HeadlineOPINIPalembangSUMSEL

OPINI: Natal Mendorong  untuk Menjadi Pembawa Kabar Sukacita kepada Dunia

Oleh : Andreas Daris Awalistyo

(Sekretaris Dewan Pastoral Paroki  St Yoseph Palembang)

Begitu bulan Desember tiba, umat Kristiani merasa gembira dan antusias dalam mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus dengan merayakan Natal. Di berbagai tempat, hiasan Natal mulai dipasang, seperti gua Natal, , pohon natal, lampu-lampu dekoratif, dan lain-lain. Sering kali, pusat-pusat perbelanjaan juga menghias diri mereka dengan perlengkapan ini, sehingga suasananya tampak ceria dan penuh warna.

Natal menjadi waktu yang penuh kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. Karena pada saat kelahiran Yesus Kristus, Allah merasakan sukacita dalam berinteraksi dengan semua ciptaan-Nya. Kebahagiaan ini secara khusus dinyatakan dalam peristiwa kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Seperti perayaan Sukacita Natal yang akan berlangsung pada tanggal 25 Desember 2024 yang sangat dinanti oleh umat Kristiani. Pada perayaan Natal Nasional 2024 akan mengusung tema “Sehati Sejiwa Marilah Kita Pergi ke Betlehem.” Betlehem merupakan sebuah kota yang dianggap suci di wilayah Tepi Barat Palestina. Kota ini memiliki peranan penting dalam sejarah kelahiran Yesus Kristus. Berlokasi kira-kira 10 kilometer di selatan Yerusalem, Betlehem juga terkenal sebagai tempat kelahiran Raja Daud. Dengan arti yang kaya dalam aspek sejarah dan spiritual, Betlehem diangkat sebagai tema Natal Nasional 2024 sebagai ajakan untuk menjalani panggilan Tuhan.

Perayaan Natal seharusnya memotivasi kita untuk lebih peduli, kritis, dan berani menolak segala bentuk kepalsuan, keserakahan, ambisi, perpecahan, peperangan, serta kerusakan lingkungan. Kesejahteraan untuk semua makhluk hanya akan tercapai jika ciptaan Tuhan dijaga dan dilestarikan. Maka dari itu, bumi akan bersorak memuji Allah: “Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai” (Mazmur 96: 11). Kita semua diajak untuk bersukacita karena Natal, atau kelahiran Yesus Kristus, yang semakin dekat. Dia adalah Tuhan yang menjelma sebagai manusia. Ia lahir dalam sebuah keluarga. Yesus diutus Bapa “…bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh. 3:17).

Tema Natal 2024 yang disepakati oleh KWI dan PGI adalah “ Sehati Sejiwa Mari Kita Pergi ke Betlehem “. Terdapat beberapa makna yang bisa dipetik dari tema ini. Betlehem menjadi lokasi lahirnya harapan. Dari sudut pandang teologis, ini menggali arti Betlehem sebagai lambang kelahiran harapan sejati di dalam Kristus. Pesan Natal ini mengingatkan kita bahwa Natal adalah waktu untuk menyegarkan harapan dan keyakinan kita kepada Yesus, Sang Juru selamat. Kabar Sukacita untuk Semua Orang Malaikat Tuhan memberikan berita gembira kepada para gembala, yang merupakan kelompok dengan status rendah di masyarakat pada masa itu. Ini menunjukkan bahwa keselamatan dari Kristus diperuntukkan bagi setiap orang, tanpa melihat posisi sosial mereka. Sebagai umat Kristiani, kita diajak untuk menjadi pembawa sukacita dan perdamaian kepada sesama, terutama bagi mereka yang terpinggirkan.  Dengan tema ini, kita diajak untuk menyambut Natal dengan sikap terbuka dan penuh rasa syukur, serta merefleksikan nilai-nilai cinta, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Ini juga melambangkan kesetiaan dan kesiapan untuk mengikuti panggilan Tuhan. “Kembali ke Betlehem” menjadi tema Natal Nasional 2024 yang mengajak umat Kristiani di seluruh dunia untuk menyambut kelahiran Kristus dengan hati yang terbuka dan penuh sukacita dalam kedamaian Natal.

Meneladani Kerendahan Hati Sang Juru Selamat

Yesus dilahirkan di kandang—sebuah tempat yang sangat sederhana dan jauh dari kesan megah. Ini mengajarkan kita tentang sikap rendah hati. Natal bukan hanya sebatas perayaan, tetapi juga saat untuk meneladani sifat kasih dan kerendahan hati Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari.   Hal ini mengajak semua orang untuk membuka hati mereka dan menyambut kehadiran Kristus dalam hidup mereka, serta mendorong kita untuk menyebarkan kabar baik kepada dunia di sekitar kita dan menyadari bahwa Natal adalah bukti nyata bahwa Tuhan selalu hadir di antara kita. Kelahiran Yesus pertama kali disaksikan oleh para gembala. Gembala-gembala ini melambangkan orang-orang yang hidup dalam keterbatasan dan memiliki harapan akan keselamatan dari Tuhan. Mereka seringkali dianggap sebagai orang-orang yang terpinggirkan dan kurang diperhatikan dalam masyarakat. Namun, mereka adalah yang pertama kali dipilih oleh Tuhan untuk menerima kabar sukacita keselamatan. Kesiapan dan keinginan mereka untuk menanggapi kabar keselamatan itu menjadi teladan bagi kita agar kita juga segera mencari Yesus. Setelah bertemu dengan Yesus, para gembala mengalami perubahan dalam hidup dan sikap mereka. Mereka bertransformasi menjadi individu yang penuh harapan dan dengan sukacita “memuji dan memuliakan Tuhan” (Luk 2:20). Anugerah Tuhan dalam pertemuan tersebut telah mempengaruhi mereka. Betapa luar biasanya kekuatan kasih Tuhan yang mendukung dan mendorong mereka untuk menjalani misi baru.

Kita merayakan Natal 2024 bersamaan dengan Indonesia yang menyongsong pemerintahan baru. Kita bersyukur bahwa proses demokrasi telah selesai. Kini saatnya untuk bersatu, menguatkan persaudaraan, dan bergerak bersama untuk memajukan tanah air kita. Semoga Indonesia dapat menjadi “Betlehem” baru, yaitu tempat lahir dan berkembangnya pemimpin yang berjiwa melayani, menjunjung hidup sederhana, dan mengutamakan kepentingan bangsa. Sebagai warga negara, kita mendukung dengan tetap bersikap kritis terhadap program-program pemerintah yang berusaha mewujudkan cita-cita kemerdekaan dan amanat UUD’45, yaitu kesejahteraan bersama yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila.

Komunitas Basis Gerejawi Sebagai Cara Baru Hidup Menggereja

Mgr Yohanes Harun Yuwono Uskup Keuskupan Agung Palembang melalui Surat gembala mengamanatkan pentingnya membentuk Komunitas Basis Gerejawi (KBG) sebagai cara baru hidup menggereja.Oleh karena itu, di Masa Adven tahun 2024 ini, sembari mempersiapkan diri menantikan kedatangan SangJuruselamat, kita juga diajak untuk memasuki Tahun Basis Gerejawi. KBG adalah komunitas di level keluarga atau lingkungan kecil. Anggota KBG berkumpul untuk berdoa, membaca Kitab Suci, berkatekese, dan berbagi problem-problem hidup manusiawi dan gerejawi. KBG merupakan persekutuan yang tidak eksklusif. Semangat kebersamaan, persaudaraan, dan kekeluargaan dihidupkan. Umat Allah terhindar dari keegoisan, perasaan terisolasi, atau tersingkir. Umat Allah tergerak oleh iman mereka kepada Yesus untuk bersekutu, berdoa bersama, dan belajar tentang Kitab Suci. Sehingga Komunitas Basis Gerejawi menjadi peziarahan gereja sepanjang masa

Pada adven, sebagai masa penantian kedatangan Yesus, memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaharui semangat hidup menggereja dalam KBG. Dalam komunitas basis kita diajak untuk menumbuhkan iman bersama-sama dengan bertekun dalam pengajaran Gereja dan merenungkan Sabda Tuhan melalui pendalaman iman, doa bersama, dan pendalaman Kitab Suci, menjadikan Ekaristi sebagai perayaan bersama komunitas dan sumber kekuatan rohani, menghidupkan kebersamaan dalam kasih dengan menghidupi kebersamaan yang nyata, mengatasi perbedaan, peduli dengan sesama anggota komunitas, dan menjadikan komunitas kita sebagai tempat berbagi. menjadikan komunitas sebagai rumah bersama dimana para anggota tidak hanya memperhatikan kebutuhan sendiri, tetapi juga membantu mereka yang membutuhkan, baik di antara anggota KBG maupun di luar komunitas kita. “Bertumbuh Menjadi Gereja yang Ceria” maksudnya adalah Gereja yang bersuka cita karena secara manusiawi maupun rohani kehadiran Tuhan Yesus di dunia, khususnya dalam keluarga kita, membawa kabar suka cita. Dia datang membawa damai sejahtera bagi kita. Maka kita sekeluarga dipanggil untuk ambil bagian dalam mewujudkan Gereja yang ceria tersebut.  Sekeluarga layak bersyukur atas kelahiran Sang Juru Selamat, Emanuel, Tuhan beserta kita,  yang tentu akan menyertai perjuangan kita dalam mewujudkan cita-cita bersama membentuk Komunitas Basis Gerejawi yang sehati-sejiwa.

Tahun Yubelium Pengampunan Tak Pernah Mengecewakan

Tahun Yubelium dalam tradisi Katolik adalah perayaan istimewa yang dilaksanakan setiap 25 tahun sekali sebagai bagian dari tradisi pengampunan dosa dan pembebasan. Tahun Yubelium diadakan pada tahun yang kelipatan 25, dimulai sejak tahun 1300 pada masa Paus Bonifasius VIII. Dalam perayaan ini, gereja memberikan kesempatan bagi umat untuk mendapatkan indulgensi (pengampunan dosa) sebagai bentuk rahmat dan kesempatan untuk pembaruan rohani. Tahun Yubelium yang akan datang adalah pada tahun 2025, yang menandakan 25 tahun sejak Tahun Yubelium yang terakhir yang diadakan pada tahun 2000 oleh Paus Yohanes Paulus II. Tahun ini akan menjadi momen khusus dalam Gereja Katolik, dan Paus Fransiskus diperkirakan akan mengumumkan tahun tersebut sebagai Tahun Yubelium yang akan datang, dengan tema dan inisiatif tertentu. Pada Tahun Yubelium, umat Katolik juga diundang untuk melakukan pertobatan, merayakan sakramen, dan menjalani proses spiritual yang mendalam. Salah satu aspek utama dari perayaan ini adalah membuka Pintu Suci di basilika-basilika utama, yang menjadi simbol pengampunan dan pembebasan dari dosa. Bapa Suci memberi judul “ Bulla “ menandai Yubileum 2025, Harapan Tak Mengecewakan. Ini terkait tiga keutamaan orang Kristen, yang disebut kesatuan “triptik”. Artinya, tidak ada Harapan, tanpa Iman dan Kasih. Tidak ada Iman tanpa Harapan dan Kasih. Tidak ada Kasih tanpa Iman dan Harapan (bdk. 1Kor. 13:13; 1Tes. 1:3). Latihan Rohani secara jelas melukiskan bahwa arti sukacita rohani adalah “peningkatan akan Iman, Harapan dan Kasih”. Pengampunan merupakan buah dari triptik tersebut. Iman, Harapan, dan Kasih, jika tanpa pengampuan, ketiganya menjadi tidak utuh dan timpang. Pengampunan merupakan ungkapan dan perwujudan akan Iman, Harapan, dan Kasih. Pengampunan tidak pernah akan mengecewakan. Tuhan Allah itu Mahamurah. Ia memberikan segala anugerah kepada kita bagaikan sinar cahaya turun dari matahari, atau bagikan air mengalir dari sumbernya. Pengalaman pengampunan penuh ini membuka hati dan pikiran kita terhadap perlunya memaafkan orang lain

Akhirnya, semoga di perayaan Natal 2024 ini, kita semua merasakan cinta Tuhan yang selalu menyertai kehidupan kita. Tuhan yang penuh kasih senantiasa menemani kita. Imanuel, Tuhan ada bersama kita. Tuhan takkan pernah membiarkan kita sendirian dalam keadaan apa pun (lihat Ibrani 13:5). Oleh sebab itu, marilah kita terus memuliakan Tuhan melalui tindakan baik kita untuk menciptakan kedamaian dalam keluarga, gereja, komunitas, dan negara, agar lebih dekat dengan Kristus dan menyebarkan kasih-Nya dalam keseharian kita. Mari kita bersama-sama menghadirkan terang Kristus ke dunia, memberikan harapan dan cinta bagi setiap jiwa yang kita temui! Selamat Natal 25 Desember 2024 dan Tahun Baru 1 Januari 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *