SMB IV: Makam Ki Gede Ing Suro Bersejarah dan Harus Dijaga Bersama

Poto:
Kesultanan Palembang Darussalam bekerjasama dengan Paguyuban Pujakesuma Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar ziarah dan diskusi makam para raja dan Sultan Palembang edisi Makam Ki Gede Ing Suro yang berlokasi di Jalan Ratu Sianum Lorong H Umar, Kelurahan 1 Ilir Kecamatan Timur II Palembang, Jumat (3/12).

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Kesultanan Palembang Darussalam bekerjasama dengan Paguyuban Pujakesuma Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar ziarah dan diskusi makam para raja dan Sultan Palembang edisi Makam Ki Gede Ing Suro yang berlokasi di Jalan Ratu Sianum Lorong H Umar, Kelurahan 1 Ilir Kecamatan Timur II Palembang, Jumat (3/12).
Diskusi dipandu oleh budayawan Palembang Vebri Al-Lintani dengan narasumber, Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R M Fauwaz Diradja SH Mkn , Ketua Harian Pujakesuma Sumsel , Hernoe Roesprijadji, SIP., MH., Msi dan sejarawan Palembang, Kms.Ari Panji, SPd., MSi.
Hadir dalam diskusi dan ziarah diantaranya Sekretaris MUI Sumsel Kyai Haji Ayik Farid Alay Idrus, Pembina Adat Sumsel Saudi Berlian, Ketua Pengurus Masjid Sultan Agung KH Ahmad Fauzie Dzakkiyan, perwakilan Komunitas Baca Buku Palembang, Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (Agsi) Sumsel Merry Hamraeny, S.Pd, M.M, ketua Forum Palembang Bangkit, Idham Rianom, perwakilan Komunitas Ziarah Makam, Forum Kerukunan Mahasiswa Palembang (FKMP), dan para pemerhati sejarah kota Palembang.
Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R M Fauwaz Diradja SH Mkn mengatakan, Makam Ki Gede Ing Suro merupakan situs bersejarah dan merupakan jejak sejarah yang harus dijaga bersama. “Sudah sepatutnya kita menziarahinya dan mengurus dan menjaga makam dan makam dan lingkungan dan sudah sepatutnya kita menziarahi sekaligus mengurus dan menjaga makam dan lingkungan,” katanya.
SMB IV berharap kedepannya, hasil dari diskusi ini, akan mendapatkan solusi dan langkah yang konkrit untuk menjaga dan memperlakukan makam para leluhur kerajaan Palembang yang notabenenya adalah pendiri dari kota Palembang ini.
Sedangkan Ketua Harian Pujakesuma Sumsel , Hernoe Roesprijadji, SIP, MH, Msi menilai kegiatan diskusi dan ziarah ini yang dilakukan di situs makam Gede Ing Suro adalah kegiatan kedua dalam rangkaian kegiatan ziarah dan Diskusi Makam. “Sebelumnya kita telah berziarah kemakam Ario Damar, kegiatan ini dalam rangka pelestarian budaya agar kedepannya generasi muda menjadi lebih peduli akan sejarah nenek moyang mereka yang telah bersusah payah menorehkan sejarah berdiri kota Palembang ini,” katanya.
Sedangkan sejarawan Palembang Kemas Ari Panji menjelaskan makam Ki Gede Ing Suro ditemukan oleh Belanda pada tahun 1934 setelah kemerdekaan ada jedah, setelah itu pengelolaan situs ini diambil alih oleh Balai Cagar Budaya yang berlokasi di provinsi Jambi.
Ki Gede Ing Suro merupakan tokoh utama dibalik berdirinya Kerajaan/Kesultanan Palembang. “Setelah wafat pada tahun 1587, beliau dimakamkan di sebuah daerah yang kini berada di Kelurahan I Ilir, kota Palembang. Setelah beliau dimakamkan, berturut-turut dimakamkan para pembesar Demak lainnya dan keluarganya, hingga mencapai 38 makam. Kompleks pemakaman ini kemudian dikenal sebagai Taman Purbakala Ki Gede Ing Suro”, katanya.
Selain itu kompleks makam Ki Gede Ing Suro ini terdiri dari bangunan fondasi yang terdiri dari tiga bangunan utama. Bangunan pertama memiliki luas 54 meter persegi, dengan tinggi 1,2 meter. “Bangunan ini berdiri diatas dua lapik, lapik pertama berukuran 7 meter x 3,7 meter. Lapik kedua berukuran 16 meter x 11 meter. Diatasnya berdiri batur dengan tangga masuk yang berada di sisi selatan. Pada dinding batur terdapat panil berbentuk bujursangkar berpola hias geometris. Pada teras makam terdapat dua nisan dari kayu persegi pipih.” kata Ari. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *