OPINI: Melalui Paskah Keluargaku Bangkit Bersama Kristus

Oleh : Andreas Daris Awalistyo
Pengurus Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Palembang
Tahun ini kembali umat Kristiani dapat merayakan Paskah. Paskah adalah kebangkitan Tuhan Paskah adalah kebangkitan kita bersama karena Tuhan mengikutsertakan kita untuk menjadi ahli waris kerajaan surga kita menyadari bahwa kita terus-menerus harus melakukan transfer Iman. Di mana umat Kristiani dari perayaan Rabu Abu selama 40 hari sebelum Paskah melakukan pantang dan puasa. Masa Prapaskah adalah waktu khusus, waktu untuk mensyukuri kasih Allah yang begitu besar kepada kita; waktu untuk menyadari diri kita di hadapan Tuhan dan kembali ke jati diri kita sebagai murid-murid Yesus.
Setelah menjalani masa Prapaskah dan selanjutnya bermuara pada Pekan Suci dari Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah, kita diajak untuk mengikuti Yesus memasuki hari-hari terakhir hidup-Nya di dunia ini, menjalani sengsara, wafat demi kasih-Nya yang begitu besar kepada dunia dan akhirnya bangkit dari antara orang mati. Agar kita dapat merasakan kasih Allah kepada kita dan kepada dunia, salah satu syarat yang menentukan adalah pengenalan akan jati diri kita yang benar di hadapan Tuhan. Masa Prapaskah adalah hari refleksi yang indah untuk memperbarui harapan kita dan memperkuat iman kita. Setiap kali kita berziarah ke Jalan Salib, kita ingin merasakan kehadiran Tuhan semakin menguat. Kita dipanggil untuk memikul salib dunia ini bersama Yesus. Kasih karunia Tuhanlah, bukan kelemahan kita, yang memungkinkan kita untuk terus maju di masa-masa yang mematikan dan kelam di bumi ini. Dia menyalibkan segala penderitaan dan kegelapan hidup manusia. Dia kemudian mewartakan fajar cerah kehidupan baru untuk Paskah. Kristus yang Bangkit kini bertahta di surga dan terus terlibat dalam peperangan hidup kita di dunia ini melalui kehadiran Roh Kudus: “Sesungguhnya Aku menjadikan segala sesuatu baru”. (Why 21:5).
Paskah merupakan hari raya keagamaan yang penting bagi umat Kristiani dan mencakup nilai-nilai seperti harapan, pengampunan, kasih sayang, dan kehidupan baru, serta dapat dipahami dan dirayakan oleh semua orang, apapun latar belakang agamanya. Paskah dirayakan pada hari ketiga Jumat Agung, tepatnya hari Minggu, yang menandai hari Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Peristiwa Paskah merupakan landasan, titik tolak, dan pusat iman Kristiani. Ini adalah bukti bahwa dalam diri Yesus Allah menang atas maut dan mengubah kehinaan menjadi kemuliaan. Paskah memberi kesaksian tentang keilahian Yesus. Karena kemenangan Juruselamat kita Yesus Kristus atas kematian, maka Paskah dapat dijadikan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga dan teman serta berbagi kegembiraan Paskah. Yesus Kristus Juru selamat kita telah menang atas maut. Jangan takut! (Mrk 16:6). Sebab “barangsiapa yang berharap kepada Tuhan tidak akan dikecewakan”.
Perayaan Paskah adalah perayaan sukacita keselamatan kita di dalam Yesus Kristus, maka sebagai suatu keluarga senantiasa bersyukur bahwa kita ditebus oleh Kristus sebab setiap manusia mempunyai tanggung jawab untuk hanya sendiri maupun menjadi keluarga. Keluarga adalah masyarakat, dan perlu kita pertahankan keluarga, supaya utuh mencapai keluarga yang bahagia berkat karunia dari para pendahulu. Melalui transfer iman nilai-nilai luhur kemanusiaan kepada generasi muda yang mempunyai tanggung jawab mulia dalam hidup anak-anak. Rahmat kasih Tuhanlah, dan bukan kekuatan kita yang rapuh, yang memampukan kita untuk terus melangkah maju dalam lorong fana dan suram di muka bumi ini. Dia telah menyalibkan segala penderitaan dan kegelapan hidup manusia di kayu salib. Dia pula telah menerbitkan fajar cerah kehidupan baru dalam peristiwa paskah. Kristus yang bangkit, yang kini bertakhta dalam singgasana surgawi, terus terlibat dalam pergumulan hidup kita di dunia ini melalui kehadiran Roh Kudus-Nya: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Why 21:5)
Dengan memancarkan Paskah melalui dua simbol alamnya: cahaya lilin Paskah dan air yang digunakan dalam baptisan, keduanya mematahkan ikatan kegelapan, kuasa dosa, dan kematian serta menyanyikan kehidupan baru yang menyanyikan harapan. “Manusia baru” dan “langit baru dan bumi baru. ” Simbol sebenarnya dari peristiwa Paskah ini berupaya untuk mengungkapkan karya penyelamatan Kristus, yang meliputi seluruh umat manusia dan mencakup alam semesta ciptaan. Roh Kristus yang Bangkit terus memperbaiki dan menyempurnakan seluruh ciptaan. Yaitu, “Jika kamu mengutus Rohmu, maka terciptalah mereka, dan kamu memperbaharui muka bumi” (Mazmur 104:30). Dan ketika lilin Paskah dinyalakan dan seruan terang Kristus berlalu, kami menanggapinya dengan suara nyaring dan sukacita: “Syukur kepada Tuhan! ” Ini adalah seruan sukacita, dan dunia serta Komitmen yang teguh terhadap misi memperbarui alam semesta. Sebagai rumah satu ayah yang indah dan harmonis bagi semua orang, terutama bagi kami sekeluarga. Mereka yang dipersatukan dengan Kristus pada peristiwa Paskah adalah “ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, dan yang baru sudah datang” (1 Korintus 5: 17). Mari bersatu dengan segenap ciptaan dan bernyanyi merdu bagi kemuliaan Tuhan: Halleluya.Sesuai dengan tema tahun keluarga di Keuskupan Agung Palembang yaitu : “Keluargaku Bangkit Bersama dengan Kristus”. Semua anggota keluarga kita diajak untuk hidup secara baru dengan sungguh-sungguh menyadari bahwa keluarga adalah Ekklesia domestika gereja kecil dan sekolah kemanusiaan yang dikehendaki didirikan dan diberkati oleh Allah sendiri. (Kej 1 : 28) sebagai orang Kristiani dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur keluarga Kristiani. Keluarga tidak perlu minder walau kita kawanan kecil di tengah masyarakat lain yang mungkin mempunyai pemikiran yang berbeda tentang nilai-nilai keluarga kemanusiaan toleransi dan persaudaraan sejati tetaplah Teguh mengimani kehendak Allah. Bahwa keluarga yang harmonis yang menghidupi Cinta Kasih Tak Kenal lelah akan melahirkan generasi muda yang beriman beradab dan manusiawi tahun keluarga tahun ini membawa keluarga kita untuk hidup penuh kasih dan menghidupi nilai-nilai leluhur keluarga menurut ajaran gereja dan menurut Sabda Tuhan
Keluarga perlu mewaspadai adanya ancaman terhadap kemungkinan bahwa masa kini kehidupan di dunia sedang menghancurkan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang seharusnya dipupuk dalam keluarga dengan pola hidup negatif seperti penyakit-penyakit yang merusak kesehatan dan mengancam nyawa, terancam oleh gaya hidup seksual bebas, hedoisme, konsumerisme. Sebuah keluarga dengan gaya hidup negatif. Artinya keyakinan moral dan ajaran kesopanan, pendekatan hidup materialistis, dan sikap toleran yang mengabaikan pemikiran generasi beragama. Kita tidak bisa menuntut seseorang dilahirkan dalam suku, budaya, atau bangsa tertentu. Hanya Allah yang memutuskan. Oleh karena itu, merendahkan keberadaan keluarga dalam budaya aslinya merupakan penghinaan terhadap Tuhan sendiri yang menciptakan kita untuk dilahirkan dalam budaya kita. Posisi kita dalam keluarga dan budaya bukanlah kesalahan kita, namun rencana Tuhan. Menghargai bahwa kita adalah bagian dari budaya yang khusus dan menghormati saudara-saudari kita yang termasuk dalam budaya tersebut. Dengan mengupayakan hal ini, kita masing-masing diharapkan dapat memberikan kontribusi terbaiknya dalam membantu budaya kita masing-masing
Semoga semangat Paskah keluarga kita bangkit bersama Kristus, dan keluarga kita menjadi mengerti dan tidak berputus asa dalam menghadapi kesulitan hidup. Karena keluarga yang selalu berputus asa bukanlah sikap Kristiani. Kemanusiaan kita justru menjadi semakin tertempa tangguh dan beradab melalui kesulitan dan tantangan yang kita hadapi sehingga menjadi tidak ada kesulitan. Keluarga yang bangkit dan tangguh dalam merayakan Paskah selalu memiliki semangat untuk bersatu, berbagi kasih, dan merayakan kehidupan baru melalui nilai-nilai Kristiani. Keluarga untuk terlibat dalam memperkuat hubungan dan iman. Selain itu, keluarga menggunakan momen Paskah untuk refleksi, pemulihan, dan memberi semangat satu sama lain untuk menghadapi tantangan hidup dengan penuh harapan dan keberanian. SELAMAT PASKAH 2024. (*)



