OPINI: Guru Profesional Pasca 100% Online
Oleh: Yohanes Heri Pranoto dan Andreas Daris Awalistyo (Pendidik tinggal di Palembang)
MERUJUK pada edaran-edaran baik dari pemerintah pusat maupun daerah, internal satuan pendidikan maupun pendidikan non formal, PTMT menjadi keniscaann tanpa melupakan fakta bahwa pandemi COVID 19 masih menjadi isu kesehatan yang hangat diperbincangkan. Pembelajaran langsung di dalam ruang kelas dengan guru dan murid bersama hadir dan bertatap muka sudah dilakukan serempak pada tahun ini. “Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) dapat dilaksanakan dengan jumlah peserta didik 50% dari kapasitas ruang kelas pada satuan pendidikan yang berada di daerah dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 2,” Nadiem dalam surat edaran Mendikbud Ristek No. 2 Tahun 2022 tentang Diskresi Pelaksanaan SKB Empat Menteri. Menilik berbagai kesiapan yang dilakukan oleh sekolah serta mengamati proses PTMT berjalan mulai dari awal tahun ini, baik ada bahan ulasan reflektif dari sudut pandang guru sebagai fasilitator utama dari proses pembelajaran itu sendiri; saat ini, bagaimana guru-guru profesional di manapun berada beradaptasi dengan kondisi proses pembelajaran saat ini. Penggambaran profesionalisme guru akan dilihat dari keikutsertaan mereka dalam proses menegakkan fungsi pendidikan mulai dari sebelum pandemi, awal setelah pandemi, dan saat pandemi dianggap sudah berada pada level jemu sehingga aktifitas publik sudah bisa berjalan (atau dijalankan) dengan banyak persyaratan yang membawahi. Telebih bahwa pendidikan itu sangat penting. Tidak peduli bangsa dan negara mana pun. Dan semua juga sepakat bahwa guru adalah elemen paling penting dalam pendidikan meski pun materi dan metode pembelajaran sudah berubah sangat drastis belakangan ini. Peran guru tetap tidak tergantikan. Tapi mungkin kita tidak menyadari bahwa hanya guru yang bisa mengubah wajah pendidikan. Guru haruslah merdeka baik dalam berpikir, bersikap, mau pun dalam bertindak. Guru yang tidak merdeka dalam berpikir, bersikap, dan bertindak pada hakikatnya adalah robot belaka. Merdeka belajar dalam arti bahwa sekolah, guru dan murid mempunyai kebebasan dalam berinovasi dan bertindak dalam proses belajar mengajar. Artinya guru tidak bersifat monoton dan memiliki kebebasan melakukan berbagai variasi dalam pembelajaran. Tuntutan zaman saat ini menjadi pemicu pentingnya murid mahir dalam menggunakan tekonologi digital. Era digital yang dikenal dengan revolusi 4.0 saat ini, di mana teknologi telah merambah berbagai sendi kehidupan manusia.Untuk itu murid harus diantarkan agar selaras dengan perkembangan zaman. Mereka tidak boleh tertinggal dari perkembangan dan kemajuan zaman yang terjadi dengan pesat.
Keharusan Pembelajaran Virtual Memfasilitasi Guru Profesional
Pembelajaran online yang digadang sebagai jawaban atas permasalahan pandemi waktu itu tidak serta merta ditanggapi secara optimis. Penolakan ada dimana-mana, mulai dari guru, siswa, maupun stakeholder seperti orang tua. Mengingat situasi penolakan saat itu, layak kita baca pemberitaan di media-media masa yang terjadi di awal tahun 2021. Proses pendidikan secara virtual tidak lepas dari penggunaan perangkat digital yang cukup memadahi salah satunya terkoneksi dengan jaringan internet. Saat gawai yang dimaksud masih terasa mahal (barang mewah) bagi beberapa kalangan, pendidikan jarak jauh sulit untuk dilaksanakan. Selain masalah ekonomi, kesiapan guru dengan transisi dari kenyamanan offline ke ketidakjelasan online. Ada beberapa alasan yang setidaknya bisa didengar baik secara langsung di masyarakat kita maupun lewat media-media terntentu, seperti media massa dan media sosial. Yang paling sering terdengar adalah kesiapan guru untuk menyiapakan sarana dan perangkat pembelajaran virtual atau online. Tidak lain dan tidak bukan, pengesampingan pembelajaran tatap muka langsung dalam proses pendidikan dibarengi dengan perlunya kesiapan dalam penggunaan platform tertentu sehingga proses ’tranfer‘ ilmu dapat bisa tetap terjadi. Perlu belajar lagi. Tidak hanya belajar media-media belajar online, tetapi juga metode-metode pengajaran dan asesmen yang sesuai dengan karakter pembejaran online. Pemerintah pusat seolah-olah memahami kondisi kesulitan masyarakat, dan akhirnya, jika masih ingat, salah satunya, televisi lewat penyampaian materi pada waktu tertentu dijadikan sarana pengajaran. Padahal disisi lain, beberapa keluarga berpendapat televisi sejauh ini tidak lebih dari distruktor proses belajar siswa. Internet gratis untuk guru dan siswa juga demikian. Pada kondisi orang tua membatasi anak berinteraksi satu arah dengan gawai, kuota internet gratis diberikan. Hal ini diterapkan agar sistem baru proses belajar bisa tetap berjalan. Sekali lagi, pendidikan penting tetap berjalan meskipun pandemi yang membatasi orang untuk berinteraksi.
Pembelajaran di Kelas Jawaban Titik Jemu Pembelajaran Online
Sebagai guru yang TIDAK PERNAH BERHENTI BELAJAR. Bahwa, belajar itu bukan berarti sekolah lagi mengambil S-2 atau semacamnya. Setiap guru harus terus belajar dengan tidak pernah berhenti belajar dan belajar. Maka guru juga belajar beradaptasi selama pembelajaran virtual saat pandemi Covid-19 dua tahun ini. Guru bisa melakukan pengembangan diri saat pembelajaran tidak menjadi tanggungan sepenuhnya oleh guru di sekolah dan proses belajar bisa dilakukan mandiri oleh siswa tanpa melihat waktu tatap muka sebagai constraint yang membatasi ketercapaian materi ajar. Selain itu Siswa dengan senang hati bisa memiliki banyak waktu berada di rumah, tidak bertemu langsung dengan guru sebagai sosok yang selalu hadir dengan intruksi dan tugas, dan melakukan banyak kegiatan yang menjadi preferensi mereka untuk dilakukan mandiri di rumah. Di samping kenyamanan, proses belajar jarak jauh tidak lama sudah sampai puncaknya. Guru merasakan proses belajar tersebut tidak bisa menggantikan sepenuhnya proses belajar dan memfasilitasi kegiatan belajar. Sebagai akibatnya, materi belajar terkesan memaksa untuk bisa dipahami siswa dengan baik. Penilaian hasil belajar yang objektif juga cukup sulit untuk didapatkan. Siswa juga mengalami kejenuhan ketika aktifitas belajar jarak jauh lebih banyak dimuati oleh penugasan-penugasan ketimbang keasyikan aktifitas tatap buka di kelas. Ada kerinduan untuk kembali melaksanakan pembelajaran di kelas. Saat hal tersebut terjadi dan dibarengi dengan grafik kasus COVID 19 cenderung melandai, akhirnyalah pembelajaran tatap muka mulai direncanakan kembali. Hal ini menjadi jawaban yang terencana untuk keluar dari rutinitas pembelajaran online yang sudah mulai perlu pembaruan. Kebijakan yang mengizinkan siswa beraktifitas belajar di kelas akhirnya disambut baik mayoritas guru, orang tua, dan siswa. Perubahan kebijakan terhadap proses pembelajaran offline ke online dan online ke offline menuntut fleksibilas guru. Bagaimana tidak ketika perkuliahan offline yang diupayakan saat ini pun dibatasi dengan klausul-klausul atau kondisi-kondisi tertentu dalam proses penerapannya.Kondisi saat ini, singkatnya, mengharuskan guru untuk (terampil) mengajar secara online dan juga offline – mengajar siswa hadir di kelas dan mengajar siswa yang tidak ada di kelas. Oleh karena itulah, perlu menarik benang merah qualities guru profesional di masa offline sekarang ini berlatar permasalahan dilihat dari dimensi kepribadian, sosial, dan pedagogik.
Profesionalisme Guru dalam Merdeka Belajar
Perubahan pembelajaran dari online ke offline tidak semata bisa terjadi begitu saja dengan menganggap seolah-olah segala sesuatunya, mulai dari hal administratif sampai ke filosofis, sudah bisa berjalan (lagi) seperti semula. Benarkan demikian? Pembelajaran tatap muka yang ’dijeda‘ oleh online selama kurang lebih dua tahun harus memberikan makna positif bagi seluruh civitas, terutama guru. Proses ’belajar‘ selama masa pandemi sekurang-kurangnya memberi makna pada proses pendidikan yang seharusnya dikelola. Kebaruan yang selama pandemi sudah muncul harus menciptakan habitus baru yang membawa pendidikan harus lebih baik lagi, harus berbeda dari situasi tatap muka sebelum pandemi. Ada beberapa hal yang perlu menjadi kesiapan para guru dalam menyongsong pembelajaran tatap muka setelah pandemi. Secara praktis, menyiapkan dan adaptasi perangkat pembelajaran offline tidak mudah. Guru yang adaptif dengan kondisi seperti ini menjadi kunci kesuksesan pembelajaran offline. Begitu juga dengan siswa. Guru juga mampu membaca kondisi peserta didik yang cenderung untuk menggunakan gadget sebagai alat bantu pembelajaran. Menjadi pertanyaan apakah gawai sekarang dianggap sebagai pengganggu yang harus dimusui, atau menjadi partner media yang baik untuk membangun kompetensi siswa sesuai learning objectives pembelajaran? Pada hakekatnya, gawai adalah alat bantu yang untuk mempermudah pekerjaan manusia. Begitu juga dengan gadget. smart devices, istilah lain gadget, sedapat mungkin dapat terintegrasi dengan proses pembelajaran baik di luar maupun di dalam kelas dengan syarat-syarat tertentu. Guru mengambil kendali lewat kebijakan yang memfasilitasi hal itu.
Mensinkronkan materi online yang diterima siswa selama masa pandemi dengan materi yang disampaikan secara offline saat ini menjadi hal yang tidak gampang. Masalahnya ada di mana? Jika tingkat pencapaian secara online sudah sesuai, tidak perlu pengulangan yang berarti sehingga pembelajaran offline yang dirasa lebih efisien, bisa disampaikan dengan baik. Guru yang kreatif dalam manajemen waktu bisa menjadi key answer dari permasalahan ini. Adanya siswa sulit move on dari kenyamanan pembelajaran online yang bisa jadi berdampak pada kemandulan produktifitas mereka. Siswa yang ’dipaksa‘ untuk belajar di rumah diartikan sebagai siswa tidak diperbolehkan datang ke sekolah. Siswa yang diharuskan belajar menggunakan alat bantu gadget diartikan sebagai siswa boleh bermain hp sambil belajar. Siswa yang mendapatkan lebih banyak waktu untuk mengerjakan tugas diartikan sebagai siswa bisa menggunakan waktu untuk main-main sembari materi disampaikan. Masih banyak lagi contohnya. Guru sebagai agent of education mampu menjalin komunikasi efektif dengan siswa dan, bukan tidak mungkin, juga dengan orang tua untuk pendidikan yang holistik dan berpengaruh panjang untuk siswa. Seorang guru, yang diharapkan menjadikan para siswa di kelas menjadi pemimpin bangsa, Tugas guru menjadi motor penggerak perubahan bangsa melalui kelas-kelas yang di ajar. Pendidikan sebagai institusi berperan dalam mencerdaskan dan membangun karakter anak bangsa harus mendapatkan dukungan terutama dari guru. Pengalaman belajar yang bermakna harus tetap diupayakan tersaji ke siswa apapun kondisi pendidikan, apapun yang menjadi kebijakan sekolah, apapun situasi siswa, dan apapun yang menjadi permasalahan sosial saat ini. Guru yang berperan untuk mencerdaskan dan guru yang mengambil bagian dalam pembangunan karakter mampu menjadi teladan atau role model; nemo dat quod non habet, yang berarti tak seorang pun memberi apa yang tidak dia miliki. Viva, guru. Tugasmu sungguh mulia. (*)




