EkonomiHeadlineNasionalPalembangSUMSEL

Inflasi Sumsel September 2026 Terendah Nasional

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Inflasi Sumsel secara year on year terdata paling rendah secara nasional untuk periode September 2026. Demikian dikatakan Kepala BPS Sumsel Moch Wahyu Yulianto saat press conference, Kamis (1/10).

Menurut Wahyu, secara nasional angka inflasi 0,3 persen sedangkan Sumsel hanya 0,21 persen, ini secara month to month. Sementara secara year on year terdata nasional 3,28 persen sedangkan Sumsel 2,55 persen. “Perbandingan nasional year on year  kita Sumsel paling rendah di 38 provinsi di Indonesia. Ini perlu diapresiasi karena di tengah gejolak tekanan harga, TPID dan Pemprov dan kolaborasi bersama mampu mengendalikan inflasi di Sumsel,” kata Wahyu.

Wahyu membeberkan bahwa inflasi antar kota di Sumsel di bulan September secara month to month semua mengalami, yang tertinggi Lubuklinggau 0,3 persen, Muaraenim 0,25 persen, Palembang 0,22 persen dan OKI sebesar 0,14 persen terendah. Adapun secara year to year adalah Muaraenim  3,16 persen dan terendah di Palembang 2,4 persen. “Pada September 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sumatera Selatan sebesar 2,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,21. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Muara Enim sebesar 3,16 persen dengan IHK sebesar 114,51 dan terendah terjadi di Kota Palembang sebesar 2,40 persen dengan IHK sebesar 111,46. Tingkat inflasi month to month (m-to-m) Provinsi Sumatera Selatan Bulan September 2026 sebesar 0,21 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) sebesar 1,90 persen,” katanya.

Disebutkannya, dari varian komoditas 400-an lebih yang dipantau tiap bulan, ada 5 penyumbang inflasi yang  terbesar yang hampir seragam di seluruh kota di Sumsel  seperti beras, cabe merah,  cabe rawit, telur ayam ras dan pisang. Sebaliknya, yang mengalami deflasi adalah bawang merah, emas perhiasan, bawang putih, tomat dan kol putih. “Secara year to year, emas, beras, daging ayam ras, bensin dan minyak goreng. Beras karena kenaikan harga gabah dan biaya pengemasan. Daging ayam karena produktivitas menurun karena banyak bibit ayam yang mati akibat cuaca panas saat ini. Daging ayam meningkat dan telur ayam ras mengalami kenaikan di tingkat peternak karena tingginya harga pakan.  Ini yang memberikan andil inflasi.,” katanya.

Wahyu juga mengingatkan waspada di sisa 3 bulan terakhir 2026 ini yaitu Oktober, Nopember dan Desember. Menurutnya, Natal dan Tahun Baru perlu diwaspadai. “Perayaan Natal akan ada tekanan inflasi akan lebih tnggi di akhir tahun,” tambahnya. (saf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *