Berantas Radikalisme melalui Literasi Digital” #Webinar Gerakan Literasi 2021 Kota Palembang

Keterangan foto: Salah satu narasumber yaitu Kolonel Inf. Heni Setyono, S. Psi., M.Si. (Komandan Kodim 0418 Kota Palembang   yang dalam hal ini diwakili Mayor Winarto, Pasi Intel Kodim 0418 Palembang tentang Budaya Digital.

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Dengan kemajuan teknologi, Akses informasi bisa dengan mudah didapatkan. Namun, dengan kemajuan itu, jangan sampai malah mengarah pada potensi hal yang negatif, salah satunya muncul pemahaman terorisme dan radikalisme melalui dunia digital. Bagaimana cara menangkal pemahaman terorisme dan radikalisme melalui dunia digital?

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota- Palembang yang digelar hari ini, Rabu 1 Desember 2021 pukul 09.00 WIB – 12.00 WIB. Adapun narasumber yang dihadirkan di antaranya Khairul Fahmi, S.IP (Direktur Eksekutif Institute for Security and Strategic Studies (ISESS)), Lalu Azwin Hamdani (Praktisi Keamanan Media Digital (Founder kicknews.today) ), Kolonel Inf. Heni Setyono, S. Psi., M.Si. (Komandan Kodim 0418 Kota Palembang   yang dalam hal ini diwakili Mayor Winarto, Pasi Intel Kodim 0418 Palembang tentang Budaya Digital. dan Drs. H. Slamet Cahyono, M.Pd (Kepala Sekolah SMP Negeri 13 Palembang/Master Trainer of GLPDN).

Dipandu Moderator: Ayu Irti Batul Qolby dengan juga menghadirkan Key Opinion Leader: Lulu @luluelhasbu (Owner Elhasbu Fashion, Spoke Person Wardah Beauty). “Radikal dulu tahun 2017 ada informasi tentang radikal sehingga kita menjadi takut. Tapi sekarang ini, kita harus tau belajar dengan siapa dan intinya temukan lingkungan dengan baik supaya tidak terpapar. Tergantung kita juga untuk tidak labil ketika menerima informasi yang berbau radikal atau teroris. Ilmu agama ditanamkan sejak kecil oleh orang tua dan lingkungan yang penuh dengan tradisi sosial kemasyarakatan,” ujar Lulu yang berbagi tips bahwa apa yang kita lihat, apa yang kita cari maka manfaatkan hal-hal yang baik saja. Gunakan medsos untuk hal yang produktif bahkan jadi peluang usaha. Tabayun, koreksi dulu informasi yang baru dilihat. Ngak keren kok mau yang pertama tapi tanpa mengecek dulu,” ujar Lulu mengingatkan.

Khairul Fahmi, S.IP (Direktur Eksekutif Institute for Security and Strategic Studies (ISESS)) yang memaparkan pada sesi pertama selama 20 menit membahas tentang Kecakapan Digital. Menurutnya, dengan memiliki skil atau kemampuan baik software maupun hardware maka dipastikan minimal bisa menangkal hal-hal negative di dunia digital. Disebutkan Khairul, era digital saat ini sangat penting memiliki kecakapan karena dalam setiap detik bisa terpapar hal negatif. “Hal negative bukan saja merugikan diri namun ancaman hukuman jelas baik dari sisi pidana penjara dan denda yang nilainya tidak kecil,” kata Khairul.

Khairul Fahmi pada kesempatan ini menjelaskan bagaimana mengedukasi diri agar tidak terpapar radikalisme. Kita harus menonton konten positif dan melibatkan diri dengan konten-konten positif. Ini untuk membantu mengedukasi supaya tidak lagi berbuat dan bertindak dengan hal-hal negatif di ruang digital. Konten positif tentu saja mengedukasi tapi mengajak banyak orang terlibat dan mengajak orang tidak melakukan lagi hal-hal yang negatif seperti propaganda dan radikasme dan terorisme. Konten-konten negatif harus digelapkan. Sebaliknya, konten positif harus mengimbanginya supaya punya penangkal. “Bagaimana orang supaya tidak mudah lagi mengakses konten negatif dan tertutupi oleh informasi negatif. Ini membutuhkan tindakan terus meliterasi diri dengan berbagai ilmu sehingga terbebas dari jejak digital yang bersifat negatif. Jejak digital sangat sulit dihilangkan bahkan bisa menjadi sebagai alat bukti untuk referensi kurikulum vitae kita,” kata Khairul Fahmi.

Narsum kedua Lalu Azwin Hamdani (Praktisi Keamanan Media Digital (Founder kicknews.today) yang juga pada kesempatan ini banyak memberikan masukan bagi peserta webinar.  “Anak muda itu baperan. Anak muda bisa diharapkan karena sangat energi. Media sosial.menjadi ajang paling potensial bagi oknum tertentu utk mempengaruhi anak muda. “Seperti.hari ini kita berinteraksi melalui ruang digital. Aliran-aliran radikalisme yang disebar di konten-konten medsos itu sangat berbahaya. Kita akan diajak masuk.ke.room-room  chart dengan upaya mereka mencari yang sepaham. Selanjutnya ada upaya merasa banyak dosa, pernah berbuat jahat dan ingin kembali ke jalan yang benar. Tahu-tahu ketemu orang yang salah, yang mengajak menghapus dosa dengan mati sahid,” kata Lalu.

Lalu juga mengingatkan harusnya kita tabayun digital. “Klarifikasi info-info yang kita terima di medsos berbeda dengan media mainstrem yang jelas sumber dan datanya dan ada klarifikasi, dalam agama, Islam misalnya jelas mengajarkan tabayun. Tabayun di dunia.maya kita cek melalui beberapa cara misal google. Ada kiriman foto, lalu diberi narasi dan ajakan share maka itu jangan diterima.serta merta tapi cek di google. Maka akan kelihatan itu foto editan. Selanjutnya cek pembanding dengan beberapa referensi sebagai bahan komparasi. Baru kita analisa dan simpulkan. Distorsi atau bisa informasi akan terjadi jika kita tak lakukan langkah-langkah ini. Berselancar di medsos kita sering diarahkan untuk membuka melihat konten-konten yang sudah familiar dengan kita misalnya pernah kita like dsb. Ini yang perlu diwaspadai masuknya ajakan-ajakan tertentu. Berpikir sebelum posting, saring sebelum.sharing,” kata Lalu mengingatkan.

Narasumber selanjutnya Kolonel Inf. Heni Setyono, S. Psi., M.Si. (Komandan Kodim 0418 Kota Palembang  yang dalam hal ini diwakili Mayor Winarto, Pasi Intel Kodim 0418 Palembang tentang Budaya Digital.

Narasumber ini memaparkan tentang penyelasan tentang radikalisme secara difinisi. Selanjutnya, metode-metode yang digunakan para pelaku radikalisme lengkap dengan tipologinya dibeberkan juga oleh Winarto. UU No 34 Tahun 2004 TNI tentang radikalisme dipaparkan Pasal 7 Ayat 2 Huruf a dan B sejarah terorisme dan bagaimana cara menanggulanginya.”Ada dua jenis radikalisme yaitu radikalisme statis yaitu Pemikiran radikal yang lebih bersifat gagasan,  tidak  dalam  bentuk   aksi  nyata kekerasan. Selanjutnya radikalisme destruktif yaitu Radikalisme yang merusak, gunakan metode  kekerasan  dalam wujudkan tujuan yang dicita-citakan. Adapun tipologi radikalisme di antaranya radikalisme separatis, milisi, premanisme dan beberapa jenis lainnya.

Winarto juga menjelaskan dimensi internasional dengan beberapa ciri di antaranya Persepsi  kondisi tertindas secara terus-menerus  oleh Barat pimpinan AS, terhadap agama tertentu.. Menganggap kondisi tersebut adalah ketidakadilan yang harus diubah, Menganggap proses damai mendapatkan perubahan tidak akan diperoleh. Serta, Kekerasan  adalah cara sah dalam mencapai tujuan. “Sebaliknya, dimensi nasional di antaranya salah tafsir terhadap ajaran agama untuk mencapai tujuan kelompoknya. Balas dendam,Psikologi,Kemiskinan, Ketidakadilan, Pendidikan dan politik,” ujarnya.

Lazuardi Birru dan LSI (2010) pernah melakukan penelitian terkait radikalisme sosial keagamaan di 33 Provinsi di Indonesia: masyarakat Indonesia masih rentan terhadap radikalisme berbasis sosial keagamaan. Salah satu parameter dari kerentanan tersebut dilihat dari tingkat resistensi masyarakat terhadap tindakan-tindakan radikal masih belum kuat. “Faktor-faktor yang signifikan thd rendahnya resistensi atas tindakan radikal antara lain; pemahaman agama yang cenderung legalistik dan eksklusif, penghargaan terhadap kelompok minoritas rendah, perasaan terasing dari kehidupan kolekif (merasa umat Islam dipojokan), dan hadirnya organisasi-organisasi gerakan radikal,” ujarnya.

Narasumber keempat, Drs. H. Slamet Cahyono, M.Pd (Kepala Sekolah SMP Negeri 13 Palembang/Master Trainer of GLPDN) yang pada sesi pemaparannya lebih banyak mengingatkan kepada para peserta pelajar agar terus meliterasi diri supaya tidak terpapar radikalisme dan terorisme. “Materi tentang radikalisme ini sangat menyentuh karena masuknya radikalisme ini sangat berpengaruh terutama dalam dunia pendidikan dengan sasaran siswa yang masih belia dan mudah terpengaruh,” ujarnya seraya menambahkan bahwa Literasi digital sangat penting karena membuat berpikir kritis, inovatif dan kreatif. Banyak sekali manfaat dan nilai positif dengan adanya internet atau era digital ini. “Kita berbangga pemerintah RI melalui Kemenkominfo RI sudah melaksanakan berbagai kegiatan literasi. Berpartisipasi dalam mengedukasi masyarakat terus dilakukan. “Empat pilar yang sudah diprogramkan pemerintah maka insya Allah ke depan Indonesia akan menghadapi kondisi yang aman terkendali. Radikal dulu bermakna positif namun sekarang disertai dengan kondisi sosial saat ini menjadi berubah. Negara Indonesia yang punya nilai-nilai luhur sangat terusik dengan menyusupnya radikalisme yang menyasar kepada generasi muda,” katanya seraya membandingkan dekade dulu sangat susah mencari informasi tentang radikalisme namun sekarang akibat perkembangan teknologi maka informasi dari berbagai penjuru bisa didapatkan bahkan harus diwaspadai menyasar kepada generasi muda.

Sebenarnya radikalisme bisa masuk di berbagai kehidupan sosial.  Namun anak muda atau remaja menjadi sasaran empuk oknum pelaku penyebar radikalisme mengingat masih pendeknya pemikiran anak muda. Dari berbagai sumber, radikalisme sudah menyusup di negara kita dan ini sangat dikhawatirkan. Narsum mencontohkan siswa yang terpapar radikalisme dengan mempengaruhi keluarganya juga yang saat usia 16 tahun dia terpapar. Pindah ke Suria untuk bergabung dengan ISIS dan kasus ini juga dicontohkan narasumber. “Dari beberapa kejadian, peran keluarga sangat penting dalam rangka menangkal masuknya pengaruh radikalisme. Untuk itulah, harus jadi pemikiran para orangtua dalam mendidik anak-anaknya harus diperhatikan serius,” kata narasumber seraya menambahkan beberapa digital literasi yang harus dimiliki. Di antaranya daya kritikal thingking sangat perlu dikembangkan agar dapat berpikir kritis dalam menerima informasi di dunia digital. Anak-anak perlu didampingi, diingatkan, jangan mudah menerima informasi di internet yang tidak paham dan disinyalir akan berdampak negatif,” tambahnya.

Selain antisipasi di dunia maya, di dunia nyata juga harus dimiliki literasi dalam rangka menangkal segala bentuk kemungkinan kejahatan yang berdampak dari dunia digital ini.

Webinar dibuka dengan menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar dan dilanjutkan dengan penayangan video keynote speech yaitu Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo RI. Lantas keynote speech kedua disampaikan Walikota Palembang H Harnojoyo yang mengapresiasi penyelenggaraan webinar ini.

Lebih lanjut dalam sesi tanya jawab, moderator mempersilakan empat penanya terpilih untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada keempat narasumber secara berurutan. Karena antusias peserta cukup tinggi untuk bertanya, moderator juga memilih enam peserta lagi untuk berkesempatan mendapat hadiah langsung berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp 100 ribu.

Terpisah, Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel membenarkan bahwa webinar yang kembali digelar Kemenkominfo RI ini bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. “Alhamdulilah, ini webinar terakhir di sesi program Webinar Gerakan Literasi Digital 2021 Kota Palembang tahun ini. Kita berharap melalui kegiatan literasi digital ini, sesuai dengan arahan Kemenkominfo untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat khususnya di wilayah kota Palembang. Peserta kali ini pun tercatat angka yang cukup fantastik yaitu 1.675 peserta  dari berbagai kalangan seperti kalangan dosen, guru, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum. Terima kasih semuanya atas partisipasi dan supportnya selama ini kepada semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Semoga program webinar literasi digital ini terus berlanjut di tahun-tahun yang akan datang,” ujar Suryati, Rabu (1/12).

Menurut Suryati, dengan berakhirnya webinar di tahun 2021 ini, pihaknya berharap akan ada lanjutan kembali di tahun 2020 tentunya dengan topik dan tema yang menarik, bermanfaat dan menyentuh dalam rangka meliterasi masyarakat Indonesia umumnya dan Sumsel khususnya serta kota Palembang. (sf)

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *