Youth-Vibe Festival: Eager to Thrive #TenangAdaGue Goes to Campus Palembang Sukses, YIM Support Indonesia AIDS Coalition (IAC)
Teks foto: Ketua YIM didampingi Rektor Univ Taman Siswa pada saat acara pembukaan.
PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Youth-Vibe Festival: Eager to Thrive #TenangAdaGue Goes to Campus Palembang sukses diselenggarakan di Auditorium Universitas Tamansiswa Palembang sebagai ruang edukasi dan pemberdayaan generasi muda dalam membangun kesadaran akan kesehatan, kepedulian sosial, serta pentingnya menciptakan lingkungan yang inklusif dan bebas stigma.
Acara secara resmi dibuka oleh Rektor Dr. Hj. Sisnayati, S.T., M.T.. yang sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang mengangkat isu kesehatan remaja, termasuk edukasi mengenai HIV dan AIDS. Sisnayati menekankan bahwa generasi muda perlu dibekali dengan pengetahuan yang benar agar mampu melindungi diri, mengambil keputusan yang bijak, serta berperan aktif dalam menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV). “Kampus memiliki peran penting sebagai ruang yang aman, inklusif, dan mendukung bagi semua individu tanpa memandang latar belakang maupun kondisi kesehatannya,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Ketua Yayasan Intan Maharani, Drs. Syahri, M.Si. menegaskan bahwa HIV bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga isu kemanusiaan yang membutuhkan dukungan bersama dari berbagai pihak. Syahri mengajak seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan yang menyebarkan informasi yang benar mengenai HIV dan AIDS, serta menolak segala bentuk stigma dan diskriminasi yang masih sering dialami oleh ODHIV. Ia juga berharap kegiatan ini dapat meningkatkan empati, kepedulian, dan keberanian generasi muda untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah, setara, dan mendukung bagi semua. “Dengan mengusung tema “Eager to Thrive”, kegiatan ini diharapkan menjadi wadah bagi generasi muda untuk memperoleh pengetahuan yang komprehensif tentang HIV dan AIDS, membangun kesadaran akan pentingnya kesehatan diri, serta menumbuhkan sikap saling menghargai tanpa stigma dan diskriminasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga peduli, inklusif, dan mampu menjadi pelopor perubahan positif di masyarakat,” kata Syahri.
Salah satu peserta, Andri Eko Putra, SE, MM, Kaprodi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univ PGRI Palembang mengatakan kegiatan ini sangat positif untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa. “Ke depan stigma perlakuan terhadap orang yang terkena HIV AIDS ini akan berubah. Mahasiswa sebagai agen perubahan untuk mengubah stigma itu,” kata Andri. Dengan ikut kegiatan seperti ini mereka dapat pembelajaran dan pencerahan. Ke depan mereka bisa menyebarluaskan kepada masyarakat. HIV AIDS tidak lagi ditakuti masyarakat,” kata Andri.
Sementara itu, Maulida Khairunnisa, Panitia dari IAC mengatakan situasi stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV di Indonesia berada pada tingkat yang kritis. Data Stigma Index 2.0 menunjukkan angka yang melampaui indikator global (<10%), yakni stigma eksternal sebesar 13,4% dan stigma internal mencapai 35,9%. Masalah ini diperparah oleh adanya misinformasi di kalangan penyedia layanan kesehatan, yang seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan. Akibatnya, masyarakat merasa takut untuk melakukan tes maupun memulai pengobatan. Selain itu, kuatnya stigma internal serta minimnya sistem pendukung (support system) yang memadai semakin memperburuk kondisi kesejahteraan ODHIV.
Di sisi lain, anak muda juga memiliki potensi besar sebagai agen perubahan atau champions. Melalui kreativitas, pengaruh sebaya (peer influence), dan kedekatan dengan media digital, kelompok muda dapat menjadi motor penggerak untuk mengedukasi komunitas, mengurangi stigma, serta mendorong akses pada layanan tes dan pengobatan HIV. “Sejalan dengan tren kampanye kelompok muda saat ini, Indonesia AIDS Coalition (IAC) sebuah organisasi berbasis komunitas yang bekerja untuk isu penanggulangan HIV di Indonesia, menghadirkan gerakan #TenangAdaGue. Kampanye ini berfokus pada upaya eliminasi stigma dan diskriminasi, mengajak penerimaan sosial, dan meningkatkan pemahaman publik tentang HIV dengan pendekatan partisipasi bermakna (meaningful youth).
Kegiatan ini mempertemukan ODHIV, musisi, akademisi, aktivis, serta komunitas lintas isu. Festival ini bukan sekadar perayaan, melainkan ruang aman untuk membuktikan bahwa dengan dukungan yang tepat, anak muda tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga bersemangat untuk tumbuh dan berkembang (eager to thrive) melampaui stigma yang ada,” ujar Nissa, panggilan akrabnya.
Nissa juga menyebutkan tujuan dari kegiatan ini di antaranya meningkatkan kapasitas peserta mengenai informasi seputar HIV-AIDS, Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), Stigma dan Diskriminasi yang rentan dialami oleh populasi kunci, dan korelasinya dengan Hak Asasi Manusia (HAM), memberikan kesempatan kepada kelompok muda untuk terlibat dalam partisipasi bermakna dan mengekspresikan kreativitas melalui konten edukasi yang menarik dan persuasif untuk mendorong kelompok muda mengakses layanan HIV dan menghapus stigma dan diskriminasi. Selain itu membangun partisipasi publik dalam eliminasi stigma dan diskriminasi, mengajak penerimaan sosial, dan meningkatkan pemahaman publik tentang HIV,” katanya.

Teks foto: Penyampaian materi oleh salah seorang narasumber.
PIC kegiatan dari YIM, Anyk Kurniati SE didampingi Sari Palupi mengatakan outcome dari kegiatan yang merupakan kolaborasi IAC dan YIM ini adalah menjadikan peserta sebagai Youth Champion yang berperan dalam memberikan informasi dan edukasi mengenai HIV-AIDS untuk membentuk support system bagi ODHIV. Selain itu, memberdayakan kelompok muda sebagai agen perubahan untuk memimpin kegiatan campaign mengenai HIV-AIDS di sekolah, universitas, komunitas, maupun kanal media sosial mereka. “Menyatukan kelompok muda dari berbagai latar belakang untuk terlibat dalam advokasi kolektif untuk mendorong anak muda mengakses layanan HIV dan menghapus stigma dan diskriminasi. Makanya, sasaran adalah mahasiswa dari perguruan tinggi yang saat ini kita ajak di antaranya dari Universitas Taman Siswa, Univ PGRI, Univ. Tridinanti Palembang yang merupakan mahasiswa(BEM, HMJ, UKM), Hak Asasi Manusia (HAM), Penanggulangan HIV, Kesehatan Reproduksi(Kespro), Gender, Remaja dan Anak, Lingkungan yang Berkelanjutan, Kelompok Agama, Budaya dan Tari, Kesenian, Olahraga, Pramuka dan organisasi kepemudaan lainnya. “Bersedia kembali ke komunitas untuk membagikan pengetahuan yang didapat kepada anggota komunitasnya. Akan dipilih maksimal 10 youth champion di masing-masing wilayah yang paling aktif dan berkomitmen untuk membagikan pengetahuannya ke anggota komunitasny,” ujar Anyk.

Sari Palupi, Pengurus YIM memberikan pernyataan tentang HIV AIDS.
Agenda acara di antaranya Campus campaign:Kampanye di lingkungan kampus melalui pemberian edukasi, aksi, dan mengajak masyarakat kampus untuk memberikan dukungan pada eliminasi stigma dan diskriminasi ODHIV.Coaching Youth Champion: Pendalaman 3 materi: HIV 101, GBV, stigma dan diskriminasi dengan metode zoom meeting. Transfer Knowledge Youth Champion: Youth Champion melakukan transfer knowledge ke komunitasnya lalu mereportnya dalam bentuk publikasi di sosial media dan total orang yang mendapatkan edukasi. Youth Champion yang telah mengikuti coaching dan melakukan transfer knowledge akan menerima e-certificate sebagai youth champion IAC.

Teks foto: Salah seorang mahasiswa yang bertanya tentang HIV AIDS.




