Edukasi dan Aksi Bersama Cindo Pads, Ajak Ubah Perilaku Perempuan terhadap Pembalut Wanita
Teks foto: Yeni Izi memperlihatkan bentuk fisik Cindo Pads dengan bahan-bahan pembuatannya.
PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Bertempat di pelataran Kopi 16 Pro Kota Palembang yang terletak di dekat Jembatan Ampera, Kamis (29/7) berlangsung kegiatan Edukasi dan Aksi Bersama Cindo Pads, aksi mengajak mengubah perilaku terhadap pembalut wanita. “Kalau zaman dahulu, adalah hal tabu untuk menceritakan bahwa seorang perempuan mengalami menstruasi atau haids. Ada istilah datang bulan, atau istilah lain yang mengisyaratkan perempuan zaman itu sedang menstruasi saking takutnya ketahuan sedang haids bahkan menganggap hal itu tabu untuk diceritakan atau disebar-luaskan,” ujar Yeni Roslaini Izi saat sambutan di hadapan audiensi dalam kegiatan Edukasi dan Aksi Bersama Cindo Pads, Kamis (29/7).

Yenny Izi adalah seorang aktivis perempuan terkemuka di Sumatera Selatan yang menjabat sebagai Ketua Pembina sekaligus mantan Ketua Dewan Pengurus / Direktur Eksekutif di Women’s Crisis Center (WCC) Palembang.
Pada kesempatan kali ini, Yeni menjelaskan Cindo Pads adalah pembalut kain ramah lingkungan yang dapat dicuci dan digunakan kembali, hasil kolaborasi antara Women Crisis Center (WCC) Palembang, Bank Sampah Kenanga, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sumsel, dan kelompok CU Jaya Bersama. Cindo Pads resmi diluncurkan pada 7 Mei 2026 di Palembang.

Beberapa keunnggulan disebutkan Yeni, di antaranya bahan lembut dan aman, bebas bahan kimia berbahaya, diklaim minim iritasi serta dilengkapi sentuhan kain batik. Adapun masa pemakaian Cindo Pads berkisar 3-5 tahun jika dirawat dengan benar. “Kalau rajin dan merawat dengan baik akan awet pembalut kain ini. Tapi kalau ada penyakit penyu (pemalas, red) maka tingkat keawetan akan berkurang. Misalnya langsung dicemplung ke dalam mesin cuci, “ kata Yeni.
Di sisi lain, Yeni menjelaskan bahwa pembalut kain (Cindo Pads) ini mengurangi limbah pembalut sekali pakai yang sulit terurai di lingkunga. “Bahan pembalut sekali pakai yang mayoritas dari plastik maka akan sulit terurai ketika menjadi sampah. Sebaliknya, pembalut kain untuk periode tertentu akan awet dan ramah lingkungan karena dicuci ulang,” katanya.

Untuk kegiatan edukasi dan aksi bersama ini, Yeni mengatakan pihaknya mengajak sekitar 20-an peserta yang terdiri dari media massa, konten creator serta beberapa peserta yang merupakan sosok yang cukup berpengaruh di lingkungan komunitasnya. “Hari ini kita berharap akan menghasilan konten yang menarik, jadi advokator atau abadikan manfaat pembalut ini. Mudah-mudahan dapat mengubah perilaku banyak perempuan terhadap pembalut sekali pakai dengan pembalut kain ini. Di sini peserta ada 20 orang konten creator lokal dan opini leader yang ada di Palembang yang diajak WCC. Diskusi mengenai dampak lingkungan atau manfaat pembalut kain dengan lingkungan. Lebih sedikit akan lebih efektif. Kegunaan dan perawatan Cindo Pats. Kita akan menghasilkan konten promosi yang otentik terhadap keberadaan pembalut kain ini. Apa yang kita harapkan dapat berdampak luas dengan sedikit demi sedikit mengubah perilaku terhadap pembalut wanita.,” tambahnya.
Teks foto: Ersya saat memberikan pernyataan.
Di tempat yang sama, salah seorang narasumber, Ersya menjelaskan kegunaan pembalut kain dengan pengurangan sampah plastik. Dampak beda dengan penggunaan pembalut sekali pakai dan pembalut kain. “Awalnya agak risih namun setelah beberapa bulan maka sudah terbiasa dengan penggunaan pembalut kain. Selain ramah lingkungan, pembalut kain lebih nyaman untuk kesehatan reproduksi.
Penggunaan sampah plastik (bekas pembalut sekali pakai) yang ketika didaur ulang tidak bisa terurai adalah masalah tersendiri bagi lingkungan.
Sesi tanya jawab tampaknya cukup menarik karena peerta antusias bertanya dan memberikan pernyataan terkait pengalaman dan perilaku selama mengalami menstruasi terkait dengan penggunaan pembalut.(saf)




