini, ditambah lagi dikawal kapal perang VOC menjadikan kaisar dinasti Ming lebih fokus membela pertahanan kedaulatan kerajaan sahabatnya di Nusantara, khususnya Palembang, dengan mengerahkan segala upaya dan ikhtiar maksimalnya, terutama laut China Selatan yg sudah mulai diganggu dan beberapa pulau sudah dikuasai oleh sejumlah kapal perang Eropa; voc (Netherlands/ Hollands/Belanda dan eic (Inggris) hingga keadaan rakyat di daratan Cina kurang diperhatikan, dan terbengkalai, keadaan ini dimanfaatkan oleh jenderal yang membelot dan bekerja sama dengan bangsa Eropa, lalu terjadi fitnah, yang menimbulkan huru hara, kerusuhan, dan pemberontakan.
Selanjutnya istana Beijing dikepung rakyat dipimpin para jenderal yang memberontak, tak ada jalan lain bagi para bangsawan dan anak-anak kaisar yang masih selamat, hijrah, melalui jalur sungai, terus ke Yunan, atau jalur laut ke Korea, Taiwan dan Asia Tenggara.
Masa mengalami puncak gangguan bangsa Eropa ini, saat kaisar dinasti Ming yang berjuluk Ch`ung Chen/ Chong Zen, bergelar Szi Tsung/ Si Zong, nama asli sejak lahirnya adalah Chu YuChin/ Zhu You-Jian, dan bertahta tahun 1628-1644.M (sumber: Ming Dynasty Emperors Perpustakaan Nasional Republik Indonesia; Jl. Salemba; Jakarta; 1997).
Profokasi yang dilancarkan kaum pembenci terhadap kaisar You-Jian, terus meluas di kalangan rakyat di daratan Cina, membuat kondisi politik semakin memperlemah kedaulatan dinasti Ming.
Kondisi kacau dinasti Ming ini tentu menguntungkan bangsa Eropa, banyak jenderal yang membelot (melepaskan kesetiaannya) semakin mempercepat runtuhnya kedaulatan dinasti Ming yang berpusat di istana Beijing.
Dalam kondisi yang berat ini, Tiga anak raja berusia sekitar 20-26 an, hijrah bersama para jenderal yang setia, ke beberapa kerajaan sahabat di Asia Tenggara dan Nusantara, khususnya keraton Kuto Gawang Palembang, mencari tempat berlindung, menyelamatkan jiwa, keluarga besar kerajaan, para jenderal dan pasukan pengawal yang masih setia hingga harta benda yang bisa dibawa. Menuju ke kerajaan sahabat yang sebelumnya telah terjalin baik.
Perjalanan kapal yang tergantung musim angin setahun sekali, sungguh memakan waktu cukup lama, dan panjang.
Sementara bangsa Belanda VOC semakin serakah untuk menguasai pelabuhan Palembang setelah berhasil merebut pelabuhan Malaka dari tangan Portugis. Gelagat/ gerak gerik pihak voc yang akan menguasai Palembang terbaca oleh raja ke IX keraton Kuto Gawang Pangeran Siding Rejek (bertahta 1651-1659.
Guna mencegah dan menahan serangan yang akan dilancarkan voc. beliau segera mengutus adiknya Pangeran Aria Kusuma/ Kimas Hindi mencari dan minta bantuan dg Cina dan Gowa yang juga anti VOC.
Sebab kerajaan Mataram tidak meresponnya. Guna. C.11/6 Namun, sebelum tiba pasukan bantuan dari Cina maupun Gowa, sebab perjalanan kapalkapal tersebut menunggu datangnya musim hembusan angin dari utara/ timur laut ke arah selatan/ barat daya.
Kondisi demikian, dimanfaatkan voc dan kedua pasukan sekutunya melakukan penyerangan besar-besaran ke keraton Kuto Gawang, karena kemampuan para petinggi voc memanfaatkan politik belah bambu sesama rumpun suku Melayu, serangan yang bertubi-tubi secara serentak ini membuat kewalahan, tak mampu mempertahankan kedaulatannya, korban pasukan kerajaan Palembang sudah berjatuhan tak terhingga, memaksa raja Siding Rejek dan keluarga serta para pembesar dan sisa pasukannya melakukan hijrah ke daerah pedalaman, Saka Tiga, Indralaya, OKI, Sumsel.
Puncak serangan VOC terjadi tahun 1659 M, VOC membakar bangunan keraton dari kayu, hingga terbakar dan hangus meninggalkan arang.. C12/11 Walaupun keraton telah hangus terbakar, Kimas Hindi dan rombongannya tetap menanti dan menjemput tibanya bantuan tersebut. Setelah beberapa lama, karena menunggu musim hembusan angin dari Utara/ Timur laut ke Selatan/ Barat daya, Tibalah rombongan pasukan sahabat dari Cina tiba di Serawak, dipimpin kapitan Bela, A Sing dan Bong Su We, sedangkan dari Gowa di laut Jawa, dipimpin para panglimanya, di antaranya Daeng Mangika, serangan terhadap VOC dilancarkan penuh heroik, mengangkat senjata dengan mengumandangkan takbir, jihad fi sabillah, merebut kedaulatan Palembang kembali dari tangan VOC dan dua pasukan kapal sekutunya.
Meskipun kapitan Bong Su We gugur syahid bersama prajuritnya, namun Palembang dapat mengalahkan pasukan VOC dan sekutunya, hingga berdaulat kembali.
Inilah peran yang disumbangkan kapitan Bong Su We, salah seorang jenderal Cina, yang jasadnya dimakamkan di Pulau Kemaro, sebagai makam keramat.
Setelah kerajaan Palembang berdaulat kembali, Kiyai Mas Hindi dalam usia sekitar 43 tahun oleh Ulama, Zu‟ama`, para saudagar yang telah berjasa membantu kemenangan Palembang, khususnya dari Cina dan Gowa serta para panglima lainnya, dll., dinobatkan sebagai Sultan yang baru Palembang.
Mewakili kedudukan kakaknya yang telah uzur. Dengan gelar Kholiafatul mukminin sayyidul Imam, Suhunan Abdurrahman. Diyakini, anak-anak Suhunan Palembang yang maseh berusai remaja, belasan tahun, demikian pula anak para jendral, disekolahkan ke negeri Cina bersama-sama.
# Musholla Jenderal Cina; reproduksi
Budaya Cina Muslim di Palembang
Mengapa perlu didirikan musholla dekat makam almarhum jederal Cina Muslim, pertama, menyampaikan pesan almarhum Ki H.Kgs Nawawi Dentjik, al Hafiz, yang pernah khataman al Qur‟an di dekat makam keramatnya, minta didirikan masjid Kapitan Bong Su We, karena bangunan masjid konon sudah ada di ujung timur pulau, dan letaknya cukup juga,.
Maka bangunan musholla dekat makamnya, dengan ukuran 8 X 8 M, cukuplah untuk para penziarah melakukan sembahyang zuhur dan asar, kedua, untuk mengungkapkan sejarah Islam, abad pertenghan 17 M.
Adapun legenda, kalaupun mau dipertahankan, dipersilahkan, yang jelas sejarah tetaplah sejarah, larangan membawa tuak, kuliner daging babi, bermain judi, berkholwat dll tetaplah dijaga bersama.
Ketiga, selain bangunan mushola ukuran 8 X 8, dengan berarsitektur khas Cina seperti bangunan masjid kuna di Tiongkok masa dinasti Ming, juga sebagai bentuk reproduksi budaya Cina Muslim di Indonesia.Wallahu a‟lam bis showab.



