Kebaya Fest Berbagi Kisah Inspirasi dan Pengalaman Kreatif dalam Mengeksplorasi Kebaya
JAKARTA, MEDIASRIWIJAYA – Kebaya merupakan perwujudan kekayaan budaya Nusantara yang memiliki ciri khas, motif, bahan, dan potongan yang unik di berbagai daerah di Indonesia. Kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan sebuah identitas, warisan budaya, dan simbol pemberdayaan perempuan. Untuk mengenal lebih dekat tentang kebaya, Bakti Budaya Djarum Foundation menggelar Kebaya Wicara oleh Didiet Maulana hari ini di Pos Bloc Jakarta.
Acara ini mengajak para peserta yang hadir untuk mengenal lebih dalam tentang sejarah kebaya melalui berbagai era, serta berbagi kisah inspiratif dan pengalaman kreatif Didiet Maulana dalam
mengeksplorasi kebaya. Ia menggabungkan elemen tradisional dengan sentuhan modern, serta memperkenalkan berbagai variasi dan gaya kebaya yang mencerminkan kekayaan warisan budaya
Nusantara.“Didiet Maulana merupakan seorang perancang busana yang sangat paham dengan pakem kebaya dalam karya-karyanya. Ia memaparkan evolusi kebaya dari masa ke masa dan bagaimana kebaya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Indonesia. Kita tidak hanya merayakan keindahan kebaya sebagai simbol kehidupan dan perjalanan budaya yang penuh warna dan makna, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk mengenakan kebaya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mendorong keberlanjutan ekonomi bagi para pengrajin dan pelaku usaha di seluruh Indonesia. Melalui kebaya, mari kita mengangkat potensi lokal dan bersama-sama melestarikan kebaya sebagai warisan budaya bangsa dan kebanggaan identitas nasional,” ujar Renitasari Adrian,Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.
Keindahan tradisi telah menyentuh hidup Didiet Maulana sejak kanak-kanak dan kebaya memiliki makna sentimental baginya. Sejak kecil ia melihat Eyang Uti (nenek) selalu berkebaya kemana saja. Ia juga mengajarkan cara mengenakan kebaya yang benar dan memadupadankannya dengan kain dan aksesoris agar serasi. Kecintaan Didiet Maulana pada kebaya juga mendorongnya berkeliling Nusantara dan melakukan 6 tahun riset mendalam serta tambahan 1,5 tahun untuk penulisan. Hasil perjalanan panjang dan berharga dalam memahami dan mengapresiasi kebaya sebagai warisan budaya Indonesia dituangkannya dalam buku Kisah Kebaya yang diluncurkan pada tahun 2021.
Didiet Maulana memaparkan, serupa dengan busana-busana daerah yang lain, kebaya memiliki pakem yang hadir sejak awal lahirnya. Kebaya yang masih mengindahkan pakem-pakem disebut
kebaya klasik. Ada beberapa hal yang menjadi pakem sebuah kebaya klasik, antara lain memiliki bukaan di bagian depan, menggunakan kancing atau peniti/bros yang sekaligus berfungsi sebagai aksesori, memiliki variasi panjang, mulai dari sejajar dengan panjang lengan, hingga ke lutut. Selain itu, kebaya sesuai pakem juga memiliki variasi di bagian bawah, yaitu potongan lurus atau lancip.
Secara keseluruhan, tampilan kebaya juga memiliki pakem, seperti bawahan kebaya pakem adalah batik yang panjangnya tidak lebih dari mata kaki. “Selain kebaya klasik, ada juga istilah kebaya modifikasi yang mengikuti tren dan bergaya muda. Kebaya yang telah melalui proses evolusi ini cenderung lebih variatif, bebas, dan santai. Melalui kebaya modifikasi, pengguna kebaya memiliki ruang untuk mengekspresikan diri lebih luas lagi. Namun, kita perlu memahami akar sejarah dan budaya kebaya agar dapat mengapresiasi nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya dan memastikan bahwa setiap inovasi dan perubahan tidak menghilangkan esensi kebaya. Saya berharap momen menjadi awal yang tepat untuk mengangkat kebaya ke panggung dunia, serta memberikan manfaat nyata bagi komunitas perajin di Indonesia,”ujar Didiet Maulana.
Masyarakat juga dapat melihat berbagai bentuk kebaya karya Didiet Maulana seperti kebaya Panjang, kebaya Pendek, kebaya Kartini dan kebaya Kutu Baru dengan sentuhan modern yang tetap
menghormati akar tradisionalnya melalui instalasi Kebaya Kala Kini oleh Svarna by IKAT Indonesia. Instalasi ini mencakup padu padan kebaya dengan perhiasan, selendang dan batik khas Nusantara, salah satunya batik Kudus yang merupakan binaan dari Bakti Budaya Djarum Foundation. Lebih dari sekadar keindahan desain, instalasi ini juga mengajak para pengunjung untuk menyelami makna kebaya sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas perempuan dan bangsa. Kebaya, yang mempersatukan berbagai kelas sosial dan lintas batas wilayah di seluruh Nusantara, patut dilestarikan dan dibanggakan sebagai warisan budaya bangsa.
Dalam kesempatan ini juga dimeriahkan dengan peluncuran lagu Kebaya Indonesia oleh 5 Wanita, yaitu Andien, Rieka Roslan, Yuni Shara, Iga Mawarni dan Nina Tamam. Para wanita Indonesia yang terkenal dengan suara merdu ini menghadirkan sebuah lagu yang khusus diciptakan oleh Rieka Roslan dalam rangka Hari Kebaya Nasional 2024. Lagu ini melodi dan liriknya dirangkai dengan indah oleh Rieka Roslan dan menggambarkan pesona budaya Indonesia yang salah satunya adalah kebaya sebagai busana yang melambangkan ciri khas dan karakter wanita Indonesia.
“Pesona budaya Indonesia tercermin dalam kebaya, busana yang melambangkan ciri khas dan karakter wanita Indonesia. Kebaya bukan hanya sebuah pakaian, melainkan simbol perjuangan dan
emansipasi wanita Indonesia dari masa ke masa. Lagu ini bukan hanya sebuah karya seni, tetapi juga sebuah pernyataan tentang kebanggaan akan kebaya sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Dan saya bersyukur ada teman-teman penyanyi lainnya yang bersatu dalam proyek musik ini dan mau mengangkat suara mereka untuk melestarikan warisan budaya Nusantara,” ujar Rieka Roslan.
Acara ini merupakan bagian dari Kebaya Fest yang digelar 26-28 Juli 2024 di Pos Bloc Jakarta untuk memperingati Memperingati Hari Kebaya Nasional yang jatuh pada 24 Juli. Kebaya Fest yang diinisiasi oleh Komunitas Kebaya Menari ini mempunyai misi untuk mengajak generasi muda turut berkebaya dengan cara yang menyenangkan. Komunitas Kebaya Menari dibidani oleh empat sekawan, Yanti Moeljono, Ade Nirmala, Berty Singgih dan Dian Chieq, yang merupakan pegiat budaya dan juga penari tradisional. Komunitas ini merupakan gerakan akar rumput yang
menyiarkan, mensosialisasikan dan mengedukasi pemakaian kebaya kepada masyarakat luas. Kegiatan Kebaya Menari dimulai sejak tahun 2019 dengan berbagai kegiatan di dalam dan luar
negeri. (rel)
Sekilas tentang BAKTI BUDAYA DJARUM FOUNDATION
Sebagai salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah, Indonesia, PT Djarum memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang turut berperan serta dalam memajukan bangsa dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempertahankan kelestarian sumber daya alam Indonesia.
Berangkat dari komitmen tersebut, PT Djarum telah melakukan berbagai program dan pemberdayaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di masyarakat dan lingkungan selama kurun waktu 60 tahun. Pelaksanaan CSR ini dilaksanakan oleh Djarum Foundation yang didirikan sejak 30 April 1986, dengan misi untuk memajukan
Indonesia menjadi negara digdaya yang seutuhnya melalui 5 bakti, antara lain Bakti Sosial, Bakti Olahraga, Bakti Lingkungan, Bakti Pendidikan, dan Bakti Budaya. Semua program dari Djarum Foundation adalah bentuk konsistensi Bakti Pada Negeri, demi terwujudnya kualitas hidup Indonesia di masa depan yang lebih baik dan bermartabat. Dalam hal Bakti Budaya Djarum Foundation, sejak tahun 1992 konsisten menjaga kelestarian dan kekayaan budaya dengan melakukan pemberdayaan, dan mendukung insan budaya di lebih dari 5.000 kegiatan budaya. Beberapa tahun terakhir ini, Bakti Budaya Djarum Foundation melakukan inovasi melalui media digital, memberikan informasi mengenai kekayaan dan keragaman budaya Indonesia melalui sebuah situs interaktif yang dapat diakses oleh masyarakat luas melalui www.indonesiakaya.com. Kemudian membangun dan meluncurkan "Galeri Indonesia Kaya"
di Grand Indonesia, Jakarta pada 10 Oktober 2013. Ini adalah ruang publik pertama dan satu-satunya di Indonesia
yang memadukan konsep edukasi dan multimedia digital untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia agar seluruh masyarakat bisa lebih mudah memperoleh akses mendapatkan informasi dan referensi mengenai kebudayaan Indonesia dengan cara yang menyenangkan dan tanpa dipungut biaya.
Bakti Budaya Djarum Foundation bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang mempersembahkan “Taman Indonesia Kaya” di Semarang sebagai ruang publik yang didedikasikan untuk masyarakat dan dunia seni pertunjukan yang diresmikan pada 10 Oktober 2018, bertepatan dengan ulang tahun Galeri Indonesia Kaya ke-5. Taman Indonesia
Kaya merupakan taman dengan panggung seni pertunjukan terbuka pertama di Jawa Tengah yang memberikan warna baru bagi Kota Semarang dan dapat menjadi rumah bagi para seniman Jawa Tengah yang bisa digunakan untuk berbagai macam kegiatan dan pertunjukan seni budaya secara gratis.
Bakti Budaya Djarum Foundation juga melakukan pemberdayaan masyarakat dan rutin memberikan pelatihan membatik kepada para ibu dan remaja sejak 2011. Hal ini dilatarbelakangi kelangkaan dan penurunan produksi Batik Kudus akibat banyaknya para pembatik yang beralih profesi. Untuk itu, Bakti Budaya Djarum Foundation melakukan
pembinaan dalam rangka peningkatan keterampilan dan keahlian membatik kepada masyarakat Kudus agar tetap hadir sebagai warisan bangsa Indonesia dan mampu mengikuti perkembangan jaman tanpa menghilangkan ciri khasnya. Lebih lanjut informasi mengenai Bakti Budaya Djarum Foundation dapat mengakses
www.djarumfoundation.org, www.indonesiakaya.com.




