Sepanjang September, Galeri Indonesia Kaya Hadirkan Ragam Cara untuk Mengenal dan Menghidupkan Seni Budaya Indonesia
JAKARTA, MEDIASRIWIJAYA – Galeri Indonesia Kaya kembali menghadirkan rangkaian pertunjukan akhir pekan dan program Ruang Kreatif sepanjang September sebagai ruang bagi masyarakat untuk
mengenal sekaligus mengalami langsung keberagaman seni dan budaya Indonesia. Menghadirkan musik, tari, hingga pertunjukan lintas media dari berbagai daerah, rangkaian program bulan ini
mempertemukan warisan budaya Nusantara dengan cara penyajian yang beragam dan relevan bagi penonton masa kini.
Melalui rangkaian pertunjukan dan Ruang Kreatif, Galeri Indonesia Kaya tidak hanya menghadirkan kekayaan tradisi Indonesia sebagai tontonan, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk
berinteraksi, mempelajari, hingga turut memperkenalkan kembali seni budaya tersebut melalui pengalaman berkesenian secara langsung. “Indonesia tidak pernah kehabisan kekayaan seni dan budaya untuk terus diperkenalkan dan dihidupkan kembali di tengah masyarakat. Galeri Indonesia Kaya hadir sebagai ruang publik untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus melihat bagaimana tradisi dapat tetap relevan bagi generasi masa kini. Melalui rangkaian program di bulan September ini, kami menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menyuguhkan berbagai pertunjukan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dan terlibat langsung dalam seni dan budaya, bahkan menampilkan hasil pembelajaran di hadapan publik. Dengan demikian, kami berharap seni dan budaya Indonesia dapat terus dikenal, diapresiasi, dan tetap hidup di tengah masyarakat,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Galeri
Indonesia Kaya.
Rangkaian program September dibuka pada 5 September melalui Harmoni Nusantara persembahan Ikreasindo. Pertunjukan ini menghadirkan keberagaman budaya Indonesia melalui perpaduan musik,
vokal, dan interaksi bersama penonton. Dibuka dengan lagu Janger dari Bali, pertunjukan berlanjut dengan Sing Sing So dan Rame-Rame sebelum mengajak penonton memainkan angklung bersama.
Pertunjukan kemudian ditutup dengan Medley Nusantara yang merangkum berbagai lagu daerah sebagai gambaran kebersamaan dalam keberagaman.
Pada 6 September, Galeri Indonesia Kaya berkolaborasi dengan Jakarta Poetry Slam menghadirkan “NgeZine Yuk! Dengan Ika Vantiani”, sebuah ruang kreatif yang mengajak peserta menuangkan cerita
dan ekspresi personal ke dalam bentuk zine, sebuah media alternatif yang biasanya dibuat secara mandiri dengan bentuk yang beragam, mulai dari kumpulan tulisan, ilustrasi, hingga kolase, yang
kemudian dicetak dan diperbanyak secara sederhana. Bersama Ika Vantiani, seorang seniman, kurator, dan perajin asal Jakarta, peserta diajak melihat proses berkarya sebagai cara untuk merefleksikan diri,
berbagi cerita, serta meninggalkan jejak kecil melalui karya. Melalui kolase dan eksplorasi medium zine, kegiatan ini membuka ruang bagi siapa saja untuk menyuarakan cerita dan pengalaman mereka dalam
bentuk karya yang sederhana namun personal.
Memasuki pekan berikutnya, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan Ruang Kreatif: Kelas Alat Musik Sape bersama musisi dan komposer asal Kalimantan Utara, Uyau Moris, pada 7–10 September. Peserta
berkesempatan mengenal lebih dekat sape, alat musik petik tradisional khas suku Dayak Kenyah, sekaligus mempelajari cara memainkannya. Setelah mengikuti rangkaian kelas, peserta kemudian
mendapat kesempatan menampilkan hasil pembelajarannya melalui uji pentas pada 12 September di hadapan penonton Galeri Indonesia Kaya.
Pada hari yang sama, Uyau Moris menghadirkan pertunjukan Borneo Sounds of Heritage: Vibrasi Dawai Dayak. Menempatkan sape sebagai sorotan utama pertunjukan, karya lintas media ini membawa
penonton ke dalam perjalanan kultural masyarakat Dayak, mulai dari kehidupan di tengah hutan Kalimantan hingga perjumpaan dengan perkembangan zaman. Alunan sape dipadukan dengan iringan
musik modern memperlihatkan bagaimana instrumen tradisional dapat terus berkembang dan berdialog dengan bentuk kesenian masa kini tanpa kehilangan identitas budayanya.
Kegiatan seni budaya di Galeri Indonesia Kaya juga dilengkapi dengan format yang lebih modern melalui Live Podcast Cerita Rakyat bersama RAPOT. Podcast yang digawangi oleh Reza, Anka, Radhini, dan
Abigail ini mengangkat legenda Nyi Roro Kidul dengan gaya bercerita khas RAPOT, menghadirkan kembali cerita rakyat Indonesia melalui format yang dekat dengan keseharian masyarakat masa kini.
Rangkaian Ruang Kreatif kemudian berlanjut melalui Kelas Tari Gagak Koncar bersama Jugala Raya pada 14–17 September. Peserta diajak mengenal dan mempelajari Tari Gagak Koncar, salah satu bentuk tari
Jaipongan dari Tanah Sunda yang menggambarkan keberanian, kesetiaan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Setelah mengikuti empat sesi pembelajaran, peserta menampilkan
hasil latihan melalui uji pentas pada 19 September yang sekaligus menjadi pembuka pertunjukan NISKALA – Suara Kepulauan oleh Svbito String Quartet feat Dhea Seto. Pertunjukan ini mengajak
penonton melakukan perjalanan musikal melalui cerita dan kekayaan budaya dari berbagai wilayah Indonesia. Empat musisi perempuan dari Svbito String Quartet membawakan lagu-lagu daerah yang telah diaransemen khusus untuk format string quartet, sementara Dhea Seto hadir sebagai penari tunggal yang menerjemahkan karakter dan nilai dari setiap daerah melalui gerak dan ekspresi.
Menutup rangkaian program September, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan Warih persembahan Kelompok Kesenian Tambua Tansa Sabariyah pada 26 September.
Karya ini mengangkat perjalanan sebuah tradisi dalam kehidupan masyarakat, termasuk bagaimana nilai-nilai budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya serta bagaimana masyarakat menerima perubahan yang menyertai perjalanan tersebut. Melalui tabuhan tambua khas masyarakat Danau Maninjau, Warih merefleksikan jejak perjuangan, kemenangan, sekaligus tantangan yang hadir dalam proses menjaga sebuah warisan budaya. Kelompok Kesenian Tambua Tansa Sabariyah sendiri telah berdiri sejak 1994 dan kini berkembang hingga generasi ke-10, dengan komitmen untuk mempertahankan nilai-nilai budaya nagari dan identitas masyarakat Danau Maninjau.
Rangkaian program sepanjang September menunjukkan berbagai cara untuk menjaga seni dan budaya Indonesia tetap hidup. Dari permainan angklung, menuangkan cerita melalui zine, mempelajari seni tari
dan musik tradisional, menikmati cerita rakyat dalam format live podcast, menyaksikan pertemuan musik tradisional dengan ekspresi kontemporer, hingga merefleksikan perjalanan sebuah tradisi dari
generasi ke generasi, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan pengalaman yang memungkinkan masyarakat untuk tidak hanya mengenal budaya Nusantara, tetapi juga menjadi bagian dari keberlangsungannya.
Masyarakat yang ingin menyaksikan berbagai pertunjukan dan mengikuti program Ruang Kreatif Galeri Indonesia Kaya dapat memperoleh informasi mengenai jadwal serta program mendatang melalui
IndonesiaKaya.com. (*)




