HeadlinePendidikan

OPINI: Potret Mahasiswa Kini: Antara Kecemasan dan Harapan

Oleh: Penulis RP Petrus Murwanto, SCJ

Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Katolik Musi Charitas

Dalam sebuah webinar nasional pendidikan, seorang narasumber mengajak para peserta – mayoritas adalah dosen – untuk menggambarkan profil mahasiswa yang mereka ajar. Meskipun sudah menjadi rahasia umum, respon yang muncul tetap cukup mencemaskan: malas membaca, enggan menulis, sulit bangun pagi, mudah mengeluh, pasif, egois, daya juang rendah, lebih memilih cara-cara instan, tidak fokus dan pragmatis. Gambaran ini menyiratkan keprihatinan dan kecemasan terhadap kualitas generasi muda yang sedang dididik, yang hampir setiap hari bertemu di ruang pembelajaran. Kenyataan itu minimbulkan pertanyaan reflektif: benarkah potret itu merepresentasikan keseluruhan mahasiswa saat ini? Ataukah itu sekadar refleksi kegagalan praksis pedagogis yang tidak lagi kontekstual dengan situasi dan kebutuhan mahasiswa?

Generasi dalam Konteks Baru

Kebanyakan mahasiswa saat ini merupakan bagian dari Generasi Z, individu yang lahir antara 1997-2012, generasi yang tumbuh dan berkembang dalam lanskap digital yang dinamis dan serba cepat. Mereka adalah digital natives, generasi yang lahir dan besar di tengah ledakan teknologi informasi, terbiasa berinteraksi dengan berbagai platform digital dan media sosial sejak usia dini. Mereka adalah generasi yang tidak asing dengan smartphone, internet, media sosial, dan kecerdasan buatan, bahkan itu semua menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Digital natives ini telah mengembangkan dan memiliki pola kognitif, motivasi dan perilaku yang berbeda secara siginifikan dengan generasi sebelumnya. Akibatnya, pengajaran tradisional (traditional instruction) seringkali gagal menarik perhatian generasi Z dan mendorong keterlibatan yang bermakna (Chardonnens, 2025).

Karakteristik Gen Z – kemampuan multitasking, ketergantungan tinggi pada teknologi, rentang perhatian yang lebih pendek, serta kecenderungan untuk belajar secara visual dan instan – membentuk cara mereka berpikir, berkomunikasi, bekerja, dan memaknai dunia secara berbeda dari generasi sebelumnya, termasuk para dosen yang kini mengajar mereka. Perkembangan teknologi yang mereka alami sejak kecil menjadikan mereka cepat dalam mengakses informasi dan tidak gagap dalam menavigasi dunia digital. Mereka terbiasa dengan kecepatan, kenyamanan, dan konektivitas, yang menuntut sistem pendidikan untuk beradaptasi secara serius agar tetap relevan dengan kondisi dan kebutuhan mereka.

Namun demikian, Gen Z bukan tanpa tantangan. Mereka kerap dianggap mudah bosan, kurang sabar dalam proses, serta rentan terhadap disrupsi digital yang memecah fokus. Akan tetapi, seperti halnya setiap generasi, Gen Z memiliki kekuatan dan potensi luar biasa yang perlu dikenali dan direspon secara tepat dan bijaksana. Roberta Katz, cendikiawan Standford, menyampaikan hasil research-nya dalam wawancara dengan Stanford Report (2022) bahwa karakter positif Gen Z adalah seseorang yang mandiri namun memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama, aktif memperjuangkan keberagaman dalam komunitas, serta menjunjung tinggi kolaborasi dan hubungan sosial. Ia menghargai fleksibilitas, relevansi, dan otentisitas, serta lebih memilih gaya kepemimpinan yang egaliter daripada hirarkis. Meski merasa cemas terhadap tantangan warisan seperti krisis iklim, ia tetap bersikap pragmatis dan fokus pada tindakan nyata untuk menghadapinya. Pandangan positif menjadi penegasan bahwa Gen Z adalah generasi yang tidak hanya ingin memahami dunia, tetapi juga ingin menjadi agent of change, untuk dunia yang lebih baik.

Potret Gen Z tersebut menjadi panggilan bagi para pendidik untuk merefleksikan kembali pendekatan, paradigma, dan praksis pedagogis yang selama ini digunakan. Apakah metode pengajaran yang digunakan relevan? Apakah desain ruang kelas masih kontekstual dengan cara Gen Z belajar? Apakah pendidik memberi cukup ruang untuk partisipasi, eksplorasi, dan kolaborasi? Dalam menjawab pertanyaan reflektif itu, pendidik mesti menyadari karakteristik Gen Z di mana keakraban mereka dengan teknologi dan kemampuan menggunakannya telah membentuk cara mereka belajar, mendorong kecenderungan terhadap metode pembelajaran yang lebih interaktif dan terpersonalisasi. Generasi ini cenderung memilih suasana belajar yang inklusif, beragam dan memiliki keterkaitan yang kuat dengan situasi/dunia nyata (Chardonnens, 2025).

Kesadaran reflektif terhadap karakter dan situasi mahasiswa merupakan langkah awal untuk memperbarui praktik pedagogis menjadi lebih relavan dan transformatif. Pembaharuan praktik pedagogis para pendidik bisa dimulai dengan memandang secara positif generasi yang sedang mereka didik, bukan sebagai yang “sulit dipahami”. Mereka adalah generasi yang mempunyai banyak potensi, yang mau bertumbuh dan berkembang sesuai dengan konteks zaman. Oleh karenanya, kenyataan itu menuntut para pendidik untuk turut bertumbuh dan berkembang bersama mereka. Para pendidik perlu mempunyai semangat lifelong learning untuk bisa beradaptasi dan menanggapi kebutuhan dan tantangan generasi yang sedang dididik. Semangat itu perlu tugas para pendidik bukan hanya sekedar mengajar dan mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge) dan juga mentransfer nilai-nilai (transfer of values) tetapi juga belajar kembali tentang zaman, generasi baru, dan cara menjadi relevan dalam dunia yang terus bergerak. Buah dari semangat belajar itu akan membantu para pendidik untuk tidak cepat membuat stereotype negatif terhadap anak didiknya melainkan pertama-tama merefleksikan praksis pedagogisnya. Jika mahasiswa tampak pasif, barangkali bukan karena mereka tidak memiliki semangat belajar, tetapi karena pendekatan pengajaran belum memberi ruang bagi mereka untuk aktif berkontribusi. Jika mereka kesulitan berpikir kritis, bisa jadi sistem pendidikan kita terlalu menekankan jawaban yang benar daripada proses bertanya yang reflektif dan bermakna. Jika mereka lebih menyukai “jalan pintas”, mungkin itu cerminan dari sistem yang terlalu fokus pada hasil akhir dan mengabaikan makna proses belajar itu sendiri.

Berhadapan dengan karakteristik mahasiswa Gen Z dengan segala tantangan yang menyertainya, maka, lebih dari sekadar merancang kurikulum atau memperbarui metode ajar, para pendidik perlu membangun hubungan yang otentik dengan mahasiswa – mendengarkan dengan empati, memahami aspirasi mereka, dan menciptakan ruang belajar yang memberi makna. Interaksi yang hangat, komunikasi dua arah, dan keterbukaan terhadap perspektif mahasiswa dapat menjadi jembatan untuk mengembangkan praktik pedagogis yang adaptif, inklusif, dan berdaya transformatif.

Merawat Harapan, Membangun Kompetensi Masa Depan

Pendidikan saat ini harus berorientasi pada pengembangan kompetensi masa depan yakni adaptability, critical thinking and problem solving, creativity, collaboration, effective communication, resilience, technology literacy, digital literacy dan information literacy. Itu semua bukan sekadar daftar keterampilan, melainkan representasi dari kebutuhan mendesak di tengah dunia yang terus berubah, kompleks, dan penuh ketidakpastian. Pendidikan yang mengabaikan penguatan kompetensi-kompetensi ini berisiko mencetak generasi yang gagap terhadap kebutuhan dan tantangan zaman. Di sinilah peran pendidik menjadi sangat strategis sekaligus menantang. Sebagaimana dikritik oleh Paulo Freire, model pendidikan “banking system” – dimana siswa diperlakukan sebagai wadah kosong yang harus diisi informasi – harus ditinggalkan. Pendidik tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai pengetahuan. Ia harus menjadi fasilitator, inspirator, dan pembimbing yang hadir secara otentik dalam proses tumbuh-kembang peserta didik. Ki Hadjar Dewantara telah lama merumuskan peran luhur ini dalam falsafah yang mendalam Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani – Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat dan dibelakang memberi dorongan.

Mendidik Gen Z untuk berkembang dan memiliki kompetensi masa depan tersebut, para pendidik mesti merancang kurikulum serta proses pembelajaran yang relevan dan kontekstual dengan kebutuhan dan tantangan kehidupan nyata. Proses ini membutuhkan metode pendekatan instruksional yang dialogis, yang melibatkan, yang mendorong refleksi kritis, dan berbasis pada pengalaman kongkrit. Kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, memecahkan masalah, dan kompetensi relevan lainnya tidak akan tumbuh dalam sistem pembelajaran yang satu arah, monoton dan tidak fleksibel. Oleh karena itu, pendidik perlu menciptakan arena belajar yang memungkinkan peserta didik untuk terlibat dalam proses berpikir kritis, mendalam dan komprehensif, mengalami kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran, bereksperimen dan mengembangkan problem solving terhadap persoalan yang dihadapi. Oleh karena belajar dan juga pendidikan adalah proses yang dialogis, maka proses ini juga membutuhkan inisiatif, semangat, dan komitmen dari yang dididik untuk selalu mempunyai semangat belajar yang tinggi dan rasa keingintahuan yang tak pernah berhenti.

Untuk menjalankan peran dan tanggung jawab penting dalam menyiapkan generasi masa depan, pendidik membutuhkan lebih dari sekadar keahlian mengajar. Pendidik perlu memiliki mentalitas mendidik yang kuat, komitmen yang kokoh, dan semangat yang berlandaskan cinta. Sebab tanpa cinta, pendidikan akan mudah terjebak dalam rutinitas mekanis – tanpa jiwa, tanpa makna kemanusiaan pun makna spiritual. Pendidikan bukan hanya tentang kesuksesan akademik, lulus ujian, berkarir atau kesuksesan sosial. Pendidikan bertujuan untuk perkembangan manusia secara utuh sebagai ciptaan Tuhan. Proses itu membutuhkan cinta. Konsep pendidikan menurut Driyarkara juga dapat menjadi pengingat sekaligus pemantik semangat dalam memaknai ulang peran mendidik. Dalam Karya Lengkap Driyarkara (2006), ia menyatakan bahwa pendidikan adalah perbuatan fundamental – sebuah tindakan yang mengubah, menentukan, dan membentuk kehidupan manusia. Pendidikan bukan sekadar tindakan transfer of knowledge, melainkan proses pemanusiaan manusia muda. Pendidikan adalah perjumpaan eksistensial antara pendidik dan peserta didik dalam ruang cinta dan tanggung jawab. Driyarkara menekankan bahwa pendidikan sejati harus berpijak pada sikap cinta yang murni yaitu cinta yang berorientasi pada kepentingan yang dicintai, bukan pada kepentingan yang mencintai. Dalam konteks ini, pendidik dituntut untuk memprioritaskan kebutuhan, potensi, dan masa depan peserta didik di atas kepentingan pribadi. Inilah cinta dalam makna yang paling luhur – mencintai yang memberi ruang, mendampingi, dan mendorong tumbuhnya pribadi yang utuh dan merdeka. Dengan spirit seperti ini, pendidikan menjadi jalan pembebasan, bukan penjinakan dan juga penindasan. Pendidikan yang membebaskan akan menjadi ruang kreatifitas yang besar pada mahasiswa untuk terus bertumbuh dan mengembangkan potensinya secara optimal, otentik dan kreatif. Pendidikan yang membebaskan akan menjadi wahana pengembangan manusia seutuhnya, yang tidak hanya cakap dalam kompetensi, tetapi juga tangguh secara karakter, dan bijaksana dalam menjalani kehidupan. Pendidik perlu mentransformasi cara pandang dan tindakan mendidiknya, dari mengajar menjadi mendidik; dari mengarahkan menjadi menemani dan dari menuntut menjadi mencintai.

Mari, Nyalakan Suluh Harapan!

Potret mahasiswa saat ini, yang kebanyakan adalah Gen Z, dengan segala kompleksitas dan dinamika yang menyertainya, mengandung peluang besar sekaligus menantang untuk merefleksikan ulang praksis pendidikan yang dijalani saat ini. Di tengah berbagai tantangan yang muncul, tersimpan harapan akan lahirnya generasi pembelajar yang tangguh, kritis, kreatif, dan berdaya saing tinggi. Sekali lagi, untuk membentuk dan mengembangkan generasi semacam itu, para pendidik harus melampaui perannya sebagai sekedar pengajar atau pentransfer ilmu, tetapi sebagai penuntun, pembina, dan teladan yang hadir dengan cinta yang murni. Untuk menyalakan harapan dan menjaga api harapan itu tak pernah padam, para pendidik perlu bergerak melampaui narasi pesimistis dan mulai membangun paradigma baru yang berpihak pada potensi, bukan sekadar pada kekurangan. Dengan komitmen, empati, dan cinta yang tulus, para pendidik dapat mengubah ruang-ruang belajar menjadi medan pembebasan, pertumbuhan, dan pemanusiaan. Semoga, melalui pendidikan yang dilandasi cinta yang murni, harapan akan masa depan yang lebih baik dapat terus menyala. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *