PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Universitas Sriwijaya Hadirkan Teknologi Membran Poliamida untuk Mendukung Air Minum Layak di Desa Tanjung Kurung
Teknologi Tepat Guna Dipadukan dengan Pelatihan Operasional dan Pengelolaan Berbasis Masyarakat
TANJUNG KURUNG, MEDIASRIWIJAYA – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sriwijaya menghadirkan inovasi alat pengolahan air sumur menjadi air minum menggunakan teknologi membran berbasis poliamida bagi masyarakat Desa Tanjung Kurung, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Program ini menjadi bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat tahun 2026 Kegiatan yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek) yang bertujuan untuk memperluas akses warga terhadap air minum yang lebih layak.
Kegiatan dipimpin oleh Ir. Tine Aprianti, S.T., M.T., Ph.D., bersama Prof. Dr. Ir. Muhammad Said, M.Sc. dan Yadi Utama, S.Kom., M.Kom. Pelaksanaan di lapangan turut melibatkan mahasiswa dan tim pendukung. Karang Taruna Desa Tanjung Kurung menjadi mitra sasaran sekaligus kelompok yang akan membantu pengoperasian, pemeliharaan, dan keberlanjutan pemanfaatan alat.
Menjawab Kebutuhan Air di Tingkat Desa
Ketersediaan air yang aman masih menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, terutama saat musim kemarau. Air sumur yang digunakan warga dapat mengalami persoalan kekeruhan, warna, bau, partikel tersuspensi, serta kandungan zat terlarut tertentu. Kondisi tersebut mendorong tim untuk menerapkan teknologi yang tidak hanya efektif, tetapi juga sesuai dengan kondisi lapangan dan dapat dikelola oleh masyarakat.

Ket foto: Tim PKM Universitas Sriwijaya bersama mitra. Dokumentasi: Tim PKM Universitas Sriwijaya.

Ket foto: Warga dan anggota Karang Taruna Desa Tanjung Kurung mengikuti kegiatan sosialisasi pengolahan air sumur dan pemanfaatan alat. Dokumentasi: Tim PKM Universitas Sriwijaya.
Sistem yang diterapkan menggunakan konsep filtrasi bertahap. Air sumur terlebih dahulu ditampung dalam tangki umpan, kemudian dialirkan melalui unit prapengolahan yang memanfaatkan media pasir silika dan karbon aktif. Tahap ini membantu mengurangi kekeruhan, partikel, bau, warna, dan sebagian senyawa pengganggu sebelum air masuk ke filter halus dan membran poliamida.
Pada tahap utama, pompa booster memberikan tekanan yang dibutuhkan agar proses pemisahan pada membran dapat berlangsung. Membran berkapasitas 400 GPD tersebut dirancang untuk menyaring partikel sangat halus, koloid, mikroorganisme, serta kontaminan terlarut tertentu. Air hasil pengolahan selanjutnya ditampung agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, sedangkan sisa hasil pemisahan dikelola secara terpisah.
Teknologi Disertai Pendampingan
Tim PKM tidak berhenti pada pemasangan alat. Masyarakat juga mendapat penjelasan mengenai tahapan filtrasi, cara pengoperasian harian, pemeriksaan kebocoran, pembersihan unit prafiltrasi, penggantian komponen filter, serta pencatatan jadwal perawatan. Pendekatan ini diperlukan agar alat tetap berfungsi dengan baik setelah program selesai.
Ketua tim, Tine Aprianti, menjelaskan bahwa penerapan teknologi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya perangkat, tetapi juga dari kemampuan mitra untuk mengoperasikan, merawat, dan memantau penggunaannya secara mandiri.
Partisipasi warga telah dibangun sejak identifikasi kebutuhan, penentuan lokasi pemasangan, sosialisasi, hingga uji fungsi. Dalam sesi interaksi, warga menyampaikan pertanyaan dan masukan mengenai kondisi sumber air serta penggunaan alat. Proses ini membantu memastikan teknologi yang dipasang benar-benar memenuhi kebutuhan setempat.

Ket foto: Rangkaian filter dan pompa booster sebagai bagian dari sistem filtrasi bertahap sebelum air melewati membran poliamida. Dokumentasi: Tim PKM Universitas Sriwijaya.
Mendorong Keberlanjutan Program
Melalui serah terima peralatan kepada mitra sasaran, unit pengolahan air tersebut menjadi fasilitas yang dikelola oleh Karang Taruna Desa Tanjung Kurung. Kelompok pengelola diharapkan menjalankan prosedur penggunaan, menyusun jadwal pemeliharaan, mencatat aktivitas dalam logbook, serta berkoordinasi dengan warga apabila terjadi penurunan debit atau kendala teknis.
Program ini sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak. Selain menghadirkan teknologi tepat guna, kegiatan tersebut juga memperkuat peran masyarakat desa dalam menjaga fasilitas bersama serta membangun layanan air berbasis komunitas.
Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, inovasi membran poliamida di Desa Tanjung Kurung diharapkan menjadi langkah nyata menuju ketersediaan air minum yang lebih baik, lebih mudah diakses, dan berkelanjutan. Tim Universitas Sriwijaya juga akan melakukan pemantauan serta evaluasi untuk melihat kinerja alat dan konsistensi pengelolaannya di lapangan. (*)




