EkonomiHeadlineNasionalPalembangSUMSEL

Diseminasi KFR Triwulan II 2026: Sinergi Fiskal dan Transformasi UMKM Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi Sumatera Selatan

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Sumatera Selatan menyelenggarakan Diseminasi Kajian Fiskal Regional (KFR) Triwulan II Tahun 2026 bertema “Sinergi Fiskal dan Transformasi UMKM: Menjaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global” pada Senin, 28 September 2026, di Aula Gedung Keuangan Negara Palembang. Hasil kajian menunjukkan bahwa perekonomian Sumatera Selatan tetap tumbuh, stabilitas harga tetap terjaga, dan pendapatan negara mencatat pertumbuhan yang kuat. Di sisi lain, belanja negara mengalami kontraksi yang terutama dipengaruhi penurunan alokasi Transfer ke Daerah (TKD), meskipun Belanja Pemerintah Pusat tumbuh signifikan. Kegiatan ini dihadiri para Kepala Kantor Wilayah di lingkungan Kementerian Keuangan Provinsi Sumatera Selatan, pimpinan satuan kerja, serta civitas akademika Universitas Sriwijaya dan Universitas Multi Data Palembang.

Dalam keynote speech, Kepala Kanwil DJPb Provinsi Sumatera Selatan menyampaikan bahwa ketahanan fiskal melalui sinergi APBN dan APBD serta transformasi UMKM perlu berjalan beriringan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Diseminasi menghadirkan narasumber Herkwin selaku Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil DJPb Provinsi Sumatera Selatan, Dr. Sukanto, S.E., M.Si. selaku Local Expert Ekonomi dan Fiskal, serta Yuliasandy selaku Entrepreneur dan CEO Huliyya. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan II 2026 tercatat 5,20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year), sedikit di bawah pertumbuhan nasional sebesar 5,29% (yoy), namun tetap tumbuh 4,51% secara kuartalan (qtq). Pertumbuhan terutama ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,82% (yoy), Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 5,97% (yoy), serta konsumsi pemerintah yang meningkat 13,20% (yoy). Stabilitas harga juga tetap terjaga, tercermin dari inflasi Juni 2026 sebesar 2,89% (yoy) yang lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34% (yoy).

Dari sisi kesejahteraan masyarakat, tingkat kemiskinan Sumatera Selatan pada Maret 2026 turun menjadi 9,50%, Gini Ratio turun ke level 0,285 yang merupakan titik terendah dalam satu dekade, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2025 meningkat menjadi 74,76. Nilai Tukar Petani (NTP) Juni 2026 juga menguat ke level 149,39. Meskipun demikian, Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang turun ke level 111,03 menunjukkan kesejahteraan nelayan masih perlu mendapat perhatian. Pada sisi fiskal, pendapatan negara di Sumatera Selatan hingga triwulan II 2026 tercatat sebesar Rp7,95 triliun atau 40,19% dari target, tumbuh 17,87% (yoy), terutama didorong penerimaan pajak yang tumbuh 18,05% (yoy) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang tumbuh 24,55% (yoy).

Sementara itu, belanja negara terealisasi sebesar Rp19,01 triliun atau 48,52% dari pagu, terkontraksi 3,58% (yoy). Belanja Pemerintah Pusat tumbuh 32,58% (yoy) seiring kenaikan belanja pegawai, akselerasi belanja barang, dan peningkatan belanja modal akibat low base effect, sementara penyaluran TKD terkontraksi 18,33% (yoy) seiring penurunan alokasi Dana Bagi Hasil dan Dana Desa. Dengan kondisi tersebut, defisit APBN regional menyempit menjadi Rp11,06 triliun.

Pada sisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), pendapatan daerah secara konsolidasi terealisasi sebesar Rp15,53 triliun atau 38,24% dari target, sedangkan belanja daerah mencapai Rp13,84 triliun atau 31,82% dari pagu, masing-masing terkontraksi 15,69% (yoy) dan 10,04% (yoy) seiring penurunan pendapatan transfer. Ketergantungan pada transfer pusat masih tinggi, tercermin dari 16 dari 18 pemerintah daerah yang masih berada dalam kategori “Belum Mandiri” secara fiskal, sementara realisasi belanja modal daerah baru mencapai 12,45% dari pagu. KFR Triwulan II 2026 juga menganalisis pelaksanaan program strategis nasional di daerah. Hingga 31 Juli 2026, 801 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah melayani 2.037.997 penerima manfaat setiap hari dan turut menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM dan petani. Adapun 3.265 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Sumatera Selatan telah memiliki kesiapan administratif yang tinggi, namun kesiapan operasionalnya baru mencapai 60% dengan aktivitas transaksi yang belum merata antarwilayah.

 

Kanwil DJPb Provinsi Sumatera Selatan merumuskan sejumlah rekomendasi kebijakan, antara lain akselerasi hilirisasi dan diversifikasi ekonomi agar sektor primer bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi industri olahan, penguatan pengendalian inflasi dan ketahanan pangan melalui perluasan Early Warning System inflasi spasial seperti EWS Dewa di Kabupaten Ogan Komering Ilir, kerja sama antardaerah, dan penyediaan cold storage, serta intervensi tepat sasaran bagi nelayan perairan umum dan rumah tangga miskin. Dalam sesi pemaparan, Dr. Sukanto menyampaikan bahwa 651.364 UMKM di Sumatera Selatan menyerap sekitar 67% dari total tenaga kerja dan berkontribusi 57,3% terhadap PDRB, meskipun 99,6% di antaranya masih berskala mikro. Dukungan fiskal terus diberikan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp5,35 triliun dan Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) sebesar Rp342,39 miliar hingga Juli 2026, serta insentif PPh Final UMKM sebesar 0,5%.

Dari perspektif pelaku usaha, Yuliasandy berbagi pengalaman membangun Huliyya, merek fashion muslim premium yang dirintis dari skala kecil dengan visi berkembang menjadi merek nasional hingga internasional. Ke depan, Kanwil DJPb Provinsi Sumatera Selatan akan terus mendorong akselerasi hilirisasi dan diversifikasi ekonomi, penguatan pengendalian inflasi, optimalisasi pendapatan negara dan daerah, serta percepatan belanja modal dan penyaluran TKD. KFR juga akan terus dimanfaatkan sebagai alat analisis dan media informasi strategis guna memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat dalam mewujudkan Sumatera Selatan yang tangguh, mandiri, dan sejahtera.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *