YIM Gelar Workshop “Membangun Etika Bersosial Media bagi Komunitas”
“Workshop on Regular Monitoring on Stigma and Discrimination Related to HIV Response at District Level – Mainstreaming Response to Gender and Human Rights Issues in Multi-Stakeholder Forums at The District Level”
PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Yayasan Intan Maharani (YIM) sebagai Sub-Sub Recifient (SSR) sebagai SSR Program Penjangkauan pada kelompok populasi kunci female sex workers, dan Pelaksanaan Program Community Strengthening System – Human Right (CSS – HR) Indonesia Aids Coalition (IAC) .yang bergerak pada isu penjangkauan dan pendampingan bagi orang dengan HIV AIDS menggelar workshop yang dilaksanakan Selasa, 21 Juli 2026 bertempat di Hotel Arya Duta Jalan Kampus POM IX Komplek Palembang Square Kota Palembang.
Workshop tema “Membangun Etika Bersosial Media bagi Komunitas” dengan judul “Workshop on Regular Monitoring on Stigma and Discrimination Related to HIV Response at District Level – Mainstreaming Response to Gender and Human Rights Issues in Multi-Stakeholder Forums at The District Level” .
Ketua YIM, Drs Syahri, MSi dalam sambutannya mengatakan hingga saat ini perkembangan HIV di Indonesia terus meningkat. Menurut UNAIDS, baru 66% orang dengan HIV yang mengetahui status HIV mereka dan baru 26% dari angka tersebut yang dalam pengobatan . Sehingga masih diperlukan kerja-kerja yang lebih maksimal. Dengan menggerakkan berbagai sektor, tidak hanya sektor kesehatan tetapi juga menggerakkan sektor – sektor lainnya, seperti pendekatan hukum, sosial dan budaya. Karena tantangan terbesar dalam mencapai target 95-95-95 adalah masih munculnya stigma dan diskriminasi yang dialami oleh populasi kunci dan juga orang dengan HIV. Upaya pendekatan ataupun strategi telah banyak dilakukan untuk dapat mengejar angka target nasional dan memenuhi target 95-95-95.
Menurutnya, berdasarkan hal tersebut partisipasi masyarakat termasuk komunitas dalam segala aspek termasuk melakukan pemantauan dan umpan balik bagi pelaksanaan program. Mulai dari program perencanaan, pelaksanaan kegiatan, bahkan monitoring dan evaluasi serta pemeliharaan hasil pembangunan benar benar melibatkan masyarakat. “Alasan logisnya, karena merekalah yang paling tahu akan permasalahan dan kebutuhan akan penyelesaiannya. Proses diskusi yang dilakukan oleh perwakilan masyarakat CSO, maupun populasi kunci, maka diharapkan akan menghasilkan beberapa rekomendasi penting untuk dikomunikasikan kepada pemerintah baik kota/kabupaten, provinsi maupun pusat. Oleh karenanya diperlukan pertemuan yang diharapkan akan menghasilkan sebuah konsep note yang dapat menjelaskan kebutuhan yang akan di advokasikan. Oleh karenanya Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) YIM kami menggelar kegiatan ini dengan harapan mencapai tujuan di antaranya menggali pemahaman komunitas populasi kunci terkait etika bersosial media dalam mengangkat keberadaan komunitas populasi kunci dan eksistensinya. Melakukan update pada issue stigma dan diskriminasi dan GBV ( kekerasan berbasis gender) pada populasi kunci dan Odhiv di layanan Kesehatan dan layanan public lainnya. Melakukan update situasi di layanan Kesehatan dan layanan public lainnya, serta mengindentifikasi factor-faktor yang mendukung dan menghambat akses layanan tersebut.”Selain itu, membuka ruang untuk diskusi dan pemecahan masalah yang terdapat di distrik sebagai bentuk monitoring stigma dan diskriminasi serta kekerasan berbasis gender ( GBV), mengidentifikasi laporan-laporan dari penerima manfaat dan masyarakat terkait dengan beberapa issue yang dialami oleh penerima manfaat, serta menghasilkan catatan konsep (Concept Note) untuk bahan advokasi selanjutnya,” ujar Syahri.
Di tempat yang sama, PIC Workshop, Anyk Kurniati yang juga sebagai Paralehal Officer YIM didampingi Koordinator CSS HR Yayasan Intan Maharani, Leonardo, S mengatakan workshop ini melibatkan banyak pihak dengan harapan akan mendapatkan hasil di antaranya terbangunnya Etika Bersosial media yang positif terkait keberadaan eksistensi komunitas populasi kunci di Tengah Masyarakat. Selain itu,. Terbangunnya sinergi dan kolaborasi antara organisasi masyarakat sipil (OMS) dengan komunitas populasi kunci terkait issue HIV AIDS,IMS ,komunitas populasi kunci dan Odhiv. Pihaknya juga mengharapkan adanya ruang untuk diskusi dan pemecahan masalah yang terdapat di distrik sebagai bentuk kolaborasi progam di masing-masing Peserta terhadap issue HIV AIDS,IMS, GBV ( kekerasan berbasis gender) terhadap komunitas populasi kunci maupun CSO yang bergerak di issue Kesehatan terutama HIV, Napza, TB dan issue kekerasan stigma maupun diskriminasi pada komunitas populasi kunci di kota Palembang. “Kita juga berharap dapat mencapai tujuan memverifikasi laporan-laporan dari penerima manfaat dan masyarakat terkait dengan beberapa issue yang didapat, serta menghasilkan catatan konsep (Concept Note) untuk bahan advokasi selanjutnya,” ujar Anyk.
Leonardo S menambahkan kegiatan ini akan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan, termasuk NGO, peer leader, perwakilan komunitas populasi kunci, Metode yang digunakan antara lain Paparan Singkat tentang arah program CSS HR yang akan di lakukan pada tahun 2026 terkait advokasi dan juga pendampingan pada komunitas rentan pada issue Kesehatan, layanan public maupun pendampingan hukum stigma dan diskriminasi pada populasi kunci, Selain itu dengan Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion): Melibatkan seluruh peserta, populasi kunci, untuk menggali pengalaman langsung terkait etika bersosial media yang menimbulkan stigma dan diskriminasi dan isu kekerasan berbasis gender (GBV) yang terjadi pada komunitas baik di layanan kesehatan dan layanan publik lainnya. Kegiatan dilanjutkan dengan Tanya Jawab: Sesi interaktif untuk menggali informasi lebih dalam mengenai tantangan yang dihadapi dan peluang untuk perbaikan system dan juga alur penanganan kasus dan pendampingan bagi komunitas populasi kunci. “Penggalian issue dan pemecahan masalah dan bahan advokasi: Melibatkan pembahasan kasus nyata di lapangan sebagai bahan evaluasi dan refleksi bersama,” ujar Leo.
Adapun peserta yang dilibatkan sebanyak 30 orang di antaranya Koordinator SSR YIM, Advokasi Officer CSS HR YIM, Paralegal Offiver HR YIM, Technical Offiner CSS HR YIM, KL/PL Program PSP, Indonesia Paralegal Network (PIN), Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Palembang. Pendampingan PL PSP, Wahana Cita Indonesia Palembang, Masyarakat Sehat Sriwijaya, Paralegal KOMPASS TB, WCC, Warna Sriwijaya Kharisma Sumsel, Gelatik Sumsel, serta media massa (Jarrak Pos dan Media Sriwijaya). (saf)




