EkonomiHeadlineNasionalPalembangPendidikanSUMSEL

Road to Pekan Reksa Dana 2026, OJK Kolaborasi Bersama APRDI Gelar SOSEDU APRDI 2026 bagi Jurnalis

PALEMBANG, MEDIASRIWIJAYA – Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis oleh OJK dan BPS, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46%, sementara indeks inklusi keuangan sebesar 80,51%. Namun dari data tersebut jika dilihat di sektor pasar modal menunjukkan bahwa tingkat literasi pasar modal di Indonesia baru mencapai 17,78%, sementara indeks inklusi pasar modal berada di angka 1,34%. “Hal ini ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk berupaya dalam meningkatkan literasi dan inklusi di bidang pasar modal bagi masyarakat, khususnya generasi muda agar mereka dapat memahami dan berinvestasi untuk masa depan,” ujar Pengurus Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), Gresia Kusyanto saat  mengadakan program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana APRDI di tahun 2026 (SOSEDU APRDI 2026) Gedung OJK Sumsel Lantai 3 Palembang, Kamis (23/4).

Menurutnya, Dewan APRDI (Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia) sebagai wadah para pelaku Reksa Dana dan Investasi di Indonesia dengan didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (BEI, KSEI, KPEI), mengadakan program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana APRDI di tahun 2026 (SOSEDU APRDI 2026). Kegiatan SOSEDU dengan tagline #ReksDanaAja, mencakup kegiatan edukasi bagi para wartawan/ jurnalis di 6 kota di Indonesia. “Para wartawan/ jurnalis diberikan edukasi tentang industri pasar modal, khususnya Reksa Dana dan program PINTAR Reksa Dana (Program Investasi Terencana & Berkala) yang digagas oleh OJK, dan akan menjadi kampanye investasi Reksa Dana secara nasional,” tambahnya.

Selain kegiatan edukasi, para wartawan/ jurnalis juga dapat mengikuti lomba penulisan artikel tentang Reksa Dana yang ditayangkan di media cetak ataupun media online, dan berkesempatan untuk mendapatkan hadiah menarik bagi artikel terbaik.

Dalam paparannya, Gresia menyebutkan APRDI mencatat hanya 7 persen penduduk Indonesia berinvestasi, menunjukkan peluang besar bagi Gen Z dan milenial di pasar. “Di tengah maraknya tren aset digital dan budaya fear of missing out (FOMO), banyak anak muda disebut masih lebih tertarik mengejar cuan cepat lewat kripto dibanding memilih instrumen yang lebih stabil seperti reksa dana. “Minat generasi muda terhadap investasi memang terus meningkat. Namun, sebagian besar investor muda masih cenderung berorientasi pada keuntungan instan. Generasi muda sebenarnya sudah semakin sadar pentingnya investasi. Namun, banyak yang masih memiliki orientasi pada instrumen dengan potensi keuntungan cepat. Karena itu edukasi perlu terus dilakukan agar mereka memahami profil risiko dan tujuan investasinya,” ujar Gresia.

Menurut dia, kripto saat ini banyak diminati anak muda karena dianggap lebih agresif dan menjanjikan keuntungan cepat. Selain itu, instrumen tersebut kerap viral di media sosial hingga memicu rasa FOMO. “Kripto banyak diminati karena sifatnya lebih agresif dan sering viral di media sosial. Sementara reksa dana cenderung dipilih oleh investor yang mencari stabilitas dan pengelolaan profesional,” katanya.

Dalam paparan APRDI, total investor pasar modal Indonesia hingga Desember 2025 tercatat baru sekitar 20 juta orang, atau hanya sekitar 7 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 288 juta jiwa. Angka ini menunjukkan peluang pasar yang masih sangat besar, terutama dari kalangan Gen Z dan milenial yang kini semakin akrab dengan aplikasi investasi digital.

APRDI pun gencar melakukan edukasi lewat kampanye #ReksaDanaAja dan #PintarReksaDana agar investor pemula lebih memahami instrumen investasi sesuai kebutuhan dan profil risiko. Salah satu produk yang didorong untuk pemula adalah Reksa Dana Pasar Uang, karena dinilai lebih aman, minim fluktuasi, likuid, dan bisa dicairkan kapan saja.Tak hanya itu, modal investasi kini makin terjangkau. Beberapa produk bahkan bisa dibeli mulai dari Rp10.000, sehingga cocok untuk mahasiswa maupun pekerja yang baru mulai menata keuangan.

Palembang dipilih menjadi kota keenam dalam rangkaian program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana (SOSEDU) 2026. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kampanye PINTAR (Program Investasi Terencana dan Berkala) Reksa Dana menjelang puncak Pekan Reksa Dana nasional pada 27 April hingga 3 Mei 2026. Kegiatan edukasi APRDI ini turut didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) serta diikuti mahasiswa dari belasan universitas di Kota Palembang sebagai upaya meningkatkan literasi dan inklusi investasi sejak dini.(saf)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *