YIM Siap Bersinergi dan Kolaborasi, Tampung Usul Isu HIV/TB
PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Yayasan Intan Maharani (YIM) kembali menggelar kegiatan yang merupakan perwujudan komitmen siap bersinergi dan berkolaborasi dengan pihak yang terlibat langsung dalam isu HIV/TB. “Kita sebagai sebuah Yayasan yang berkomitmen sebagai pendampingan siap bersinergi dan berkolaborasi,” kata Ketua YIM, Drs.Syahri , M.Si usai digelarnya acara yang digelar di Kantor Kecamatan Kalidoni Palembang, Rabu (12/11/2025).

Didampingi Wakil Ketua YIM, Drs.M.Suharni, M.A,. Syahri menambahkan bahwa di forum inilah menjadi ajang dan kesempatan bagi para OMS HIV untuk dapat terlibat langsung dan berkontribusi dalam mengusulkan isu HIV/TB untuk dapat dianggarkan ke dalam penganggaran daerahnya masing-masing. Maka dari itu, untuk mempersiapkan OMS HIV/TB kota Palembang menjadi peserta serta mengambil peran pada kegiatan Musyawarah Perancanaan Pembangunan Daerah (Musrenbang). “Perlu adanya kegiatan Pra Musrenbang bagi OMS HIV/TB untuk menggali informasi isu strategis,dan menyusun usulan yang akan diserahkan ke pemerintah kota Palembang agar menjadi perhatian dan pertimbangan bagi pemerintah kota Palembang dalam menyususun anggaran. Penanggulangan HIV-AIDS, Tuberkolusis/TBC dan Malaria cukup kompleks. Hal ini karena melibatkan banyak faktor, tidak hanya medis tetapi juga faktor ekonomi, sosial dan regulasi atau kebijakan,” tambahnya.

Pada pertemuan ini terungkap sejumlah masalah HIV-AIDS antara lain kurangnya kesadaran dan edukasi tentang pencegahan dan penularan, tingginya stigma dan diskriminasi, rendahnya kesadaran pengobatan dan kepatuhan minum obat bagi masyarakat yang telah terinfeksi, serta sulitnya menjangkau populasi beresiko tinggi terhadap HIV-AIDS. “Fasilitasi kelompok kerja AIDS,TBC,Malaria dan DBD (Pra Musrembang thn. 2026 tingkat. Kelurahan & kecamatan),” ujarnya.
Vera Kusariani, S. STP, M. M, Sekcam Kalidoni mengatakan pihaknya sangat berterima kasih dengan adanya YIM yang siap berkolaborasi dengan pihaknya. Diakuinya, secara struktur pemerintah kota Palembang melalui kecamatan sudah lengkap membentuk kelompok-kelompok kerja. “Namun dengan adanya pendampingan dari YIM kami juga sangat terbantu,” katanya seraya menjelaskan beberapa tujuan di antaranya Mensosialisasikan Keputusan Walikota Palembang Nomor 427/KPTS/DINKES/2022 tentang Tim Satuan Tugas Pencegahan, Pengendalian dan Penanggulangan AIDS, Tuberkolusis dan Malaria Kota Palembang. Selain itu, Menginisiasi pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) ATM di Tingkat Kecamatan dan Kelurahan di Wilayah Kecamatan Kalidoni Kota Palembang.
Hasil yang Diharapkan tersosialisasikannya Keputusan Walikota Palembang 427/KPTS/DINKES/2022 tentang Tim Satuan Tugas Pencegahan, Pengendalian dan Penanggulangan AIDS,
Tuberkolusis dan Malaria Kota Palembang, Disepakatinya pembentukan Kelompok Kerja ATM di Kecamatan dan Kelurahan di Wilayah Kecamatan Kalidodi Kota Palembang, Terbentuknya Pengurus Kelompok Kerja ATM di Kecamatan dan Kelurahan, Adanya Komitmen dimasukkannya pencegahan dan penanggulangan ATM di Rencana Kerja dan Anggaran Kecamatan dan Kelurahan.

Di tempat yang sama, Dr Dewi, dari Puskesmas Kalidoni menjelaskan banyak permasalahan yang terjadi di antaranya para penderita yang mengalami keterlambatan diagnosis, kepatuhan minum obat masih rendah, terjadinya stigma, terjadinya TBC resisten obat (MDR-TB). Resisten ini akibat ketidakpatuhan pengobatan dan keterbatasan pengawasan minum obat. Selain itu juga terjadinya ko-infeksi dengan HIV. Penderita HIV rentan terhadap TBC, kondisi demikian mempersulit pengobatan. Menurutnya, selama tiga tahun terakhir hingga saat ini Kota Palembang tidak memiliki kasus
penularan malaria lokal dan telah berada dalam status bebas dari kasus lokal. Kasus malaria yang ditemukan yang kembali dari daerah endemis malaria di luar kota, seperti Papua dan
Bangka Belitung . Meskipun demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) tetap melakukan deteksi dini dan langkah antisipasi untuk mencegah penularan lebih lanjut. Untuk Kota Palembang hingga saat ini menghadapi masalah Demam Berdarah Dengue (DBD). “Faktor utama adalah kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat.
Lingkungan dengan sanitasi yang buruk, genangan air tempat nyamuk bertelur, kondisi geografis dan iklim yang lembab. Sedangkan perilaku masyarakat ketidakpedulian dan
keengganan menjaga kebersihan lingkungan, termasuk air yang tergenang , terutama di sekitar rumah,” ujarnya.
Adapun para peserta yang terlibat pada pertemuan ini di antaranya Kecamatan Kalidoni 17 Orang, Kelurahan kalidoni 4 Orang, Kelurahan Bukit sangkal 4 Orang, Kelurahan Sungai Selayur 4 Orang, kelurahan Sungai Lais 4 Orang, Kelurahan Sei Selincah 4 Orang, Puskesmas Sei Selincah 2 Orang, Puskesmas Kalidoni 2 Orang
Puskesmas Bukit Sangkal 2 Orang, Media Massa dan Yayasan Intan Maharani 5 Orang serta Tim CSS-HR 3 Orang.(saf)



