HeadlineOKU TimurSUMSEL

Tugu Patung Pengantin di Kec. Martapura OKU Timur Tuai Kritik

OKUT, MEDIASRIWIJAYA – Tugu patung pengantin yang merupakan bagian dari bangunan utilitas dari Taman Simpang Empat Desa Tanjung Kemala, Kecamatan Martapura, OKU Timur yang pembangunannya menghabiskan uang rakyat pada APBD 2023 dengan pagu anggaran Rp. 1.500.000.000,- menuai kritik dan polemik.
Tugu pengantin yang diklaim berpakaian adat budaya dari suku Komering dan digadang- gadang oleh Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman OKU Timur sebagai simbol keharmonisan, dinilai menyesatkan generasi emas dan salah kaprah.
Penggiat budaya Maison Manakara SE., M. Pd, mengatakan Pemerintah Kabupaten OKU Timur salah kaprah dan buta adat. Patung pengantin yang dibangun tersebut tidak mencerminkan adat budaya Komering. “Patung pengantin itu bukan adat pengantin Komering, tapi adat Palembang jenis Aisan Gede yang sudah dimodifikasi dari mahkota sampai lainnya. Ini jelas menyesatkan generasi emas kita dan masyarakat tentang khazabah budaya suku Komering,” ungkapnya, Kamis (28/2).
Sebab kata dia, kalau dirinci dari kaidah, faedah, dan lain sebagainya tentang tugu pengantin dan motif songket baik yang di depan PU maupun di pasar semuanya ngawur dan ngelantur.”Jika ini dibiarkan maka tugu itu mengaburkan peradaban dan mengajarkan tentang sikap plagiat dan rasa ketidak percayaan diri terhadap suku Komering serta pengubahan sejarah suatu kaum,” katanya.
Bahkan, menurutnya ada media massa dari Lampung memintanya untuk menulis artikel tentang kesalahan OKU Timur dalam membuat tugu itu. “Tapi aku sampai sekarang menghindar karena aku tidak mau gegabah. Sesuatu yang salah bukan untuk diperkeruh melainkan harus kita stabilkan,” ucapnya.
Ia juga menambahkan, pemerintahan daerah dan lembaga adat OKU Timur sepertinya belum sadar siapa OKU Timur. Semua kebijakan tentang seni warisan dan pariwisata pasti kontroversi.”Termasuk tentang aksara kemaren dan Tim Pelindung Cagar Budaya kemaren semua dipaksakan sehingga mendobrak kebenaran hanya karena ingin terlihat ilmiah. Bahasa saya adalah jangan bunuh karakter kami di Tanah Ibu, akibat Pemkab sama Lembaga Adat OKU Timur belum sadar siapa OKU Timur semua jadi kacau,” pungkasnya. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *