Ditreskrisus Polda Amankan Pasutri Pengedar Kosmetik Ilegal Online

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Subdit 1 Tindak Pidana Indagsi Ditreskrisus Polda Sumatera Selatan (Sumsel), mengamankan sepasang suami istri, dan mengamankan ribuan kosmetik ilegal tanpa izin edar secara Online Face Book, keduanya ditangkap saat hendak COD dengan pembeli di kawasan Jalan Balayudha Ario Kemuning Kecamatan Kemuning Palembang, Senin (6/9) sekitar pukul 20.00 Wib.

Kedua tersangka tersebut, Linda Astika (27) dan Supriadi (31) suaminya merupakan warga Jalan Sriwijaya Raya Kelurahan Karya Jaya Kecamatan Kertapati Palembang, diamankan bersama barang bukti kosmetik masker whitening merek Ratu atau bedak leluhur OGI Wajo sebanyak 2.267 pot, masker komedo apel hijau sebanyak 35 pieces, masker komedo taruh sebanyak 68 pieces, masker komedo strawberry sebanyak 72 pieces dan masker komedo lemon sebanyak 142 pieces. Petugas juga mengamankan satu unit mobil warna merah dengan nomor polisi BG – 15 21 – MP.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumsel Kombes Pol Barly Ramadhani melalui Wadir Reskrimsus AKBP Ferry Harahap didampingi Kasubbid Penmas AKBP Iralinsah SH, dan Kasubdit I Kompol Hadi Saifuddin mengatakan terungkapnya peredaran kosmetik tanpa izin edar ini melalui media sosial Facebook. Dari sinilah Subdit Indagsi Ditreskrimsus Polda melakukan penyelidikan mendapatkan sepasang pasutri yang menjual kosmetik tanpa izin edar lalu dilakukan under cover by untuk melakukan penangkapan. “Anggota kami mencoba membeli kosmetik kepada dua pasutri yang menjual kosmetik tanpa izin edar ini sehingga dapat lah barang bukti ribuan pot masker whitening dan ratusan pcs masker komedo dari dua pasutri ini,” ungkap Wadir Reskrimsus AKBP Ferry Harahap, Kamis (23/9).

Untuk para konsumen, kata Ferry memesan barang melalui Facebook, setelah berlanjut melalui whatsapp. Setelah sepakat barang akan diantar pembayaran melalui COD. Untuk menggaet konsumennya pelaku mengiming – imingi hadiah sepeda motor kepada para konsumennya. Kosmetik ini tidak ada izin edar dari BPOM sehingga mutu dari produk kecantikan belum diketahui sehingga untuk menghindari dampak dari pemakaian produk ini. Karena produk sudah beredar dan sudah diperjualbelikan maka masyarakat harus berhati -hati memakai produk ini nanti bukan cantik malah berbahaya jika dipakai,” jelasnya.

Dikatakan Ferry, Ditreskrimsus Polda Sumsel menggandeng BPOM untuk melakukan pendalaman menjerat pelaku peredaran kosmetik tanpa izin edar ini. Untuk sementara kosmetik ini dipasarkan pelaku sendiri belum dipasarkan ke toko- toko kosmetik lain. “Kami masih melakukan penyelidikan dari mana asal kosmetik ini, karena kedua tersangka mendapatkan barang ini melalui online semua. Barang dikirim melalui paket cargo yang diterima langsung oleh kedua tersangka,” ujarnya.

Sementara itu, di hadapan polisi tersangka Linda mengaku penjualan kosmetik ilegal baru berjalan satu tahun keuntungan yang ia dapat dari bisnis ini digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari. “Kosmetik itu saya pesan melalui online saya tidak tahu dari mana asalnya karena pemesanan lewat online semua,” akunya.

Dalam setahun, ia bisa memesan barang antara dua sampai tiga kali pemesanan. Untuk memasarkannya ia memanfaatkan media sosial Facebook.”Selain menjual saya juga pakai kosmetik itu, konsumen pesan barang dan barang akan diantar ke rumah oleh suami saya pembayaran melalui COD,”bebernya.

Hal senada juga disampaikan tersangka Supriadi suami Linda mengaku konsumen kosmetik milik istrinya rata-rata orang Palembang dirinyalah berperan sebagai kurir antar barang ke rumah konsumen. Saya sehari- hari membantu kakak saya di rumah makan, efek pandemi covid 19 ini saya ikut terjun bisnis penjualan kosmetik milik istri saya,”katanya.

Atas perbuatannya kedua tersangka dijerat dengan Pasal 196 Jo Pasal 98 Ayat (2) dan Ayat (3) UU RI No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pasal 197 Ayat (1) Jo Pasal 106 Ayat (1) dan Ayat (2) tentang UU RI No 11 tahun 2020 tentang Cipta kerja tentang perubahan atas UU RI No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan Pasal 62 Ayat (1) Pasal 8 Ayat (1) huruf (d) dan atau huruf (i) UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dimana kedua tersangka terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda 1.5 miliar rupiah. (Ly).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *