HeadlineNasionalNUSANTARAOPINIPalembangPendidikanSUMSEL

OPINI: Tahun Baru Imlek Momen untuk Meningkatkan Persaudaraan

Oleh: Drs. N. Suseno
Perayaan Imlek atau Tahun Baru Cina tahun ini jatuh pada 22 Februari 2023 dan pada tahun 2023 ini, kalender China menunjukkan shio kelinci air. Suatu peristiwa penting dan sakral yang tentu dinanti-nantikan oleh warga etnis Tionghoa. Imlek merupakan penanggalan lunar yang ditetapkan pada masa dinasti Han di Cina. yang dimaksud kalender Lunar Tionghoa adalah Imlek (lafal Hokkian 阴历/陰曆, im-le̍k, Mandarin pinyin: yin li, yang artinya kalender bulan) atau Kalender Tionghoa adalah kalender lunisolar, Imlek berasal dari bahasa Hokkien (Fujian), yaitu “im” dan “lek”. (luni: bulan, solar: matahari) yang dibentuk dengan menggabungkan kalender peredaran bulan dan kalender matahari. (https://id.wikipedia.org/wiki/Imlek). Sistem kalender ini mengawali tahun musim semi, yang dinilai cocok untuk masyarakat agraris Cina.  Tradisi Imlek dimulai sekitar abad ke-5 M.
Budaya Cina mulai masuk ke Indonesia bersama kedatangan orang Cina yang bermigrasi ke berbagai daerah di Asia Tenggara, salah satunya Nusantara , mereka datang awalnya untuk berdagang, kemudian menetap di Indonesia, kehadiran mereka ini berdampak pada perkembangan kebudayaan di tanah air. Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia  merupakan suatu rangkaian perayaan yang diselenggarakan oleh etnis Tionghoa-Indonesia,  untuk menyambut Tahun Baru Imlek, didasarkan pada Kalender Imlek. Hal serupa juga dilakukan oleh etnis Tionghoa di berbagai negara lainnya. Berbagai kelompok bahasa dan budaya Tionghoa mempunyai praktik perayaan yang berbeda-beda antara satu sama lainnya. Kelompok mayoritas Tionghoa-Indonesia adalah Hokkien, maka perayaan yang bercirikhas dari kelompok inilah yang paling dominan terlihat di Indonesia, antara lain penamaan Tahun Baru Imlek itu sendiri, mengandung unsur kata dari bahasa Hokkien. Selain Tahun Baru Imlek, istilah lain untuk menyebut tahun baru adalah Sincia yang juga berasal dari bahasa Hokkien. Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia umumnya dilaksanakan dalam jangka waktu 15 hari. Ini berlaku dalam berbagai kelompok atau sub-grup masyarakat Tionghoa. Terutama bagi masyarakat Tionghoa yang masih secara kental menjalankan tradisi pemujaan leluhur, Tahun Baru Imlek merupakan suatu peristiwa di mana mereka melaksanakan penghormatan terhadap leluhur yang telah mendahului mereka. Berbagai ritual dan tradisi lain pun dilaksanakan menurut tradisi masing-masing sub-grup dalam 15 hari tersebut. Umat Khonghucu selalu mengadakan peribadatan kepada leluhur, kepada Nabi/Shenming, kepada bumi dan kepada Tian Yang Maha Esa. Sembahyang kepada leluhur dilakukan sebagai wujud laku bakti (xiao) seorang anak kepada orang tua dan leluhurnya, karena mereka meyakini bahwa orang tua adalah merupakan representasi Tian. Tanpa adanya orang tua atau leluhur, maka tidak akan ada mereka di atas dunia ini. Seorang murid Konfusius paling berbakti yang bernama Zengzi. mengatakan , Permulaan laku bakti adalah merawat warisan orang tua berupa tubuh jasmani dengan sebaik-baiknya; sedangkan akhir laku bakti adalah menjaga nama baik orang tua dan memuliakannya (Xiaojing). Pada saat hidup, layanilah sesuai dengan Kesusilaan (Li); ketika meninggal dunia, makamkanlah sesuai dengan Kesusilaan; dan sembahyangilah sesuai dengan Kesusilaan (Lun Yu II:5). Pengucapan syukur pada hari ke-9 kepada Thian dikenal dalam tradisi Hokkien sebagai “King Thi Kong” atau “Pai Thi Kong” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “Sembahyang Tuhan Allah”. Pada hari ke-15, perayaan diselenggarakan untuk menutup Tahun Baru Imlek dengan meriah. Perayaan ini dinakaman Cap Go Meh atau “Malam ke-15” dalam bahasa Hokkien. Istilah lainnya yang dikenal masyarakat Tionghoa Indonesia adalah Guan Siau. Bagi kalangan masyarakat Hakka, hari ke-15 dikenal dengan istilah Cang Ngiet Pan. Perayaan penutup ini ditandai dengan bersinarnya bulan karena bertepatan dengan purnama. Tahun Baru Imlek dianggap sebagai perayaan Tionghoa-Indonesia yang terbesar. Pada saat Imlek disajikan berbagai hidangan dan makanan khas Imlek seperti nian gao (kue keranjang), kue lapis legit, manisan bola beras dan persegi delapan, bebek panggang, , jeruk Mandarin dan yu sheng. Yu Sheng  adalah masakan Tiochiu berupa salad ikan segar ditambah irisan halus sayuran seperti wortel dan lobak. Selain sehat, salad ini disusun dari bahan-bahan yang menyimbolkan kebaikan-kebaikan. Banyak orang memilih merayakan Imlek dengan makan yu sheng bersama keluarga atau kerabat mereka. Perayaan Imlek dijadikan sebagai sarana untuk memperkokoh serta berkumpulnya keluarga, dalam suasana yang hangat, penuh persaudaraan dan kegembiraan. Berbagai ucapan khas tahun baru saling disampaikan, terutama yang berkaitan dengan kesehatan, kesuksesan dan keberhasilan untuk tahun baru yang akan dilalui. Bagi orang yang sukses dalam usahanya pada tahun lalu, ada kewajiban untuk membagikan rezekinya (uang) dalam amplop yang dinamakan angpau atau fungpau.(https://www.shopback.co.id/katashopback/perayaan-tahun-baru-imlek-di-indonesia ) Tahun Baru Imlek di Indonesia bukan sebatas acara seremonial semata, tetapi juga merupakan sarana untuk meningkatkan suasana persaudaraan dalam kerangka Bhineka Tunggal Ika, sekaligus merupakan ajang untuk menjalin tali silahturahmi secara khusus bagi warga etnis Tionghoa-Indonesia tetapi juga ajang untuk merekatkan rasa persatuan dan kesatuan antar bangsa Indonesia. Dalam kerangka Bhineka tunggal Ika tersebut, bangsa Indonesia terus memupuk sikap toleransi, menjaga kerukunan dan keharmonisan antarsesama, sekaligus untuk menjaga keutuhan NKRI. Merupakan hal yang patut disyukuri bahwa Indonesia memiliki beraneka ragam budaya dan hadirnya budaya etnis Tionghoa, tentu semakin melengkapi khasazanah budaya di Indonesia, yang merupakan aset besar untuk membangun Indonesia. Perbedaan hendaknya bukan untuk saling memecah belah persatuan, tetapi justru merupakan modal besar untuk menyatukan bangsa. Tahun baru Imlek yang pada masa pemerintahan Orde Baru hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga dan dalam ruangan tertutup. atau berlangsung tersembunyi, semenjak pemerintahan Abdurahman Wahid berdasarkan Keppres No.6/2000 tentang pencabutan Inpres No.14/1967 pada 17 Januari 2000. masyarakat Tionghoa diberikan kebebasan lagi untuk menganut agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya termasuk merayakan upacara-upacara agama seperti imlek, Cap Go Meh, dan sebagainya secara terbuka (https://nasional.tempo.co/read/1556228/imlek-dilarang-1968-1999-gus-dur-ikut-rayakan-imlek-pertama) Mari kita juga bersyukur atas nikmat, serta berbagai karunia yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Tuhan memang menciptakan makhluk di bumi ini berbeda-beda, juga manusia diciptakan dalam perbedaan perbedaan dengan segala bahasa dan budayanya. Betapa indahnya hidup dalam kerukunan, persaudaraan dan betapa indahnya hidup dalam perbedaan karena semua adalah milik sang pencipta. Semoga Tahun Baru Imlek tahun membawa keberkahan bagi kita semua dan semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahi kita dengan kekuatan dan keberanian untuk menjalani setiap tantangan di tahun yang baru ini, Selamat Tahun Baru Imlek 2023 atau Tahun Baru Cina 2573, Gong Xi Fa Cai. (Penulis adalah Guru dan Kepala SMK Xaverius Palembang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *